Terimakasih 2015…

Setiap manusia pasti mempunyai rencana dalam hidup, tidak lepas dengan diriku begitu pula aku selalu mempunyai rencana dalam hidup. Terasa cepat 2015 telah berlalu untuk menjadi saksi bisu kisah-kisah hidupku dan semua perjuangan yang telah ku lewati selama satu tahun itu. Tidak ada memang kata sia-sia karena kesia-siaan tak termanifestasikan dalam hidup. Beberapa rencana memang sudah terealisasikan di tahun 2015 dan tidak sedikit pula tetapi banyak yang belum aku raih di tahun tersebut. Bodohnya aku menyesali tahun itu berlalu begitu saja. Tidak perlu disesali karena penyesalan merupakan kesia-siaan dalam hidup.
Dewi Bantul itu sering menegurku demikian “kerjakan sekarang atau tidak sama sekali” hati ini terketuk sangat dalam tapi tindakan ku belum juga dapat ketukan untuk segera membenahi kebiasaan. Terlalu lemah memang diri ini untuk merubah kebiasaan.

Pada 1 Januari 2016, hari ini. Aku tidak menafikan diri dan betul-betul sadar bahwa umur seharusnya sudah menuntut untuk diperlakukan dengan pemikiran-pemikiran dewasa, 25 tahun bukan lagi umur bagi anak-anak yang mencari kebahagiaanya dengan tertawa-tertawa bodoh melihat dunia. Menjadi dewasa tidak pernah terbayangkan dalam fikiranku, seperti apa sebenarnya “dewasa” tersebut, saat ini aku melihat dunia sepengetahuanku hanyalah ladang tempat bermain. Bermainya orang jahat dan orang yang tidak tahu apa-apa. Orang jahat yang merusak tatanan hidup sosial masyarakat dan orang yang tidak tahu apa-apa itu masyarakat yang apatis terhadap realita global. Entah diriku ada di posisi mana.

Malam tahun baru, semalam aku menyaksikan dari jauh bagaimana manusia bereforia menyambut tahun yang baru ini dengan menunjukan pada langit percikan-percikan cahaya buatan manusia itu dengan suara ledakan-ledakan yang mampu membuat manusianya sendiri terheran-heran dengan keindahan buah ciptaan fikiranya. Semoga kita juga tidak lupa bersyukur. Aku dan beberapa temanku di kos-kosan merayakan tahun baru dengan sesuatu yang berbeda, aku dengan inisiatif pribadi mengundang teman-teman yang tidak ada kesibukan di malam tahun baru untuk mengadakan acara bakar-bakaran sebagai ritual rasa syukurku akan bertambahnya usia, setiap manusia memilih caranya bersyukur, maka aku memilih untuk menguatkan jiwa sosial dengan berbagi beberapa potong makanan dengan teman-teman kos. Iya kami menikmati acara yang kami buat tersebut.

Semua acara berjalan lancar, selepas makan-makan tiba-tiba saja terjadi diskusi yang entah apa motifnya, terjadi begitu saja. Kami mulai dengan membahas negara kita Indonesia, sedikit kami membuka obrolan dengan “luka lama” yang dimiliki oleh republik ini, komunis, PKI, G30S/PKI, Soeharto, dan demonstrai para aktivis mahasiswa trisakti. Sebagai refleksi bahwa menurut teman-teman sampai saat ini sebenarnya hak kita masih dilanggar tapi dengan cara yang tak terlihat kasat mata. Kapitalisme.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s