Surat Putih (Tutup Buku)

closed-bookSurat ini secara eksplisit aku tulis untuk merangkum sekaligus menggambarkan kesan dalam hidupku sejauh ini. Tulisan ini  sengaja aku beri judul “Surat Putih (Tutup Buku)”, surat putih artinya bahwa di dalam tulisan ini aku akan menyampaikan sesuatu yang putih-secara estetika menggambarkan kebaikan-karena secara implisit tulisan ini dipersembahkan untukmu, dalam menulis surat ini sangat berat rasanya karena kau harus menutup buku untuk mengakhiri tulisan ini. Tutup buku maksudnya ialah upaya untuk membungkus cerita yang selama ini pernah kita tuliskan, dan iya, aku harus segera mengakhiri cerita ini dan aku akan tutup buku.

Secara sosiologi perubahan, hidup ialah bersifat berubah-ubah, tidak dibenarkan adanya kehidupan yang statis karena kehidupan itu adalah berproses dan bergerak, yang tidak bergerak itu hanyalah kematian, dan kematian sangat berbeda dengan kehidupan. Oleh karena itu kita harus bergerak. Di dalam hidup juga kita selalu dihadapi dengan sebuah pilihan, pilihan itu ada supaya hidup tetap bergerak, pilihan itu muncul sebagai identitas dari kehidupan, makanya kenapa hidup harus bergerak karena selalu ada pilihan.

Dear Ndaa,

Pahit rasanya aku harus memulai untuk menulis surat ini, karena memang sangat bertolak belakang dnegan harapan dan impian yang sudah kita bangun betahun-tahun lamanya. Saat ini aku seperti statue di hadapanmu, tak mampu bergerak, lisan terkunci rapat, rasa mati begitu saja, sudah seperti mayit aku di hadapanmu.Tapi lagi-lagi aku katakan kamu harus siap untuk memilih, seperti yang saat ini kita hadapi yaitu kita memilih untuk saling melepas, bukan karena kita saling membenci, saling menghianati, atau bahkan karena bermusuhan. Akan tetapi kita berpisah karena kita saling mengerti, mengerti apa yang harus dikorbankan demi sebuah kebahagiaan semu yang dulu kita sering ceritakan.

Aku selalu tersenyum membayangkan keoptimisanmu, tapi aku menangis menyampaikan kenyataan ini bahwa kita harus berpisah dari sini. Memang benar seperti yang kamu katakan, bahwa tidak ada satupun jalanan yang ada di Jogja ini yang belum pernah kita injak bersama, tidak ada cafe yang kosong tanpa kenangan, tidak ada satupun gedung pernikahan orang lain yang belum kita masuki, artinya kemana-mana saja aku akan melangkah akan selalu ada cerita kamu di tempat tersebut. beraaaat.

Secara terpaksa kita mengangkat bendera putih secara serentak, hanya untuk menyampaikan kekalahan kita terhadap egoisme masing-masing keluarga, di bawah kibaran bendera putih tersebut kita menangis, selamat tinggal. Iya bendera tersebut basah dengan kesedihan dan akan kering karena keegoisan. Secara tidak sadar sebenarnya kita sama-sama mempunyai keegoisan dan standar kebahagiaan yang berbeda, sudah seperti magnet yang berlawanan tapi tetap dipaksa untuk bersatu dan itu sangat imposible.

Aku berharap kelapangan dadamu atas realitas ini, dan aku meminta maaf sebesar-besarnya. Selamat tinggal :’)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s