Diet Kantong Plastik, Efektifkah?

Akhir-akhir ini telah beredar isu tentang “diet kantong plastik” di tengah masyarakat luas di Indonesia setelah keluarnya surat edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.1230/PSLB3-PS/2016 Tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar. Setelah isu ini beredar ke masyarakat luas kita mengetahui bahwa industri-industri besar seperti supermarket dan ritelnya dilarang untuk memberikan kantong plastik secara gratis seperti yang telah dilakukan sebelum surat edaran tersebut keluar dan digantikan dengan kebijakan untuk menawarkan kantong plastik secara berbayar dengan harga Rp. 200 ditawarkan kepada konsumen. Lalu apakah kebijakan ini benar-benar efektif sejalan dengan tujuannya untuk mencegah pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah-sampah kantong plastik?.

Salah satu letak permasalahannya di sini adalah society behaviour (perilaku masyarakat) yang kurang adanya kekritisan mengenai dampak mengkonsumsi kantong plastik, penulis sangat mengapresiasi Kementerian LHK sudah berusaha untuk membuka wawasan masyarakat tentang bahayanya sampah kantong plastik. Dalam mengubah society behaviour (perilaku masyarakat) memang tidak semudah membalik telapak tangan, perlu ada sosialisasi dan pengajaran kepada masyarakat supaya tumbuh pikiran kritis masyarakat. Akan tetapi dengan memberikan kebijakan untuk mengubah kantong plastik yang dulunya sudah gratis kemudian dibuatkan harga, meskipun relatif murah yakni Rp. 200 hal ini malah memperkeruh permasalahan.

Mengapa demikian, ini merupakan bentuk dari kapitalisasi (penumpukan modal) oleh perusahaan-perusahaan besar seperti mall, supermarket, dan ritelnya. Perlu kita ketahui bahwa mall dan supermarket merupakan toko yang paling banyak mengkonsumsi kantong plastik, dan jika kebijakan ini diberikan sepenuhnya untuk memberikan harga pada kantong plastik meskipun relatif murah akan tetapi hal ini akan menjadi bentuk bisnis baru. Bayangkan jika kantong plastik yang diberikan harga Rp. 200 kepada setiap konsumen, dan jika ada 100 juta penduduk Indonesia yang membeli kantong plastik dengan harga demikian maka akan tertumpuk dana sebesar 2 milyar, dan pastinya dana ini akan masuk ke kantong industri-industri besar. Bukankah ini bentuk dari pembodohan publik?.

Kemudian yang kan menjadi masalah berikutnya adalah akan tumbuh suatu gagasan yang berpikir bahwa hanya dengan Rp. 200 kita diperbolehkan untuk mencemari lingkungan. Mengapa demikian, kenyataannya bahwa kebijakan ini sebetulnya tidak mentransformasi masalah menjadi solusi, karena yang ditawarkan itu adalah penyelesaian masalah kantong plastik akan tetapi solusi yang diberikan juga tetap pada kantong plastik dengan ditambahkannya lagi ada label harganya. Satu lagi bukti yang menunjukkan pada pembodohan publik, seharusnya jika mau mengubah society behaviour (perilaku masyarakat) dari kebiasaan menggunakan kantong plastik jadi meninggalkan kantong plastik, bukan mengubah yang gratis menjadi berbayar. Hal ini benar-benar sama persis tidak ada satu pun yang menjadikan adanya perubahan perilaku masyarakat malah sebaliknya menciptakan model-model kapitalisme baru di tengah masyarakat.

Masalah berikutnya adalah apatisme masyarakat atau sifat acuh masyarakat yang tak terelakkan, alih-alih bentuk masyarakat Indonesia yang majemuk pasti ada masyarakat miskin dan masyarakat bermodal, ada masyarakat yang sadar dan tak sadar, atau bahkan ada masyarakat yang peduli dan ada yang tak peduli. Elemen-elemen masyarakat inilah yang dihadapi oleh pemerintah di Indonesia. Menjadikan masyarakat untuk berpikiran sama pun menjadi sulit. Karena secara psikologis memerlukan pendekatan-pendekatan yang beragam karena tentu pengalaman, lingkungan, serta pendidikan setiap masyarakat berbeda-beda. Jadi dalam masalah mengontrol sampah plastik tidak bisa jika dilakukan secara individual, butuh adanya gerakan-gerakan kelompok untuk mulai melakukan penyadaran atau melakukan gerakan-gerakan yang menunjukkan adanya kepedulian tentang keselamatan bumi dari tereksploitasinya bumi oleh sampah plastik.

Meskipun sampah plastik sifatnya kebendaan akan tetapi sangat berdampak pada terbentuknya masalah sosial, masalah sosial tidak semena-mena membicarakan tentang masalah individu dengan individu ataupun individu dengan kelompok, akan tetapi masalah sosial juga merupakan masalah individu dengan lingkungan, sehingga untuk mengatasi masalah tersebut perlu pendekatan langsung terhadap masyarakatnya bukan mengubah nilai kebendaan (sampah plastik) tersebut. Sehingga bagi penulis kebijakan untuk mengubah nilai kantong plastik tidak bisa dikatakan efektif secara universal, akan tetapi malah membentuk masalah yang lain. Besar harapan penulis bagi pemerintah untuk berpikir kembali mengenai kebijakan memberikan harga pada kantong plastik tersebut karena berdampak pada terciptanya masalah-maslah baru yaitu kapitalisme dan yang menjadi korbannya tidak lain lagi yaitu masyarakat dan tertumpuknya modal secara terpusat hanya pada industri-industri besar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s