Putuskan Historis Kemiskinan

cover-bank-kaum-miskin_resize1

Judul          : Bank Kaum Miskin

Judul Asli  : Vers Un Monde Sans Pauvrete

Pengarang : Muhammad Yunus

Tahun Terbit : 1997 (pertama bahasa prancis), 2007 (edisi Indonesia)

Penerbit          : CV. Marjin Kiri

Tebal                 : xxii + 269 Halaman

ISBN                  : 978-979-1260-21-3

Well, aku terpesona dan bersyukur hidup dan dapat membaca buku ini dengan damai dan indah. Aku meresensi buku ini karena aku sadar bahwa sudah banyak buku yang aku baca, tapi kenapa aku tidak memberikan ruang pada ide-ideku tentang buku yang pernah aku baca, sehingga aku dapat merefleksikan buih-buih ide yang ada di buku untuk dapat aku kritisi maupun aku tulis ide-idenya.
Ikhtisar Buku

Muhammad Yunus lahir di Chittagong pada 1940 dan pada tahun 1972 (tahun-tahun sebelumnya tidak perlu dituliskan karena ini bukan tulisan biografi) menjabat sebagai dekan Fakultas Ekonomi di Chittagong University. Di sinilah awal langkah Muhammad Yunus mengapa hatinya terketuk untuk menjadi malaikat bagi orang-orang miskin, seperti diketahui bahwa letak kampus Chittagong ini yang dekat sekali dengan desa Jobra dimana penduduknya adalah orang yang miskin baik secara finansial dan budaya. Bagi Muhammad Yunus “orang-orang lapar itu tidak meneriakkan slogan apapun. mereka tidak menuntut apapun dari kami, penduduk kota yang berkecukupan pangan ini. Mereka hanya terbaring dengan begitu sunyi di pintu-pintu rumah kami dan menunggu mati”.

Posisi Muhammad Yunus sebagai dekan di fakultas tersebut dan apa yang dilakukannya sedikit menggelitik logika kita, dia beranggapan “bagaimana saya bisa terus mengajarkan kisah bohong-bohong ini kepada mahasiswa saya atas nama ilmu ekonomi? saya ingin kabur dri kehidupan akademis. saya perlu melarikan diri dari teori-teori ini dan buku-buku ajar saya dan menemukan kehidupan ekonomi riil dari diri seorang miskin”. Dan benar Muhammad Yunus benar-benar kabur dari rutinitas mengajar teori-teori kepada mahasiswanya menuju kepada implementasi teori terhadap empirisme kehidupan.

Pada Tahun 1974 awal dimana Muhammad Yunus terjebak oleh kemiskinan di desa Jobra, bagaimana ia mengajarkan teori-teori ekonomi sedangkan ada masyarakat yang kelaparan di luar ruang kelasnya di Bangladesh. Saat itu ia berhadapan dengan para pejuang kaum miskin untuk bisa mencari sejumlah kecil uang untuk menopang kehidupannya, ada seseoreang perempuan desa meminjam kurang dari AS$1 dari seorang rentenir dan rentenir itu ternyata memegang hak eksklusif untuk membeli hasil produksi dari pinjaman, tentunya dengan harga yang ditetapkan oleh rentenir. Dan bagi Muhammad Yunus ini adalah semacam pembelian budak belian.

Kemudian Muhammad Yunus (selanjutnya akan penulis sebut dengan Yunus saja) memutuskan untuk membuat daftar korban “bisnis” rentenir di desa yang bersebelahan dengan kampusnya. Dan daftar itu menyuguhkan data bahwa ada 42 korban yang pinjaman totalnya AS$27, lalu kemudian kedermawanan Yunus muncul untuk memberikan AS$27 dar kantongnya untuk para peminjam lalu melunasinnya kepada rentenir. kemudian Yunus membujuk beberapa Bank untuk turut membantu akan tetapi upaya ini ternyata melanggar aturan Bank, sehingga sampai akhirnya Yunus menunjuk dirinya sebagai jaminan atas manusia miskin tersebut dan menamai Bank tersebut dengan nama Grameen Bank atau Bank Pedesaan. begitulah singkatnya kisah kelahiran Grameen Bank.

Meskipun pada prosesnya dalam membangun Grameen menghadapi banyak kendala. Seperti yang menarik ketika anggapan seorang mullah (di Indonesia akrab dikenal dengan kiyai) bahwa sistem Grameen Bank telah melanggar purdah (kepercayaan/budaya yang diyakini saat itu sebagai budaya yang eksploitasi gender).

“apa kamu ingin masuk neraka?” jawab mullah. “Grameen itu organisasi kristen, mereka ingin merusak aturan purdah, itu sebabnya mereka datang”.

“manajer Grameen itu seorang muslim” jawab ibu-ibu yang terdaftar sebagai peminjam di Grameen Bank ” dan pemahaman Al-Qur’annya lebih baik dari Anda ! lagi pula Grameen memperbolehkan kami bekerja di rumah, menumbuk padi, menganyam tikar, atau membuat bangku bambu, tanpa perlu keluar rumah. Bank (Grameen) yang mendatangi rumah kami, bagaimana itu bertentangan dengan purdah?. Satu-satunya di sini yang menentang purdah adalah Anda, dengan membuat kami pergi berkilo-kilo meter ke desa tetangga untuk mendapat pertolongan, Andalah yang merusak hidup kami, bukan Grameen”.

Dan sampai pada saat ini Grameen sebagai bank yang memberikan kredit mikro terhadap masyarakat miskin telah banyak tersebar ke seluruh pelosok dunia, sampai pada akhirnya Yunus mendapatkan penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 2006.

Kutipan Penulis

Buku ini dan pergerakan Yunus dalam memerangi kemiskinan merupakan hadiah bagi dunia yang tidak boleh dipandang sebelah mata, perilaku maupun idealisme Yunus tidak dapat kita temukan dengan mudah, bak mencari jarum di tumpukan jerami. Buku ini tidak boleh putus hanya dalam wacana saja tapi perlu langkah untuk bergerak demi pembangunan manusia secara utuh.

Harusnya buku ini mampu menyadarkan manusia-manusia yang berpangkat tinggi, bergelar agung, mempunyai disiplin keilmuan untuk bangun dari wacana suci yang orang anggap bahwa mereka adalah manusia yang mempunyai kompetensi dalam mengembalikan kehidupan manusia seutuhnya.

Bagaimana dengan Indonesia? pertanyaan yang selalu mempunyai tanda kutip. Jika kita membedakan Indonesia dengan Bangladesh sangatlah mudah, tapi jika mencari tahu bagaimana menyamakan Bangladesh dengan Indonesia dalam mengatasi masalah kemiskinan ini yang sulit. Sumber daya manusia Indonesia mungkin aku tidak bisa memungkiri bahwa banyak sekali Indonesia mempunyai pakar-pakar kemiskinan tetapi masih saja terbelenggu oleh oportunisme. Mau mencari tahu bagaimana kemiskinan di Indonesia, bacalah laporan korupsi-korupsi yang tercatat, karena sejatinya itulah bentuk-bentuk pemiskinan baru. Jadinya malah jauh api daripada panggang.

Yang menjadi kelemahan buku ini menurut aku hanya terletak pada bagaimana mengimplementasikan emprisme Yunus di Bangladesh terhadap negara-negara lain yang mempunyai kultur yang beragam bahkan majemuk, meskipun tercatat bahwa usahanya dalam membangun Grameen Bank juga perah dirintis oleh Malaysia. Tetapi aku masih yakin bahwa kebudayaan itu sifatnya relatif dan progresif. Apalagi yang ditekankan dalam metodenya Grameen Bank di sini adalah mengangkat eksistensi perempuan dalam menjalankan bisnis baru untuk keluar dari jerat kemiskinan, harusnya sih peran laki-laki juga bisa diperhitungkan dengan adil supaya tidak membentuk kelas-kelas baru dalam masyarakat seperti “perempuan bekerja laki-laki berjudi” yang pada saatnya hanya kan menjadi gunung es dan siap meleleh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s