Para Hamba Sistem

Fungsi-fungsi komunikasi dalam sistem sosial

Sistem tidak lain ialah aturan-aturan atau komponen-komponen yang saling terkait dan bersifat mengikat. Di dalam realitas masyarakat, di manapun kita bakal menemukan sebuah sistem. Secara makro, misalnya dalam ranah hidup bernegara, peradaban yang ada di suatu negara mestinya ada suatu sistem yang mengikat seluruh masyarakat di negara tersebut, contohnya sistem ketaatan terhadap hukum negara. Secara mezo, dalam ranah kebudayaan ataupun kearifan lokal, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang terbagi-bagi dari beberapa kebudayaan yang berbeda-beda, dari ujung timur ke barat utara ke selatan beragam kebudayaan dapat ditemukan, akan tetapi dari setiap budaya-budaya tersebut terkandung sistem yang juga beraneka ragam, kadang sistem tersebut mengikuti alur kebudayaan. Secara mikro, dapat di temukan pada kelompok ataupun organisasi, kelompok keluarga misalnya terdapat sistem yang terintegrasi di antara masing-masing anggota keluarga, sistem patuhnya isteri terhadap suami misalnya. Di manapun sistem akan tetap ada. Modernisasi juga nampaknya lahir dari sebuah “sistem”. Sistem kapitalisme.

Menolak keberadaan sistem berarti kita menolak sebuah esensi kehidupan, kenyataan yang ada di sekitar kita merupakan satu-satunya kehidupan yang mau tidak mau kita harus memasukinya, meskipun terpaksa. Kita adalah para hamba dari sistem.

Beberapa hari yang lalu saya mendengar celoteh dari beberapa rekan sarjanawan yang mengeluh akan relevansi pekerjaan dari bidangnya, tanpaknya bukan saja mengenai relevansi tapi peluang kerja juga termasuk. Mungkin juga bukan hanya rekan saya ini yang mengeluh akan hal tersebut, suaranya mewakili ratusan sarjana di luar sana. Lalu ia bertanya, apa yang salah dari semua ini?

Jika berbicara mengenai salah ataupun benar, sama halnya dengan obrolan para ahli mengenai diskursus kesejahteraan sosial, yang sampai saat ini susah untuk mendefinisikannya. Begitu sangat subjektif. Sehingga dalam mengatasinya butuh banyak pendekatan yang begitu membingungkan, sama seperti manusia. Begitu membingungkan.

Lalu saya mencoba menyandarkan pikiran saya ini terhadap sistem. Sistem yang mengikat kita saat ini. Sistem ekonomi, sistem politik, sistem sosial, dan sistem-sistem yang lainnya. Talcot Parson mengingaktan saya tentang sistem ini, sistem ini sangat mutlak ada dan tidak dapat dihindari, teorinya tentang sistem juga mampu membuktikan bahwa sampai saat ini lahirnya sebuah bangsa dan masyarakat itu dari sistem. Masyarakat yang sadar membangun peradaban dan membentuk sistemnya sendiri.

Namun teman saya ini tanpaknya memproblematisasi sistem, secara eksplisit mengkritiknya. Banyak masyarakat yang terperangkat di dalamnya dan tidak menyadari tindakan apa yang harus dilakukanya selain mempasrahkan diri. Saya sangat setuju jika bekerja merupakan sebuah keharusan sosial, dari sejak zaman dahulu pekerjaan merupakan status sosial masayrakat atau lebih dekat kita sebut dengan identitas diri. Nahasnya, di era modern uang menjadi narkoba yang paling ampuh memabukkan masyarakat, dan uang diperoleh dari pekerjaan.

Apa jadinya manusia tanpa uang. Jika pohon terakhir di dunia ini telah ditebang, burung terakhir telah ditembak, ikan terakhir telah dipancing, dan air sungai terkahir sudah kering, apa lagi arti uang bagi manusia?

Memilih menjadi pragmatis atau idealis merupakan jalan untuk melawan sistem yang membelenggu kehidupan manusia. Manusia selalu berkembang dari emperisme yang dibangun, realita kognitif juga sedikit mempengaruhinya. Kita akan tetap menjadi para hamba dari sistem, maka jadilah hamba yang mengetahui jalan keluar dengan terus membaca perkembangan zaman, karena bagaimanapun sistem adalah manifestasi dari zaman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s