Kopi Hitam


Menjadi orang yang peduli terhadap masyarakat memang tidak selalu menemukan jalan yang mulus, tapi lebih menyiksa lagi jika menjadi orang yang tak kenal peduli. Kopi hitam malam ini membuatku melamun jauh melewati batas khayalan orang pada umumnya, mungkin. Percayalah, kopiku tak pernah sendirian, biasanya ada buku dan pikiran yang menyertainya. Kali ini kopiku berduet dengan buku “Tafsir Kebudayaan” karangan Clifford Geertz disertai pikiran-pikiran nyelenehku yang terbatas.

Pada setiap serutan kopiku sebagai jeda paragraf-paragraf di buku ini, meskipun terkadang beberapa paragraf penting yang membuat aku terlena dan melupakan si kopi sampai menjadi dingin. But wait, bukannya aku mau membahas kopi, tapi pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa beberapa budaya kita yang sangat tua dan primordial itu terkadang mengekang dan rasanya sangat tidak sesuai tapi masih tetap kita paksakan? Ibarat baju-baju lawas kita yang sudah tidak muat di badan, atau baju-baju bekas yang tampaknya harus segera kita singkirkan. Damn it, pikiran macam apa ini.

Diyakini atau tidak, manusia adalah binatang yang terkurung dalam kandang yang ia tenun sendiri. Begitu bunyi pesan yang aku dapat dalam buku Tafsir Kebudayaan, tentunya konsep ini yang dimaksud adalah budaya, bukan berarti kita adalah binatang. Jadi begini, menurut interpretasiku dari buku ini bahwa kita adalah sekelompok orang yang membuat kandangnya sendiri lalu mengurung diri di dalam kandang yang tadinya telah kita buat. Kandang itu adalah budaya. Guys, percayalah kandang-kandang kambing yang kuno tidak secantik dan semenarik kandangnya saat ini. Jadi semakin girang khayalanku, menjadi seorang etnografer kayaknya menarik.

Guys, ini adalah poin penting, pernahkah kalian menyaksikan pernikahan usia “anak”?. Sebutan “anak” memang mempunyai interpretasi yang luas, banyak orang lebih suka mengukurnya dari umur, tetapi aku lebih suka mengukurnya dari “keberdayaan” individu itu sendiri. Misalnya, berdaya dalam moral, pendidikan, dan sosial. Lalu apa yang memicu pernikahan usia “anak” ini, tentu jawabannya adalah budaya yang sudah kita genggam selama ini, ketertundukkan kita terhadap pembiaran-pembiaran budaya yang begitu menggelisahkan. Lalu apa yang salah dengan pernikahan usia “anak”?, wah aku kurang begitu yakin terhadap apa yang salah dan benar, karena terlalu subjektif dan empiris, biar kalian coba pikirkan sendiri.

Setidaknya, jika kita menuhankan Allah berarti ketetapan-ketetapan yang absolut adalah ketetapan dari Tuhan itu sendiri, semua orang pasti sepakat. Dan semua orang juga sepakat, bahwa budaya adalah hasil konstruksi dari manusia, kalau aku meminjam kata-kata Geertz budaya adalah hasil seni tenun yang diciptakan manusia itu sendiri. Apa yang salah jika kita mau berpikir kritis terhadap upaya rekayasa budaya pernikahan “anak”, yang cikal bakalnya muncul dari budaya merarik di Lombok, sebegitu tunduknya kita terhadap kandang yang kita buat sendiri, padahal tinggal bongkar dan rekayasa sedikit saja. Bakal lebih bagus lagi jika kita lebih melihat pada fungsi budaya itu daripada fokus pada praktiknya yang semakin hari menjadi virus yang mematikan masa depan. Fungsinya kan bagus, supaya anak-anak yang di bawah kategori “berdaya” tidak pacaran keluyuran malam hari, daripada memaksa dan membiarkan masa depan yang tersembelih. Itulah yang disebut dengan culture engineering, upaya merekayasa budaya supaya kita sama-sama nyaman hidup dalam kandang, toh bukan Tuhan yang menciptakan kandang, Tuhan hanya butuh kita berpikir, bukankah begitu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s