Perilaku Epigonis Masyarakat

Siapa sih yang pada masa kecilnya tidak mempunyai cita-cita. cita-cita itu tertanam sejak masa kecil, seorang anak ketika ditanyai “lee cita-citamu apa?” sepontan anak yang masih polos itu menjawab “dokter…dokter” anak-anak yang lain pun menjawab “pilot..pilot polisi…polisi”. saya teringat ketika masa orientasi di sebuah pondok pesantren saat itu kami sedang dikumpulkan di salah satu ruangan dan disuruh untuk memperkenalkan diri masing-masing, dari nama kemudian tanggal lahir sampai dengan cita-cita yang kami sudah tanamkan sejak kecil, entah ide dari cita-cita tersebut datangnya dari siapa oleh siapa atau mungkin itu memang harapan yang didambakan. satu persatu para santri maju dan meperkenalkan diri, nama saya si fulan dan saya mempunyai cita-cita menjadi doktor, kemudian santri yang berikutnya, nama saya si fulan dan cita-cita saya menjadi guru. beragam kategori cita-cita para santri tersebut sebagian besar adalah menjadi dokter polisi guru pilot ada juga yang pengen menjadi ustadz karena ia sadar bahwa lingkunganya bisa mengarahkanya menjadi ustadz. kemudian pada giliranya si zam-zam saat memperkenalkan diri, nama saya Zam-zam cita-cita saya adalah menjadi orang baik dan berguna bagi desa saya. saya pun terngiang ada apa gerangan kenapa si zam-zam ini beda dari kami santri lainya yang mempunyai cita-cita jadi dokter, jadi polisi, guru dan ustadz. sepintas kami merasa bahwa ini aneh, apa yang mempengaruhinya, kemudian apa sebenarnya yang ia maksud dengan menjadi orang baik dan berguna bagi desanya tersebut. lalu apakah menjadi dokter adalah orang jahat dan tidak berguna bagi desa maupun bangsa.

ini merupakan sebuah budaya di masa kanak-kanak dan tidak tabu ketika seorang anak kecil mempunyai cita-cita menjadi dokter, polisi, ataupun guru. dari mana datangnya pemikiran tersebut lantas apakah anak kecil tersebut dengan yakin untuk mengucapkan cita-citanya, lalu kenapa si zam-zam bisa beda dari anak yang lainya. seorang ibu di sore hari ketika sedang memandikan anaknya “lee besok kalau kamu sudah besar kamu akan jadi dokter”. perilaku meniru masyarakat ternyata sudah tertanam sejak kecil, anak kecilpun diajarkan untuk menjadi sang follower, kemana-manapun saat ditanya pasti kan menjawab cita-cita saya menjadi dokter, mungkin ini bagus ketika bisa dijadikan motivasi saat dia sudah dewasa ketika ditanya cita-cita, dia pasti kan menjawab jadi dokter dan ahirnya dia bener menjadi sang dokter.

 

Anak-Anakmu bukanlah Anak-Anakmu

Mereka adalah putra putri kehidupan

Kau bisa berikan kasih sayangmu

tapi tidak fikiranmu

 

demikian Kahlil Gibran, penyair asal Libanon tersebut. Jangan biasakan menjadi follower, cobalah jadi si zam-zam ini mungkin di fikiranya menjadi orang baik dan berguna bagi desanya sudah mewakilinya untuk menjadi dokter, polisi, atau pun guru. Norma-norma serta nilai yang ada di masyarakat jangan ditanamlan sifat epigonis karena kan berdampak besar di masa yang akan datang, apakah kita (masyarakat) hanya kan menjadi follower padahal sudah jelas di setiap diri masyarakat ada hak-hak tertentu yang tidak setiap pemikiran orang lain harus diserap tanpa ada kritik.

****

seorang pemuda sedang asik menonton tayangan sinetron “tersayang” dengan topi fenomenalnya, suatu hari ketika ia sedang berada di sebuah mall dan kebetulan sedang memakai topi, walaupun topi tersebut bukan topi fenomenalnya sinetron “tersayang” ia membayangkan dirinya melempar topi biasanya yang sama sekali bukan seperti topi fenomenal sinetron tersebut, ia membayangkan persis seperti adegan si dion dalam sinetron yang kemudian melempar topinya dan jatuh tepat di atas kepala wanita dengan posisi topi tersebut benar-benar pas. Akan tetapi apakah sempurna lemparan sang pemuda ini seperti lemparan topi fenomenalnya si Dion, bagaimana kalau salah sasaran dan pemuda ini digebuki banyak masa dia akan lari terberit-berit atau mungkin saja ia akan bercerita bahwa saya mau seperti Dion dengan topi fenomenalnya.

Media mempunyai peran penting dalam mempengaruhi masyarakat, karena tingkat konsumsi media masyarakat di desa sangat tinggi terutama bagi para pengangguran yang kegiatan sehari-harinya hanya menonton televisi. lagi-lagi pemuda ini menjadi follower. Padahal itu bukan dirinya lalu mengapa repot-repot menjadi si Dion.

Apakah manusia itu adalah peniru? peniru dari empirismenya, peniru dari imanya, peniru dunia. sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainya, sebuah qoul dari kanjeng Nabi Muhammad S.A.W. Nabi umat islam pun menyerukan umatnya untuk menebar manfaat-manaat postif sehingga bisa mempengaruhi manusia lainya, barangkali ini mungkin yang dimaksud dengan follower sejati, follower yang sebenarnya. atau mungkin ini yang mau disampaikan oleh si zam-zam yang cita-citanya menjadi orang baik dan berguna bagi desanya.

Ini adalah cerminan masyarakat saat ini, banyak masyarakat yang tidak menjadi masyarakat follower sejati. ia kan lebih nyaman untuk meniru padahal ia dengan yang ditirunya memang berbeda, beda ibu, beda budaya, beda cara dilahirkan atau beda perilaku ekonominya. Yang penting saya menjadi dia.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s