Membalas Surat Kartini

Kartini adalah penulis yang banyak memberikan pencerahan terhadap situasi di era kolonialisme bangsa ini, sehingga apa yang terjadi saat ini tidak sedikit adalah pencerahan dari tulisan-tulisan Kartini di masa Hidia-Belanda.

Pencerahan itu berupa kritik yang tajam mengenai praktik tanampaksa, yang didalangi oleh para penjajah dan campur tangan pribumi feodal, rakyat kita sendiri.

Tanampaksa merupakan praktik penghapusan nilai kemanusiaan, dengan membagi manusia menjadi manusia yang bekerja dan tidak bekerja. Yang dipaksa bekerja adalah rakyat nir-kekuatan dan status sosial, sedangkan yang tidak bekerja adalah para feodal, kelompok ningrat, dan pemegang kuasa—para penjajah. Continue reading “Membalas Surat Kartini”

Iklan

Ex-Digulist: Malam dan Satu Cerita Kesedihan

Istri baru saja pulang kerja, menghampiriku menyalami tangan dengan kecupan, “Dek, tolong ambilkan Abang buku merah di atas meja itu.” Lalu ia datang dengannya dan secangkir kopi.
“Sini duduk, Abang hendak bercerita tentang buku ini.” Bukannya duduk malah ia rebahkan kepalanya pada pahaku, Aku mengusap ubun-ubunnya dan membuka lembaran pertama buku.

Buku Cerita dari Digul yang disunting langsung oleh Pramoedya, sastrawan unggul sepanjang masa, kisah-kisah di dalamnya ini adalah kebenaran sejarah yang sangat rentan dilupakan. Cerita sejarah biasanya selalu unggul dengan kisah pahlawan dan perjuangan. Sedang kisah-kisah kesedihan dari korban sejarah dianaktirikan.

Digulist, Digulist adalah sebutan bagi orang-orang yang dibuang, disembunyikan, dilenyapkan tanpa memalui proses hukum yang benar. Iya, ini adalah kisah anak asli bangsa Indonesia. Para tahanan politik yang menjadi lawan kemapanan rezim, sebab beda haluan mereka diasingkan. Sekali lagi, diasingkan tanpa proses kemanusiaan, tanpa ketentuan hukum.
Kamp buangan ini bernama Digul, terletak di Papua Barat sana. Jauh dan sangat jauh dari peradaban Jawa, Jawa sebagai tanah populer di masanya, orang-orang hebat banyak berdiri di sini dan Jawa menjadi istana kejahatan penjajah. Maka tidak heran betul jika mau mempelajari sejarah Bangsa ini mulailah dari tanah Jawa, atau mulai dari runtuhnya Diponegoro perang terbesar yang pernah ada di Indonesia. Continue reading “Ex-Digulist: Malam dan Satu Cerita Kesedihan”

Membela Buku-Buku

Katanya buku itu mulia, tapi begitu sulit untuk dibela. Sesulit membela burung-burung dari pemburu. Ketika orang sudah melupakan buku, maka sejujurnya kita telah melupakan “diri”. Bukankah sejarah yang menjadikan kita hidup, sedang sejarah itu ditulis dalam buku.

Katanya buku itu baik, tapi begitu banyak orang tidak baik sangka padanya. Seperti yang asing, orang-orang membelakangi. Padahal jika mau berteman dengannya, kamu akan menjadi serba tahu apa-apa. Maka hanya orang yang banyak tahu yang sudah berteman dengan buku.

Katanya lagi, buku-buku hanya tumpukan yang akan usang. Coba tengok pada buku-buku yang menjejer di rak perpustakaan kota, beberapa buku di 5 tahun lalu diletakkan di sudut rak dan tak tersentuh mungkin sampai 5 tahun berikutnya lagi. Sulit rupanya peduli sama semua buku-buku.

Satu kelompok mahasiswa mengunjungi perpustakaan kota, duduk melingkari meja di antara rak-rak buku. Memilih beberapa buku untuk referensi tugas dari dosen, membukanya dimulai dari halaman tengah yang sesuai dengan kebutuhan tugas. Membaca hanya untuk tugas belum lagi untuk mencitai buku. Karena jika tak ada tugas, tak ada buku-buku.

Begitulah rupa-rupa nasib buku zaman sekarang. Belum lagi perihal minat baca, dan itu sudah menjadi rahasia umum bahwa minta baca sama nasibnya dengan buku-buku. Keduanya amat terlupakan. Keduanya sangat sulit untuk dibela.

Suatu pagi Aku menyirami pepohonan dan tanaman di halaman rumahku, melalui angin ia menyampaikan kata bahwa buku-buku adalah anaknya. Maka jika kamu tidak bisa membela buku-buku setidaknya rawatlah alam dan pohon-pohon. Dari dia lahirlah buku-buku. Dan dia yang lebih awal diciptakan sebelum manusia.

Jika memang tidak sempat membela buku-buku, tidak sempat membela manusia-manusia, maka belalah alam. Hidup haruslah bermanfaat.

Sibuk Oleh Toko, Sibuk Oleh Pemuda

Saat mulai duduk di persinggahan kursi kasir toko, saban hari ruas jalan itu tidak luput dari perhatianku. Jalan Lingkar Selatan milik Pulau Lombok, begitu mereka menamainya. Banyak hal yang berubah, juga tidak sedikit yang diam tidak kemana-mana, toko di sudut sana setelah bertahun-tahun masih sama rupa dan kesan, tapi toko milik Haji Mahyudin itu baru, belum lama ini ia memulai aktivitas jual-jualnya. Hilir-mudik kendaraan sama saja: variatif, ia berubah, bergerak tapi tetap sama saja bagiku. Papuq penjual rujak yang setiap pagi mengayuh sepeda-rombong rujak buahnya itu juga tidak berubah, pukul 9 teng! Ia pasti lewat dan tetap terjebak dalam perhatianku, tapi pedagang kambing di ujung timur seberang jalan sana, ia baru, dan tidak lama ia malah menghilang. Continue reading “Sibuk Oleh Toko, Sibuk Oleh Pemuda”

Malam yang Panjang

Semalam waktu terasa begitu lambat untuk berlalu, petang hari yang sangat lama karena sibuk begadang. Awalnya Aku begitu gelisah, ku coba keluar kamar dan masuk ke kamar kos temen, kamar nomor sekian. Kami ngobrol santai saja sambil ditemani suara televisi yang tak dihiraukan itu. Lalu Aku kembali bosan, sial. Aku kembali lagi ke kamar, di atas meja kulihat ada buku “Seni Novel” karangan Kundera. Ku ambil lalu ku baca.

Mata tak kunjung lelah juga tak ngantuk sedikitpun, akhirnya bosan kembali. Keparat. Malam yang sangat panjang ini, salah siapa, mengapa waktu juga terasa begitu lamban seperti sedang diakusisi oleh penyu yang terlalu lamban dan sering telat, salah siapa. Continue reading “Malam yang Panjang”

Gudeg dan Mesin Tik

Aku sebetulnya menjauhi makanan jenis manis, seperti gudeg. Namun semalam Mbaknya tiba-tiba dilanda lapar di jam agak larut dan memaksaku menemaninya makan. Jalan Kaliurang ke Jalan Kusumanegara itu tidak dekat, sekitar 8 kilo. Namun atas nama cinta (tsaaaaah) ku libas saja malam dan anginnya yang rentan.

Mbaknya lebih awal nawar untuk makan di Gudek Pawon, gudeg yang lebih berkelas namun nameless. Gudeg Pawon buka mulai pukul 22.00 tapi di jam 23.44 gudegnya suda habis. Cukup membuktikannya berkelas. Continue reading “Gudeg dan Mesin Tik”