Industri Untuk Rakyat, Rakyat Untuk Industri

IMG_5478.JPG            Aku sedang terlibat proyek dari kampus, proyek survei IKM (Indeks Kepuasan Masyarakat) bagi penerima manfaat program kerja yang digagas oleh PHE WMO (Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore) di beberapa desa, yaitu desa Sidorukun Kecamatan Gresik dan Desa Bedilan Kecamatan Gresik. Di dalam tulisan ini aku tidak membahas tentang hasil survei tersebut, aku hanya akan menuangkan beberapa pengalaman penting yang aku dapatkan ketika masuk di dalam realitas sosial masyarakat di dua desa tersebut, masyarakat yang wilayahnya dikepung oleh industri-industri besar, tidak hanya Pertamina, masih banyak puluhan pabrik lainnya di sini.

Fajar kota Jogja kala itu penuh dengan semangat, tas ransel dan koper mengiringi jalan menuju stasiun tugu, pintu masuk menyalami kami dengan ucapan “selamat datang”. Aku penuh optimis. Masuk gerbong dua dari kereta api kelas eksekutif, mencari tempat duduk yang telah dipesan. Aku duduk lalu tertidur beberapa saat, dan terbangun setibanya di Kota Surabaya. Kota ini tak asing bagiku, pernah aku tapaki jalan kota ini, dulu sekali. Sesampainya di Surabaya, aku sudah bertemu dengan sopir yang akan mengantarku langsung ke Gresik, di perjalanan pun aku masih saja tertidur.

Sesampainya di Gresik, tanpa jeda aku diharuskan untuk bertemu dengan pihak PT Pertamina sebagai salam perkenalan dari PT ini, pilihanku tepat untuk tidur di perjalanan, sampai di Gresik tak ada sedikitpun waktu istirahat.

Jejak langkah pertama memasuki Pertamina disambut oleh ketatnya peraturan, mengisi identitas diri sampai memeriksa barang bawaan, formalitas. Lalu memasuki ruang rapat tamu bertemu dengan pak Amar (pegawai Pertamina), tanpa basa-basi langsung disuguhkan slide program yang akan aku kaji di tengah masyarakat. Program ini adalah program CSR (corporate social responsibility) dari Pertamina Hulu Energi WMO, bagi teman-teman yang tidak mengerti apa itu CSR. CSR merupakan amanah sistem yang diperuntukkan bagi perusahaan supaya perusahaan memberikan kontribusinya terhadap masyarakat maupun lingkungan sosial, ibarat memberi makan masyarakat karena sudah melibatkan masyarakat dalam beroperasi, singkatnya sih tanggung jawab perusahaan untuk masyarakat maupun lingkungan.

So, aku ada tiga target kelompok masyarakat dari dua desa, yaitu desa Sidorukun dan desa Bedilan, dan ketiga kelompok itu adalah kelompok masyarakat penerima manfaat dari program penghijauan lingkungan berbasis IPAL (Instalasi Penggunaan Air Limbah), Pemanfaatan daur ulang sampah dan weding organizer, serta program pengolahan limbah (pendampingan hak paten). Tumpukkan angket di dalam tas ku ini yang akan menguji seberapa jauh program-program tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Tapi aku tidak menulis bagaimana aku melakukan interview dengan masyarakat, nanti jadinya seperti laporan penelitian. Sedikit pelajaran penting setelah sekian hari terlibat dalam realitas sosial masyarakat di sini, baik yang aku temukan seperti local hero, perilaku masyarakat, sosialnya, ekonominya, sampai keluh kesah masyarakat pun aku rasakan.

Pertama, mengenai local hero, super man-nya para masyarakat. Aku ketemu dengan bapak kades Pak Markan namanya, sosok pemimpin yang mempunyai idealisme pembangunan sosial, sosok seperti inilah yang harusnya ada di sekeliling kita, sadar akan perubahan demi masyarakat yang lebih baik.

“Nak … untuk menyadarkan golongan masyarakat, kita selalu butuh seorang pahlawan di tengah masyarakat, tidak bisa jika hanya menunggu mereka sadar, mereka tidak sama sekali mengetahui apapun…” ungkapnya dan membuatku sadar bahwa masyarakat butuh local hero.

Pertemuan pun berjalan dengan lancar, beberapa diskusi mengenai cerminan masyarakat di desa Sidorukun, sampai membicarakan mengenai dampak industri terhadap perubahan masyarakat. Di desa ini hampir seluruhnya masyarakat bekerja sebagai buruh industri dan yang lain sebagai pekerja swasta, seperti penjual kopi dan tempat makan lainnya.

Pertemuan selanjutnya, yang sebelumnya aku sudah mengatur jadwal untuk ketemu dengan masing-masing ketua kelompok dari penerima manfaat program CSR, aku bertemu dengan Pak Bakir. Janji untuk ketemu di selatan alun-alun kota Gresik, kami bertemu dan langsung diiring menuju rumah Pak Bakir. Beberapa pertanyaan sudah ku lontarkan terkait dengan seluk beluk program pengelolaan limbah, sampai akhirnya Pak Bakir menceritakan dirinya sendiri, yang penuh dengan pengalaman yang menarik. Sebelumnya, perlu kalian ketahui bahwa Pak Bakir ini menurutku adalah local hero juga, pengetahuannya tentang bakteri diluar status pendidikannya. Pak Bakir dan anggota kelompok masyarakat telah memperjuangkan hak kekayaan intelektualnya tentang penggunaan bakteri dalam meleburkan kotoran (feses) yang mengendap di dalam air pembuangan kotoran, dan itu bagi saya sangat unik selain bermanfaat bagi kesehatan manusia dan bumi, salute. Setelah pak Bakir bercerita, aku melontarkan pertanyaan.

“Pak Bakir setelah mendapatkan hak kekayaan intelektual tersebut, apakah bapak menjual hasil usaha bapak tersebut ke masyarakat luas?.”

“Saya orang bawah Mas … tidak menjual apapun.” Sahutnya penuh dengan keyakinan. Apapun yang dilakukan oleh Pak Bakir ini menurut saya ada benar dan salahnya. Benar dalam hal beliau tidak mau menjadikan kepentingan kelompok masyarakat menjadi bisnis manufaktur, salah jika Pak Bakir tidak menyebar luaskan pengetahuan ini, menjual bukan hanya berarti ada proses jual-beli seperti pertukaran materi dengan uang, menyebar luaskan pengetahuan juga bisa dibilang menjual bukan?.

Tulisan saya mengenai “Industri Untuk Rakyat, Rakyat Untuk Industri” ini sebenarnya ingin menjelaskan bahwa masyarakat ataupun lingkungan punya hak atas industri, dan industri juga punya kewajiban atas masyarakat dan lingkungan. Hampir setiap saat aku merasakan bau tak sedap (polusi) menyengat hidungku, tak hanya diriku masyarakat pun juga merasakannya, ku tanyakan pada masyarakat, bau tak sedap apa ini?. Ternyata datangnya dari pengolahan minyak goreng dari pabrik sebelah, sangat mengganggu. Dan masyarakat hampir setiap hari harus menghirup bau tak sedap ini, aku saja yang sebentar sudah tak tahan. Bayangkan jika industri tidak memiliki rasa tanggung jawab atas hal tersebut, jiwa sosial tergantikan oleh kapitalisme. Oleh karena itu maka muncullah istilah tanggung jawab sosial perusahan, sebagai manifestasi atas kerugian yang ditimbulkan.

Yang mencolok dari kehidupan masyarakat di sini hampir segala aktivitas masyarakat tidak lepas dari simbol-simbol perusahaan, hampir setiap hari menyaksikan manusia berhelm safety, tampaknya memang hampir semua masyarakat adalah buruh industri. Memang begitu harusnya, masyarakat digenggam oleh industri, selama mampu membangun ekonomi masyarakat, tak ada penolakan. Setiap pagi, siang, dan malam aku melintasi desa ini keluar dari mulutku:

“Luar biasa.”

Lingkungan yang nampak dari pandanganku seolah-olah menjadi mimpi tersendiri bagi kebanyakan desa. Betul-betul sejuk, indah mendatangkan kedamaian pikiran, bersih dan basah. Apa yang telah dilakukan oleh banyak penduduk desa ini dan apa yang telah dianugerahi memang sesuatu yang luar biasa, mereka mandiri meskipun miskin, mungkin juga sejahtera meskipun terlilit beban kerja. Tak apalah selama mereka juga merasa diuntungkan, begitu nyatanya masyarakat yang tak terdidik, harus bisa merasakan diuntungkan oleh lingkungan.

Bosan, aku bosan mendengar keindahan ini, sudah bisa kau gambarkan dari pikiran subjektifku bahwa desa ini telah mencapai mimpinya. Sampai aku berbincang dengan ibu yang sedang mengiris bawang putih depan teras rumahnya itu. Obrolan kami itu memutar semua imajinasiku, sebentar, desa ini memang sejahtera tapi masyarakatnya belum.

“Mas, meskipun perusahaan telah memfasilitasi semua ini. Ada satu hal yang ditinggalkan bagi kami, dan itu mengganggu kami.” Kata ibu itu menatap aku dengan matanya yang lelah bekerja itu.

“Apa yang mengganggu ibu”

“Kami harus mengeluarkan uang lagi untuk pemeliharaan tanaman ini Mas, ini bantuan tapi kami masih juga harus berkorban ekonomi” semakin nampak wajah lelah ibu ini dan suaranya berat.

Apa yang harus ku katakan pada ibu ini, suara masyarakat seperti mereka ini memang benar adanya. Mereka menadahkan tangannya pada raksasa yang berjaya untuk berdaya dan masyarakat menerima semua resikonya. Jalan ini yang harus ditempuh, apa boleh buat. Mungkin di pikirannya, apa boleh buat daripada tidak dapat apapun. Hidup memang memilih, memilih untuk terbebani itulah ciri manusia modern. Tidak seperti para dewa menurut nenek moyang kita, dulu dewa mempunyai andil tapi manusia modern sekarang ini berbuat semaunya mendapatkan balanya, begitu yang tertulis.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s