Benarkah LGBT Sebagai Masalah Sosial?

Maraknya pemberitaan tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) akhir-akhir ini menuai banyak pertentangan baik dari masyarakat mupun para ahli, beberapa kelompok mengklasifikasikan bahwa LGBT merupakan masalah sosial, bahkan beberapa kelompok juga berpendapat bahwa LGBT merupakan sebuah penyakit yang menular meskipun banyak juga yang menentang hal tersebut, sehingga masalah ini menjadi paradoksal atau bertentangan. Sejatinya masalah sosial di negara manapun akan selalu bersifat paradoks karena sudut pandang yang digunakan sering kali berbeda.

Dalam menyikapi sebuah fenomena sosial dibutuhkan sebuah ilmu pengetahuan yang dianggap cocok untuk melakukan treatment (pengobatan) terhadap fenomena tersebut. Misalnya saja dalam hal fenomena LGBT khususnya di Indonesia, langkah apa yang digunakan dalam menganalisis masalah tersebut harusnya berlandaskan pada empirisme atau pengalaman ilmu pengetahuan yang ada. Pada kesempatan kali ini penulis akan memaparkan tiga sudut pandang yang akan digunakan dalam menganalisis masalah sosial mengenai LGBT yaitu sudut pandang kuantitatif, kualitatif, dan ideologi.

Kuantitatif

Pada sudut pandang kuantitatif masalah sosial dianggap sebagai sebuah perilaku yang dapat mengganggu banyak orang sehingga perilaku tersebut dianggap menyimpang dari perilaku-perilaku kebanyakan masyarakat. Metode ini sebenarnya berbicara mengenai angka atau jumlah, seberapa menyimpangkah perilaku yang dianggap salah oleh manusia diukur dari seberapa jumlah manusia pada umumnya menganggap itu adalah masalah, baik dalam tatanan mezzo (kelompok atau masyarakat) sampai pada mikro (negara). Ketetepan ini biasanya bersifat dadakan, artinya bahwa sebuah perilaku yang biasanya sudah diterima dari awal lalu kemudian jika muncul sebuah perilaku baru dan bertentangan dengan perilaku yang sudah diterima sebelumnya maka perilaku baru yang tidak dapat diterima keberadaanya ini akan dianggap sebagai masalah.

Pengalaman negara-negara anggota GCC (Gulf Coorporation Council) atau sering disebut dengan negara yang berada di kawasan Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, Arab Saudi,  dan Uni Emirat Arab dalam memberikan sikapnya terhadap fenomena LGBT merupakan contoh dari analisis masalah sosial dari sudut pandang kuantitatif. Artinya bahwa kesepakatan tentang legitimasi yang dicanangkan oleh negara anggota GCC tentang melarang keras adanya LGBT untuk eksis di negara tersebut telah menjadi kesepakatan bersama bahwa LGBT merupakan masalah sosial yang tak terelakan keberadaannya. Ketika banyak suara yang mendukung bahwa LGBT merupakan masalah sosial, maka secara tidak langsung peraturan tersebut telah disepakati bersama bahwa LGBT merupakan masalah sosial.

Kualitatif

Sangat paradoks dengan istilah sebelumnya yaitu kuantitatif. Kualitatif berbeda lagi dalam memberikan sudut pandang tentang masalah sosial, dalam metode kualitatif sebuah fenomena maupun fakta sosial akan dianggap sebagai masalah sosial jika berlandaskan pada ilmu pengetahuan tertentu atau menurut pendapat para ahli tanpa mempertimbangkan pandangan banyak orang (kuantitatif). Cara ini biasanya muncul dari logika manusia atau masyarakat masing-masing, jika hal tersebut dipercaya sebagai masalah sosial maka tidak ada salahnya jika beberapa orang tidak menganggap itu masalah sosial, sangat paradoks.

Sejak tahun 1973 American Psychiatric Association secara resmi mengeluarkan homoseksualitas dari daftar penyakit. Setelah pendapat ini beredar luas di masyarakat khususnya di Amerika, maka secara langsung mampu mentransformasi cara berfikir masyarakat dari men-judge homoseksualitas sebagai masalah (penyakit) menjadi hal yang sepantasnya dapat diterima di tengah-tengah masyarakat. Terdapat pula pendapat berbeda, seperti yang dikatakan oleh seorang psikiater Dr. Fidiansyah dalam acara di salah satu stasiun televisi Indonesia mengatakan bahwa LGBT merupakan penyakit, beliau mengungkapkan “gangguan psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan perkembangan dan orientasi seksual adalah … homoseksualitas … biseksualitas”. Hal ini membuktikan bahwa dari kedua pendapat di atas menunjukan bahwa masalah sosial baik dalam hal LGBT sangatlah paradoks.

Ideologi

Sudut pandang ini berbeda dengan dua sudut pandang sebelumnya, ideologi merupakan kelompok atau kumpulan ide-ide yang teratur atau sistematis yang digunakan untuk asas pendapat yang memberikan arah dan tujuan demi kelangsungan hidup. Dalam hal ini penulis menggunakan ideologi theologis (agama) dalam memandang suatu fenomena maupun fakta sosial sebagai masalah sosial. Dalam permasalahan LGBT jika ditarik melalui ideologi agama penulis dengan haqqul yakin berpendapat bahwa tidak ada satupun agama yang dapat membenarkan akan eksistensi dari LGBT, karena teori tersebut dapat menghancurkan tatanan keberlangsungan hidup umat manusia khususnya umat beragama di dunia.

Bagaimana dengan Indonesia, jia kita berpacu pada ideologi pancasila terutama seperti yang tercantum pada sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini memberikan kita pandangan bahwa masyarakat Indonesia mempunyai ideologi ketuhanan yang artinya masyarakat yang beragama. Maka jika kita menelaah lebih dalam seharusnya masalah LGBT tetap bisa dikatakan sebagai masalah sosial. Akan tetapi demi masalah hak asasi dan kemanusiaan masalah LGBT menjadi sangat debatable (belum pasti) apakah bisa dikatakan sebagai masalah atau tidak. Sekali lagi masalah sosial sangatlah paradoks.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s