Menolak Rabun Sejarah Bangsa

1463772145839

Sekitar tiga minggu yang lalu, di tengah kegalauan hati dan kemerungsungan jiwa aku sengaja keluar mencari udara segar dan biasanya ketika aku mencari udara segara tujuanku hanyalah “toko buku”. Berjalan di tengah keramaian orang yang sedang mencari buku membuat aku lupa akan masalah hati, dan tentunya aku juga sangat tertarik dengan buku-buku dan telah ku jadikan buku sebagai obat pilunya hati. Secara tidak sengaja aku menemukan buku Nusantara sejarah Indonesia karya Bernard H. M. Vlekke dan aku mulai tertarik untuk mempelajari sejarah bangsa ini, bangsa Indonesia.

Di dalam tulisan ini dan tulisan selanjutnya aku akan me-review buku ini secara per-bab, ada 16 bab yang artinya akan ada 16 tulisanku untuk me-review buku ini, hitung-hitung untuk mempertajam pengetahuan sejarah dan kualitas tulisan. Aku juga akan senang sekali jika teman-teman memberikan komentar dan kritik yang membangun, atau bahkan jika ada yang bersedia colab menulis denganku untuk berbagi pengetahuan tentang sejarah Indonesia aku akan dengan senang hati menerimanya.

Salah satu dari fungsi sejarah adalah untuk memberikan kita pengetahuan bahwa segala fenomena sosial-politik itu tidak pernah berdiri sendiri, selalu ada peristiwa yang merekonstruksinya dan akan selalu berkaitan antara satu dengan lainnya. Kita sebagai masyarakat yang terlahir saat Indonesia sudah ada, akan sayang sekali jika tidak pernah merefleksikan sejarah yang terbentuk dalam proses pendirian bangsa ini.

Pembentukan suatu bangsa selalu ditandai dengan adanya proses kolonialisme, itu merupakan sebuah mekanisme yang ditemukan oleh negara founding atau Negara Dunia Satu untuk membentuk suatu perserikatan bangsa-bangsa di belahan dunia. Indonesia sebelum meraih kemerdekaanya telah terdapat banyak kerajaan-kerajaan yang secara konstitusional dapat mengatur sosial-politik di Indonesia. Yang paling populer kita dengar adalah kerajaan Majapahit, yang pendirinya adalah generasi Kertarajasa pada akhir abad 12 tahun 1293. Majapahit merupakan model negara kesatuan Indonesia dan juga sebagai simbol kesatuan Indonesia, pada saat masa silam Indonesia yang saat itu juga lebih dikenal dengan sebutan “Nusantara”. Jadi saat-saat masa silam Indonesia, masayrakat yang saat itu dikontrol penuh oleh kerajaan Majapahit tidak mengenal bangsa ini dengan sebutan “Indonesia”, melainkan “nusantara”.

Istilah “Nusantara” ini ada jauh sebelum masa kolnial Belanda masuk di Indonesia, Vlekke menyebutkan dalam bukunya bahwa Indonesia disatukan bukan oleh kolonialisme belanda, tapi oleh masa silamnya yang gemilang yang bernana Nusantara. Nampaknya hal ini penting untuk kita ketahui bersama bahwa jauh sebelum masa kolonial, secara eksplisit masayrakat Indonesia telah mempunyai solidaritas yang tinggi demi persatuan bangsa. Modal yang sangat membanggakan. Dan ini lebih terhormat bagi kita.

Akan tetapi di balik semua itu, kerajaan Majapahit bukanlah satu-satunya kerajaan yang ada pada saat itu, terdapat beberapa kerajaan secara geografis di indonesa, seperti Demak dan Mataram Islam. Jatuhnya Majapahit terdapat banyak spekulasi yeng terbentuk ada yang menyebutkan bahwa jauhnya Majapahit diakibatkan oleh kerajaan Islam, di dalam bukunya Vlekke menyebutkan bahwa demak melakukan serangan ke (sisa-sisa) kerajaan majapahit mungkin benar. Tetapi kejayaan majapahit runtuh sudah pasti bukan disebabkan oleh kerajaan Islam. kerajaan Majapahit yang kejayaannya cukup singkat (1293-1389) dan telah dipegang oleh empat generasi yang akhirnya runtuh saat di tangan Ayam Wuruk (1350-1389). Vlekke menyebutkan bahwa mangkatnya Ayam wuruk atau runtuhnya Majapahit diakibatkan oleh armada asing dari Cina mulai menguasai jalur perdagangan Nusantara, dan pada abad ke-15 para pelaut Eropa (Spanyol dan Portugis) mulai berdatangan, merapat ke pantai-pantai Jawa.

Jatuhnya kerajaan-kerajaan di Indonesia inilah yang dimanfaatkan oleh para kolonial Belanda dalam melakukan perluasan kekuasaannya di Indonesia. Jadi bisa kita bayangkan bagaimana politik imperialisme “londo” dalam mengambil alih kekuasaan, yaitu dengan memanfaatkan konflik kerajaan-kerajaan besar Indoneisa dan barulah “londo” masuk di sisi-sisi kelemahan tersebut. Sepertinya konflik tersebut mensiratkan kelemahan sosial-politik bangsa Indonesia saat itu dan akhirnya Kolonialisme berlangsung.

Islam mempunyai pengaruh besar terhadap kemerdekaan bangsa ini, meskipun pada kenyataannya belanda menghadapi ratusan pemberontakan dan puluhan lusinan konflik sosial dan perang, dan resistensi terhadap pemerintahan kolonial datang dari beragam etnis, suku, dan agama. Vlekke menyebutkan, namun perlawanan yang paling gigih dan paling ditakuti Belanda adalah pemberontakan yang menatasnamakan islam. Pemberontakan tersebut berlabelkan “jihad”, jihad menjadi mainstream utama aksi perlawanan masayrakat Indonesia terhadap “kafir londo”, para Haji dan kaum Putih -saat ini akrab disebut dengan istilah santri- yang sudah pulang dari Makkah untuk belajar agama, kemudian menyeber luaskan ideologi “jihad” untuk melawan para “kafir londo”.

Tapi sayang sekali, setelah “kafir londo” mengangkat kaki dari bangsa ini, konflik agama semakin menjadi-jadi. masih tetap antara perseteruan “para terpelajar yang terpengaruhi ideologi Mekkah” dengan “kafir Londo baru” bernama Barat. Seperti terjadinya pengeboman yang berlabelkan “jihad” atau penolakkan terhadap pemimpin yang berpaham liberalis kebarat-baratan, ini adalah luka lama yang masih berbekas.dan sangat disayangkan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s