Pelajaran Penting Dari Seorang “Pembimbing”

Akhir-akhir ini dahiku lebih sering mengkerut dari sebelumnya hanya karena aku mengharapkan ujian akhir ini segera berlalu. Tidak neko-neko sudah 3 judul riset aku ciptakan dan sejauh ini ide-ide itu hanya bersemayam dalam folder-folder di komputer tak satupun yang dapat dikembangkan, tapi tak apalah nak suatu hari nanti akan aku kembangkan kamu menjadi tulisan-tulisan yang menarik, karena sungguh kamu tidak muncul begitu saja pasti ada variabel-variabel yang dapat dipermasalahkan dan diselesaikan.

Perjalanan risetku punya cerita sendiri, tak lelah aku mengeluh untuk bolak-balik bertemu pembimbing mencari kesepakatan bersama meskipun yaaaa…lagi-lagi aku harus bertemu dengan yang namanya “penolakan”. Bukan masalah besar sih sebenarnya hanya saja ini merupakan pelajaran yang harus aku pertimbangkan faedah-nya.

Awalnya dulu semenjak di semester 2 aku mau meneliti tentang “perilaku mairil santri di pondok pesantren” ini juga datang dari keresahan personal antara aku dengan empirisme-ku selama mondok di pesantren, akan tetapi setelah bersemedi lebih dalam, kasus ini tak layak aku angkat karena lebih condong pada masalah psikologi dan yaa aku orang sosial, jadi tak pantas aku menilai kasus ini dengan keilmuan sosial secara umum. fyuuuhh that’s problem. Selang beberapa hari muncul kembali gagasan baru, aku mau meriset tentang “pengaruh alat-alat KB (Vasektomi) terhadap kontrol jumlah penduduk” judul ini lagi-lagi muncul dari keresahan, kenapa pemerintah repot-repot mengeksploitasi kelamin masyarakat hanya untuk mengkontrol jumlah penduduk? seharusnya lebih baik dilakukan dengan pendekatan kesadaran tanpa harus mengkebiri alat kelamin masyarakat. Dan ternyata itu lebih condong pada ilmu kesehatan, aku kan ilmuan sosial. fyuuuhh that’s problem. Dan yang paling mutakhir risetku yang berjudul “efektivitas badan pemberdayaan perempuan dalam melakukan pembinaan terhadap perempuan korban KDRT” ini yang ditolak mentah sama pembimbing, yang berpendapat bahwa opiniku tidak berdasar pada data dan maksud beliau aku suudzon. Risetku ini sebenarnya mau menguji sumber daya manusia yang terdapat pada lembaga-lembaga organisasi yang bergerak dalam ranah human development, aku menduga bahwa data-data yang dikemas oleh lembaga tidak secantik kenyataan di masyarakat.

Saat itu aku duduk di kantor bapak (pembimbing) berdua di ruang yang panjang dan lebarnya sekitar 6×4 itu berdebat persepsi antara aku dan bapak. Kata-kata beliau yang masih terngiang sampai detik ini bahwa “anda tidak bisa mengatakan para pegawai di sana tidak bekerja dengan baik tanpa data”. Ternyata untuk mengkritisi orang kita butuh data yang kuat dan mempunyai dasar, tidak semudah itu mengatakan orang tidak benar perilakunya, tidak semudah itu men-judge para elite tidak efektif dan aku butuh dasar, butuh data. Seorang peneliti boleh saja mempunyai persepsi atas objek, akan tetapi persepsi itu harus bisa dipertanggung jawabkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s