Mengapa Guru Harus Melakukan Kekerasan?

kekerasan-300x150

Semalam saya terikat obrolan dengan beberapa rekan terkait dengan berita yang saat ini sedang hangat diperbincangkan baik di media sosial, maupun obrolan-obrolan tetangga yaitu kasus guru yang melakukan tindakan kekerasan terhadap para siswa yang kemudian guru sebagai pelaku kekerasan akhirnya dikenakan pasal kekerasan terhadap anak.

Seorang guru dalam perannya membangun sebuah bangsa maupun manusianya menduduki posisi yang sangat penting. Ingat kita ketika kota Hiroshima dan Nagasaki di bombardir oleh Amerika Serikat pada tahun 1945, hal pertama kali yang ditanyakan oleh kaisar Jepang saat itu, Kaisar Hirohito adalah berapa banyak guru yang tersisa. Artinya bahwa, untuk memulai sebuah peradaban saat itu Jepang hanya membutuhkan seorang guru sebagai mediator menuju sebuah peradaban yang terdidik manusianya.

Di dalam kasus ini, menurut penulis terdapat sebuah gap antara moral yang harus ada pada seorang guru dengan perilaku kekerasan yang dilakukan. Mengapa kita membiarkan kekerasan terjadi pada lingkungan pendidikan seperti ini, sejauh ini penulis mengamati perkembagan dari respon para netizen yang katanya mereka adalah orang-orang yang aktif dalam memberikan komentara pada dunia maya tersebut. Naifnya para netizen tersebut malah membenarkan sebuah status quo terhadap guru yang melakukan kekerasan, meskipun hanya sebuah cubitan. Alasan mereka bahwa dulu ketika masa kecilnya sering mendapat kekerasan yang bukan hanya sebatas cubitan, sebatang rotan pernah melayang menghempas punggungnya, katanya, dengan begitu seolah-olah kekerasan terhadap siswa itu wajar atau bahkan menurut mereka itu manusiawi.

Lalu siapa yang berani membenarkan bahwa kekerasan itu dibutuhkan dalam pendidikan anak? sejauh pemahaman saya bahwa untuk mendidik seorang manusia haruslah diberi pengetahuan yang manusiawi, tidak dengan kekerasan. Bagaimana bisa kita memberikan pengetahuan kekerasan terhadap anak, sedangkan seorang anak yang hanya bisa meniru apa yang mereka perhatikan dari lingkungan, bisa jadi terjadinya tawuran antar pelajar merupakan sebuah manifestasi dari kekerasan yang begitu dekat dengan lingkungan sekolah, dan akhirnya mereka menerapkan kekerasan tersebut di luar lingkungan sekolah. Seperti sebuah teori sistem yang berbicara bahwa suatu fenomena sosial tidak pernah berdiri sendir, akan selalu ada faktor-faktor yang mempengaruhinya, jadi tidak terelakkan jika tawuran antar pelajar terjadi karena mereka di sekolah sudah dekat sekali dengan kekerasan.

Seperti yang pernah saya tulis di blog ini tentang Pembiaran bahwa karena kedekatan kita dengan masalah-masalah yang akhirnya membuat kita buta akan kebenaran, malah meletakkan kesalahan tersebut bersemayam di dalam logika kita dan memberikannya stigma kesalahan yang dibenarkan. Hal ini yang menjadikan kita tidak pernah mau berfikir maju, selalu mempertahankan status quo meskipun itu salah, dan harus dilestarikan. Pertanyaan besarnya adalah sudah siapkah kita untuk maju? menerima segala perkembangan peradaban manusia demi berlangsungnya kehidupan yang lebih baik.  TIDAK, jika kita tetap seperti ini, keegoisan yang kita lindungi ini perlahan menjadi gunung es yang siap melahap habis tatanan sosial bermasyarakat kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s