Pembiaran

Pria-Cuek.jpg

“Aku sih cuek … hahaha … ”

Maaf ucapan di atas mohon jangan ditiru, tahu kalian bahwa fakta dari realitas sosial yang ada saat ini adalah banyak dari populasi manusia di dunia ini yang masih saja bersikap apatis terhadap segala fenomena sosial maupun politik yang sedang bergejolak dan semakin mencekik moral manusia bumi ini. Sebab dari jatuhnya moral saat ini nampaknya adalah akibat dari sikap acuh dan pembiaran dari orang-orang yang sadar akan harusnya saling mengingatkan tapi tidak mengingatkan orang-orang yang tidak mengetahui.

Apa yang membuat kita masih saja acuh terhadap chaos-nya moral manusia saat ini, apakah karena pembiaran yang semakin menjamur, atau karena manusia sudah sangat dekat dengan masalah-masalah sosial di lingkungan sehingga hal tersebut dianggap biasa dan masuk akal sehingga sikap pembiaran ini menjadi manusiawi.

Tak kenal maka tak sayang. Bukan berarti ketika kita mengenali masalah lantas kita sayang terhadap masalah tersebut dan melestarikannya. Meremehkan sebuah masalah juga merupakan sebuah pembairaan yang berevolusi menjadi boom waktu yang dapat merusak sistem sosial kapan saja, kesalahan-kesalahan kecil yang sering dilakukan itu lebih bahaya daripada masalah besar tapi hanya dilakukan sekali saja. Ingatkah kita istilah “sedikit demi sedikit menjadi bukit” iya benar hal itu yang akan terjadi jika maslah-msalah kecil terus kita biarkan berlangsung.

Contoh kecil dari pembiaran itu kadang berawal juga dari diri kita sendiri yang sebenarnya masih juga acuh bahkan cuek dengan sikap kita sehari-hari yang sebenarnya tidak tepat. Contoh kecil juga dari semua itu dapat kita jumpai bahkan sering kali kita temui di jalan raya. Perilaku-perilaku dan kebiasaan kita yang sering melanggar hak asasi manusia baik bagi pengendara dan pejalan kaki di jalan raya, misalnya ketika sedang berada pada pemberhentian di lampu merah, motor yang kita gunakan secara sengja tepat berada di atas zebra croos yang nyatanya kita ketahui itu adalah hak bagi pejalan kaki untuk menyebrang, lantas masih kita langgar, lalu apa alasan yang bisa membenarkan perilaku ini. Tidak ada. kan gak ada polisi broo. Miris, sangat miris sekali jika kita menerapkan hukum jika hanya berpacu pada simbolitas dari hukum tersebut. Jangan tanya di mana simbol hukum, tapi tanyakan nilai disiplin pada diri kita, apakah sudah disiplin kita dalam berperilaku?.

Agama, Pendidikan, serta hukum tentu sudah banyak memberikan manifestasi sendiri dalam hal kedisiplinan bagi kita. Kebiasaan-kebiasaan “pembiaran” ini yang sering membuat aku gelisah, apakah karena kita terlalu dekat dengan kesalahan-kesalahan kecil tersebut sehingga membuat kita berfikir bahwa ini wajar, dan masuk akal. Terlalu dekat dengan masalah ternyata dampaknya adalah pergeseran nilai yang harusnya kita anggap ini salah menjadi ini adalah sebuah kewajaran.

Iklan

2 pemikiran pada “Pembiaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s