ADA APA DI BALIK “PROSTITUSI ONLINE”?

Prostitusi online merupakan pasar penyedia jasa esek-esek yang ahir-ahir ini mengambil perhatian banyak masayrakat Indonesia, setelah kasus meninggalnya Deudeuh salah satu korban serta penyedia jasa esek-esek melalui online ini seakan-akan memalingkan perhatian kita karena tragedi yang bisa saya katakana “unik” karena biasanya pembunuhan terjadi kalau tidak karena dendam tersendiri atau kepentingan pihak tertentu yang membunuh tetapi yang terjadi pada korban yang dikenal dengan Chubby atau Deudeh ini sangat jarang kita temukan sebelum terjadinya kasus pembunuhan si Chubby ini. Si Chuby dibunuh langsung oleh pelangganya sendiri konon katanya karena sang korban dilecehkan dengan sebutan “badanmu bau” dan korban tersinggung dengan perkataan tersebut sehingga harus mengambil nyawa korban. Tapi sebenarnya ada apa di balik maraknya fenomena “prostitusi online” ini?

Ada sebab pasti ada akibat, sepertinya kata-kata ini cocok untuk kita interpretasikan dalam prostitusi online. Kenapa? Ini (prostitusi online) merupakan akibat dari dibatasinya wilayah-wilayah kerja para pekerja seksual atau dihilangkanya industri-industri penghasil pekerja seksual, contohnya saja sebelum dolly diratakan oleh pemerintah artinya di sini dinon-aktifkan olem pemerintah Surabaya, kita jarang sekali atau bahkan tidak mengenal istilah prostitusi online atau yang ahir-ahir ini terjadi area prostitusi saritem yang berada di Bandung akan diubah menjadi pasar perhiasan. Selain dari diubahnya fungsi dari wilayah lokalisasi peran media juga ikut andil dalam membesar-besarkan fenomena “prostitusi online” ini, media sangat mempengaruhi pasar begitu pula pasar prostitusi dari yang tidak mengetahui jadi mengetahui, maka bisa saja terjadi dari yang tidak berniat jadi berniat untuk melakukan transaksi prostitusi online, sehingga tidak heran bila para oknum tersebut memanfaatkan medsos untuk mempasarkan jasa-jasanya untuk menyediakan para pekerja seksual yang dihilangkan fungsinya oleh para pemerintah.

Dinamika sosial pun butuh keseimbangan bukan hanya hukum yang harus seimbang. Fenomena esek-esek sebenarnya jangan dihilangkan tapi butuh kontrol dari pemerintah sehingga tidak menimbulkan patologi sosial baru. Sehingga saya pun mengatakan setiap orang ada yang baik dan ada yang tidak baik itu semua kembali pada individu masing-masing sehingga pemerintah harusnya lebih memperhatikan equilibrium sosial.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s