KEMISKINAN, BAH!

Terlalu sering kita mendengar tentang kemiskinan, rasanya seperti tidak pernah habis pembahasan ini, solusi demi solusi saran demi saran atau bahkan teori seperti rintik air hujan sudah membahas masalah kemiskinan. Anehnya satupun dari semua alasan di atas belum tepat untuk membuat kita berhenti membicarakan kemiskinan, apa mungkin kemiskinan ini seperti organisme dalam kebudayaan masyarakat sehingga dengan adanya kemiskinan bisa membuat satu mekanisme kebudayaan masyarakat menjadi lengkap. Pernakah kita berfikir jika tidak ada kemiskinan dan yang ada hanya para pemilik alat-alat produksi atau hanya para tuan tanah, mungkin saja bumi ini tidak berbentuk bulat lagi.

Semasa kecil saya melihat orang miskin adalah mereka yang tidak mempunyai mainan yang sama dengan mainan kami anak-anak secara umum. Anak-anak yang bermain tamiya otomatis bermain dengan anak-anak yang memiliki tamiya, sedangkan mereka yang miskin itu bermain layang-layang kepanasan, kumuh, lari-lari ke sawah, kotor dan sangat melelahkan. Kata anak tersebut mainan kami beda kelas kamipun beda. Anak-anak semasa kecilnya dikotomi dari model mainannya, kami bermain teknologi kamu main bambu runcing. Ada yang modern ada yang tradisional lantas apakah yang modern itu kaya dan yang tradisional itu miskin, hal ini yang sangat realistis yang dirasakan oleh masyarakat kontemporer. Carilah pekerjaan di kota di sana itu modern jangan di sini (desa) kami semua orang miskin.

Sepertinya kemiskinan sudah sangat akut sekali semua masyarakat menghindarinya seolah-olah seperti penyakit atau virus yang ditakuti akan menyebar, kemudian akan ada pertanyaan lagi kemiskinan itu apa, mengapa manusia takut miskin dan anaknya tidak punya minan tamiya yang modern itu, lantas apakah kemiskinan itu adalah tidak mempunyai mainan modern, tidak punya modal, atau materi. Kemiskinan bah.

Lalu saya menanyai beberapa narasumber dari kelas yang berbeda seperti PNS, pedagang, dan beberapa mahasiswa tentang pandanganya mengenai kemiskinan. Pegawai negeri sipil itu menjawab kemiskinan adalah orang yang kebutuhan sekunder dan tersiernya terhambati sehingga kebutuhan primernya susah untuk dipenuhi. Menurut pandangan ini bahwa kemiskinan masih berada pada level materi karena tujuanya adalah terpenuhi kebutuhan primer. Begitu pula yang dikatakan oleh pedagang nasi sayur ini bahwa kemiskinan adalah tidak terpenuhinya kebutuhan pokok. Rasa-rasanya saya fikir manusia terlalu naïf sehingga yang ada di benaknya adalah materi selalu horizontal dengan kebahagiaan.

Dua orang mahasiswa memberikan pandangannya mengenai keniskinan bahwa kemiskinan adalah orang miskin adalah orang yang tidak mempunyai pekerjaan dan orang miskin adalah oaring yang tidak mempunyai kesempatan dan kurang pendidikan. Yang disampaikanya adalah jenis dari kemiskinan struktural jadi penghambat kemiskinan tidak selalu hanya sebatas materi tapi ada yang rusak dari strukturalnya sehingga menghambat proses masyarakat untuk keluar dari kemiskinan.

Lalu saya berpendapat lain bahwa kemiskinan itu adalah miskin ide, miskin inovasi dan miskin pola piker. Tuhan memberikan kita akal dan fikiran sejatinya digunakan untuk dapat berkembang, mungkin pendidikan sedikit memberikan pengaruh atau budaya juga sedikit memberikan pengaruh serta lingkungany juga sedikit memberikan pengaruh. Akan tetapi akal dan fikiran akan selalu memberikan ide dan inovasi untuk berubah. Masyarakat boleh saja miskin tapi ia kaya akan ide, boleh saja tidak punya tamiya tapi ia harus memberikan pengaruh dan berkembang. Modern dan tradisional bukanlah ukuran akan tetapi fikiranlah yang sejak dini kita ubah dan banting stir jika kita tersesat di dalamnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s