Malam yang Panjang

Semalam waktu terasa begitu lambat untuk berlalu, petang hari yang sangat lama karena sibuk begadang. Awalnya Aku begitu gelisah, ku coba keluar kamar dan masuk ke kamar kos temen, kamar nomor sekian. Kami ngobrol santai saja sambil ditemani suara televisi yang tak dihiraukan itu. Lalu Aku kembali bosan, sial. Aku kembali lagi ke kamar, di atas meja kulihat ada buku “Seni Novel” karangan Kundera. Ku ambil lalu ku baca.

Mata tak kunjung lelah juga tak ngantuk sedikitpun, akhirnya bosan kembali. Keparat. Malam yang sangat panjang ini, salah siapa, mengapa waktu juga terasa begitu lamban seperti sedang diakusisi oleh penyu yang terlalu lamban dan sering telat, salah siapa. Continue reading “Malam yang Panjang”

Gudeg dan Mesin Tik

Aku sebetulnya menjauhi makanan jenis manis, seperti gudeg. Namun semalam Mbaknya tiba-tiba dilanda lapar di jam agak larut dan memaksaku menemaninya makan. Jalan Kaliurang ke Jalan Kusumanegara itu tidak dekat, sekitar 8 kilo. Namun atas nama cinta (tsaaaaah) ku libas saja malam dan anginnya yang rentan.

Mbaknya lebih awal nawar untuk makan di Gudek Pawon, gudeg yang lebih berkelas namun nameless. Gudeg Pawon buka mulai pukul 22.00 tapi di jam 23.44 gudegnya suda habis. Cukup membuktikannya berkelas. Continue reading “Gudeg dan Mesin Tik”

Membaca Buku Adalah Kemewahan

Di suatu pagi pada hari minggu kipas angin dalam kamar kosku terasa lebih dingin dari sebelumnya dan Aku adalah tipe orang yang kalau tidur suka telanjang dada, dengan hanya celana pendek saja yang kukenakan ketika tidur. Dingin yang disebabkan oleh angin yang dibawa oleh kipasku tersebut membuatku terpaksa harus bangun meski mata terasa sangat susah untuk dibuka saat itu. Aku terpaksa bangun dong karena gak kuat menahan dingin tersebut. Selimut tipis andalan ku bentangkan langsung supaya menutupi tubuh yang kedinginan. Tidak lama ketika Aku mencoba untuk tidur kembali, sengaja ku cek henpon lalu teringat olehku ada janji untuk jalan bersama seorang perempuan. Continue reading “Membaca Buku Adalah Kemewahan”

Kembali Menulis, Dengan Cara Apa dan Bagaimana

Siang ini Aku membuka situs blog punyaku sendiri, ternyata sudah dua bulan lamanya Aku tidak menulis di blog. Dan ini kampret banget. Waktu yang terlalu lama untuk libur menulis, yang biasanya Aku menulis di setiap akhir pekan. Beberapa hal yang menjadi penghambatku menulis di blog: sibuk mengerjakan tesis, meluangkan waktu bertemu dengan teman-teman yang mana sebentar lagi kami akan betul-betul berpisah untuk waktu yang sangat panjang, membantu orang tua mengatur keuangan toko, dan hal-hal lainnya yang tidak begitu penting. Meski di sela-sela waktu sibuk Aku selalu berpikir, ayolah menulis blog lagi. Continue reading “Kembali Menulis, Dengan Cara Apa dan Bagaimana”

Mantan dan Jokes Jomblo

Truth or Dare, sebuah permainan “sepanjang masa” sedang berlangsung waktu itu, di malam Minggu. Aku dan sebelas teman-teman sedaerah pergi ke puncak bukit di salah satu kota Jogja, Bukit Bintang. Dengan backgroud lampu-lampu pijar perumahan, pertokoan, penerangan jalan, terlihat begitu elok dari kejauhan di atas bukit itu, mereka menyebutnya seperti bintang dan Aku menyebutnya ladang uang. Keindahan seperti itu mahal harganya, momen yang tepat untuk berkapitalisasi.

Permainan ini begitu menarik, pikirku. Setiap orang mempunyai kesempatan gratis untuk mencurahkan isi hati, membeberkan masalah, serta mencari rahasia setiap orang dengan paksaan absolut, kecuali jika ia berbohong. Sebuah mancis pemantik rokok yang diujung atasnya terdapat besi tempat batu api dijadikan sebagai jarum tunjuk, ke arah siapa pun jarum tunjuk itu mengarah setelah diputar, dialah yang berhak untuk ditanyai. Dialah pemain yang harus memilih jujur jika diberikan pertanyaan. Memilih jujur atau memilih tantangan, di bagian ini kami menghapus opsi tantangan, hanya kejujuran yang dimintai. Continue reading “Mantan dan Jokes Jomblo”

Tentang Demo Yang Bertalu-talu

Tentang demo yang bertalu-talu

Tentang sebuah aksi demonstrasi, Aku pernah melakoninya dari mulai aku menikmati hingga jenuh dengannya, pernah ku rasai. Pada akhir tahun 2010 dimulai hanya sebagai penonton demonstrasi yang banyak digelar oleh para aktivis di kampus, hingga pada awal tahun 2011 Akulah seorang kader dari salah satu organisasi mahasiswa di kampusku, yang kebetulan selalu akrab dengan aksi-aksi demo. Pada pertengahan tahun tersebut, aksi demo pertama yang ku tangani, menjadi kordinasi lapangan, memandu para aktivis untuk terjun menyuarakan protes. Saat itu ketika kebijakan Presiden SBY mengenai kenaikan harga BBM yang cukup menggelisahkan banyak masyarakat, Aku beserta para kader lainnya, hingga larut malam melakukan diskusi untuk membentuk sebuah tema aksi demo, segala hal dan keperluan kami siapkan semalaman suntuk demi terselenggaranya aksi, entah apa emang niat kami murni memberikan kritik kepada pemangku yang di atas atau hanya sekedar menunjukkan eksistensi kami sebagai kader, sangat sulit ku simpulkan. Continue reading “Tentang Demo Yang Bertalu-talu”

Yogyakarta.

Waktu serasa semakin cepat untuk berlalu, seperti menghitung jari dari satu hingga kini sudah tujuh, tujuh tahun berlalu di Kota Jogja. Maka sudah siapkah Aku mengakhiri kota ini.

Caraku berkenalan dengan kota ini juga begitu sangat sederhana, tanpa kesengajaan. Dengan tidak sengaja aku melabuhkan diri di kota ini, tentu bukan dengan ketidakinginan hanya saja tanpa ada rencana yang matang, orang Aku memilih Jogja hanya Karena there is no other choice maka jadilah Jogja sebagai sebuah pilihan, dulu Aku mempunyai angan untuk melanjutkan sekolah untuk bisa masuk di jurusan Hubungan Internasional or at least masuk di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Meski kemampuan bahasaku tidak begitu baik di Bahasa Inggris, namun pernah ada tekat yang besar dulunya. Dan Jogja telah melenyapkan mimpi tersebut, yang akhirnya membuatku masuk di arena yang sangat berbanding terbalik dengan yang awal, Aku masuk pada bidang dakwah kesosialan, jurunsan Pengebangan Masyarakat Islam di UIN Sunan Kalijaga. Dan itu berlanjut hingga kini, pada tahap pascasarjana, masih berkaitan dengan keilmuan sosial, masuk di jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan di UGM. Semua berkat Jogja. Semua karena Jogja. Continue reading “Yogyakarta.”