PEREMPUAN

Harusnya Lara menangis kali ini, dengan begitu kerasnya pukulan yang diterima oleh hatinya. Orang-orang yang mulai merendahkan perilakunya, menuntut bagaimana harusnya perempuan beradab, berlaku, dan bersosial.

Perempuan yang harusnya membungkuk, mendahulukan laki-laki, berada satu baris di bawah laki-laki.

Perangai Lara di tengah pergaulan orang-orang sering mengundang kritik. Lara yang suka bermain layang-layang, Lara yang bercelana pendek, Lara yang bermain mok yan jong.

Lara memang tidak suka menggoreng ayam, ia lebih suka menghajar laki-laki yang menggoda perempuan di tepi jembatan. Paling ringan ia akan menunjuk laki-laki itu dengan mata melotot. “Jangan kurang ajar ya! Sekali kau merendahkan kami, sila tantang saja kami berkelahi.”

Setiap kali Lara bertemu dengan laki-laki penggoda, selanjutnya ia akan berkelahi dengannya. Meski Lara selalu kalah dan pulang dengan memar di sekitar tubuh.

“Kamu tidak akan menang berkelahi dengan laki-laki, Lara.” Selalu begitu pesan ayahnya.

“Perempuan meninggi bukan untuk merendahkan laki-laki lalu mengalahkannya, ayah. Tapi untuk bertahan dan memperjuangkan hidup” jawab Lara.

“Kita hidup dimana laki-laki lebih tinggi dari perempuan, anakku. Dan itu sudah cukup baik.” Sambung ayahnya.

Lara melempar protes, “Sebaik-baik patriarki adalah patriarki yang punah, ayah.”

________________________________

Sebetulnya cerpen ini sudah lama ku tulis di akun Instagramku. Cuma biar blog gak sepi-sepi amat dari postingan, tak apalah cerpen ini ku tuang di sini.

Cerpen ini dulunya adalah tantangan buat istriku, kami saling mengajak untuk menulis cerpen di Instagram, sehari satu cerpen.

Hats off.

Iklan

Pohon dan Imajinasi

Sore itu kawanan semut hitam baris-berbaris memanjat. Rupanya ia mau mengubur salah satu pohonku. Selamatkan aku, mungkin pekik pohon itu ketika Aku yang baru saja mau keluar rumah namun langsung mengurungkan niat, untuk segera ambil sikap.

Ia adalah pohon manggisku yang paling rewel dibandingkan pohon lainnya. Tumbuh-kembangnya yang lambat, juga produksi sampahnya yang paling besar diantara kawanannya. Cukup rewel bagiku.

Perawakannya kecil, lebih kecil dari lenganku. Dulu ia tak sehijau ini, hampir layu dan mati. Bahkan Aku sempat acuh, hampir menyerah untuk membantunya tumbuh.

Dua tahun silam, Aku beli pohon ini di dagang jalanan. Dua buah pohon manggis, besar dan bobotnya sama. Tapi yang satu ini lebih lambat, hingga pasangannya jauh melampui kesuburannya. Padahal Aku, di masa perawatan pohon-pohon itu tak pernah pilih kasih.

Semenjak ia betul-betul terlihat sekarat, Aku mulai berupaya untuk merawatnya dengan serius. Ranting-rantingnya yang mulai rapuh ku tebang sampai setinggi pinggang. Entah mengapa Aku berpikir, jangan-jangan nutrisi dari akarnya terhambat oleh ranting yang mati.

Hampir saban hari, setiap waktu subuh dan menjelang magrib ku siramin ia.

Dua bulan berjalan, daun-daun baru mulai tumbuh diujung, segar dan membahagiakan.
Terhadap pohon pun kita tak boleh berburuk sangka, ini yang ku pelajari. Orang-orang terhadap yang lainnya jika berburuk sangka, maka diperolehnya adalah hasil pikirannya. Buruk pikirannya, buruk yang didapatnya.

Percayalah, Aku bersama pohon-pohonku sering berbicara. Bicara yang tidak sama dengan berbicara ke manusia, lebih mirip dengan dari hati ke hati. Ini dia imajinasi yang Aku bangun sendiri dengan alam. Tadabbur dengan pohon (alam) itu sangat penting. Ada tauhid di situ, ada ahlaqul karimah, ada ibadah, dan masih banyak lagi ayat-ayat Allah.

Bisakah manusia adil di dunia ini tanpa melibatkan alam. Inilah sebabnya mengapa alam selalu dilabel dengan hal negatif—bencana. Disebut oleh banyak orang sebagai bencana alam, jangan-jangan sebetulnya itu adalah bencana mamusia.

Sebab alam jika kita posisikan di dalam perenungan sanubari, betapa ia mungkin saja satu-satunya ciptaan yang paling sedikit menuntut. Lebih sering diam, tapi banyak memberi. Hanya saja kita jarang ada waktu duduk bersama dengan alam dan berkomunikasi. Dari hati ke hati.

Sore tadi ia menyapa, ia berterima kasih padaku. Ia menjanjikan Aku buahnya, sebagai balas kasih. Sejenak Aku terdiam, lalu perlahan simpul senyum yang kecil tampil di wajahku. Seandainya banyak manusia yang berpikir bahwa betapa adilnya alam ini terhadap diri manusia. Lalu mengapa kita sukar untuk adil terhadapnya. []

Membalas Surat Kartini

Kartini adalah penulis yang banyak memberikan pencerahan terhadap situasi di era kolonialisme bangsa ini, sehingga apa yang terjadi saat ini tidak sedikit adalah pencerahan dari tulisan-tulisan Kartini di masa Hidia-Belanda.

Pencerahan itu berupa kritik yang tajam mengenai praktik tanampaksa, yang didalangi oleh para penjajah dan campur tangan pribumi feodal, rakyat kita sendiri.

Tanampaksa merupakan praktik penghapusan nilai kemanusiaan, dengan membagi manusia menjadi manusia yang bekerja dan tidak bekerja. Yang dipaksa bekerja adalah rakyat nir-kekuatan dan status sosial, sedangkan yang tidak bekerja adalah para feodal, kelompok ningrat, dan pemegang kuasa—para penjajah. Continue reading “Membalas Surat Kartini”

Ex-Digulist: Malam dan Satu Cerita Kesedihan

Istri baru saja pulang kerja, menghampiriku menyalami tangan dengan kecupan, “Dek, tolong ambilkan Abang buku merah di atas meja itu.” Lalu ia datang dengannya dan secangkir kopi.
“Sini duduk, Abang hendak bercerita tentang buku ini.” Bukannya duduk malah ia rebahkan kepalanya pada pahaku, Aku mengusap ubun-ubunnya dan membuka lembaran pertama buku.

Buku Cerita dari Digul yang disunting langsung oleh Pramoedya, sastrawan unggul sepanjang masa, kisah-kisah di dalamnya ini adalah kebenaran sejarah yang sangat rentan dilupakan. Cerita sejarah biasanya selalu unggul dengan kisah pahlawan dan perjuangan. Sedang kisah-kisah kesedihan dari korban sejarah dianaktirikan.

Digulist, Digulist adalah sebutan bagi orang-orang yang dibuang, disembunyikan, dilenyapkan tanpa memalui proses hukum yang benar. Iya, ini adalah kisah anak asli bangsa Indonesia. Para tahanan politik yang menjadi lawan kemapanan rezim, sebab beda haluan mereka diasingkan. Sekali lagi, diasingkan tanpa proses kemanusiaan, tanpa ketentuan hukum.
Kamp buangan ini bernama Digul, terletak di Papua Barat sana. Jauh dan sangat jauh dari peradaban Jawa, Jawa sebagai tanah populer di masanya, orang-orang hebat banyak berdiri di sini dan Jawa menjadi istana kejahatan penjajah. Maka tidak heran betul jika mau mempelajari sejarah Bangsa ini mulailah dari tanah Jawa, atau mulai dari runtuhnya Diponegoro perang terbesar yang pernah ada di Indonesia. Continue reading “Ex-Digulist: Malam dan Satu Cerita Kesedihan”

Membela Buku-Buku

Katanya buku itu mulia, tapi begitu sulit untuk dibela. Sesulit membela burung-burung dari pemburu. Ketika orang sudah melupakan buku, maka sejujurnya kita telah melupakan “diri”. Bukankah sejarah yang menjadikan kita hidup, sedang sejarah itu ditulis dalam buku.

Katanya buku itu baik, tapi begitu banyak orang tidak baik sangka padanya. Seperti yang asing, orang-orang membelakangi. Padahal jika mau berteman dengannya, kamu akan menjadi serba tahu apa-apa. Maka hanya orang yang banyak tahu yang sudah berteman dengan buku.

Katanya lagi, buku-buku hanya tumpukan yang akan usang. Coba tengok pada buku-buku yang menjejer di rak perpustakaan kota, beberapa buku di 5 tahun lalu diletakkan di sudut rak dan tak tersentuh mungkin sampai 5 tahun berikutnya lagi. Sulit rupanya peduli sama semua buku-buku.

Satu kelompok mahasiswa mengunjungi perpustakaan kota, duduk melingkari meja di antara rak-rak buku. Memilih beberapa buku untuk referensi tugas dari dosen, membukanya dimulai dari halaman tengah yang sesuai dengan kebutuhan tugas. Membaca hanya untuk tugas belum lagi untuk mencitai buku. Karena jika tak ada tugas, tak ada buku-buku.

Begitulah rupa-rupa nasib buku zaman sekarang. Belum lagi perihal minat baca, dan itu sudah menjadi rahasia umum bahwa minta baca sama nasibnya dengan buku-buku. Keduanya amat terlupakan. Keduanya sangat sulit untuk dibela.

Suatu pagi Aku menyirami pepohonan dan tanaman di halaman rumahku, melalui angin ia menyampaikan kata bahwa buku-buku adalah anaknya. Maka jika kamu tidak bisa membela buku-buku setidaknya rawatlah alam dan pohon-pohon. Dari dia lahirlah buku-buku. Dan dia yang lebih awal diciptakan sebelum manusia.

Jika memang tidak sempat membela buku-buku, tidak sempat membela manusia-manusia, maka belalah alam. Hidup haruslah bermanfaat.

Sibuk Oleh Toko, Sibuk Oleh Pemuda

Saat mulai duduk di persinggahan kursi kasir toko, saban hari ruas jalan itu tidak luput dari perhatianku. Jalan Lingkar Selatan milik Pulau Lombok, begitu mereka menamainya. Banyak hal yang berubah, juga tidak sedikit yang diam tidak kemana-mana, toko di sudut sana setelah bertahun-tahun masih sama rupa dan kesan, tapi toko milik Haji Mahyudin itu baru, belum lama ini ia memulai aktivitas jual-jualnya. Hilir-mudik kendaraan sama saja: variatif, ia berubah, bergerak tapi tetap sama saja bagiku. Papuq penjual rujak yang setiap pagi mengayuh sepeda-rombong rujak buahnya itu juga tidak berubah, pukul 9 teng! Ia pasti lewat dan tetap terjebak dalam perhatianku, tapi pedagang kambing di ujung timur seberang jalan sana, ia baru, dan tidak lama ia malah menghilang. Continue reading “Sibuk Oleh Toko, Sibuk Oleh Pemuda”