Aku Mau Bicara!


Di malam yang begitu sunyi ketika orang-orang sudah menumpahkan lelahnya bekerja seharian perlahan mulai terlelap di atas kasur. Aku dan isi pikiranku yang mengganggu ketenangan batin mempersilahkan jari-jariku untuk menuntaskan sebuah kegelisahan dalam tulisan. Kini aku duduk sambil sesekali menengok jam yang sudah menunjukkan pukul 23.30 WIT, istirahat bagiku adalah memulai sebuah ketenangan bukan melenyapkan kegelisahan dalam tidur. Jadi memang aku harus menulis ini.

Sudah hampir memasuki minggu keempat kepulanganku dari tanah rantau, misi utamanya memang untuk menyelesaikan penelitian tentang politik kekuasaan Tuan Guru di Kediri, tapi di samping itu juga aku tidak bisa menepis realita lain begitu saja. Di minggu awal sebuah informasi menyuguhkan sesuatu yang sebenarnya sangat menarik “Rancangan Ketetapan Bersama Hukum Adat (Awig-Awig) Karang Genteng”. Akhirnya muncul sebuah upaya untuk menerima perubahan zaman yang disertai dengan musyawarah atau bahasa kerennya mengkritisi perubahan zaman. Sudah lama sebenarnya Aku memimpikan gerakan untuk mendobrak gerbang keluar dari belenggu keterpurukkan tatanan bersosial masyarakat, tapi mungkin ini adalah peletakan batu pertama kita untuk turut serta mempertimbangkan segala kemungkinan munculnya chaos yang disebabkan oleh perkembangan zaman yang secara keseluruhan tidak memberikan nilai positif.

Konon yang ku ketahui acara ini berjalan cukup banyak menyita waktu, kira-kira memasuki minggu ketiga baru Aku dapat mendengar hasil ketetapan tersebut, tidak secara keseluruhan hasil yang ku dapatkan, tapi setidaknya apa yang Aku dengar ialah upaya masyarakat untuk menolak segala jenis kebudayaan yang tidak sesuai dengan nilai yang telah kita sepakati. Jempol untuk terselenggaranya acara ini.

Pada umumnya ketika ada aksi maka selanjutnya yang akan lahir adalah reaksi, di sini aku mulai mendengar beberapa suara dari kelompok masyarakat yang tidak terlibat secara langsung dalam acara tersebut, hal ini bagiku biasa, karena suara-suara yang tidak hadir dari kelompok masyarakat ini akhirnya keluar tapi tidak di dalam ranah acara tersebut, inilah reaksi. Reaksi positif sebagai bagian dari apresiasi, sedangkan reaksi negatif sebagai sebuah celah masuknya kritik. Suara-suara seperti inilah yang harusnya lebih kita perhatikan.

Memang sebagian besar dari ketetapan awig-awig yang telah disepakati menjerumus kepada pemuda sebagai penerima manfaat terselenggaranya musyawarah tersebut, sehingga tidak naif bila para pemuda mulai vokal melontarkan reaksi. Memang suara itu muncul tidak dari mata ke mata, tapi melalui media sosial, Aku perhatikan satu per satu tulisan para pemuda mengeluhkan akan ketetapan tersebut, sampai muncul statement “ini adalah pembunuhan karakter”. Sebagai seorang pengamat memang tidak mutlak bisa menilai empirisme dari masyarakat, benar atau tidaknya sesuatu itu bisa membunuh karakter, diperlukan pengamatan yang lebih rinci. Merupakan sebuah resiko memang ketika kelompok pemuda tidak dilibatkan, harusnya sih pemuda juga dilibatkan supaya sudut pandang tidak terlihat otonom dan hierarkis, meskipun ketetapan-ketetapan dari “orang yang dituakan” selalu baik kelihatannya. Tapi bagaimanapun “pemuda” merupakan aset penting, para penopang masa depan, seperti ban serep yang siap digunakan ketika ban yang lainnya tidak mumpuni.

Besar harapan juga bagi para pemuda supaya tidak menjadi benalu di tengah masyarakat, harus bisa menunjukkan eksistensi, harus bisa membuat gebrakan baru, diskusi-diskusi kecil mungkin penting untuk kita adakan, jangan kalah sama mak-mak mereka yang memperbincangkan gosip sederhana bisa menjadi gunung es. Pemuda harus bisa bertindak lebih dari itu, yuuk kapan bisa kita kumpul bersama, mungkin melalui yasinan kemudian dilanjutkan dengan obrolan-obrolan ringan. Asyik bukan jika kita sedikit bisa membangun masyarakat. Biar ku ceritakan sedikit mengenai “Tembok China”, dahulu pada zaman kuno masyarakat China membangun tembok dan menghabiskan ratusan tahun, untuk apa? Untuk melindungi diri dari serangan musuh, salahnya adalah masyarakat China sibuk membangun tembok dan melupakan pembangunan sosial (masyarakat) sehingga musuh tidak perlu menghancurkan temboknya cukup menyogok penjaga gerbang dan musuh akan masuk. Atau cerita dari Nelson Mandela yang berhasil menuntaskan masalah diskriminasi masyarakat kulit putih atas masyarakat kulit hitam di Afrika Selatan, keberhasilannya menuntaskan politik patriarkhi itu bukan karena memperindah infrastruktur, tapi membangun kesadaran masyarakat akan kesetaraan dan keadilan. Kita sebagai pemuda harus bisa memberikan sengatan positif dalam pembangunan masyarakat, jangan sibuk bicara sendiri, tapi mari sibuk bekerja bersama.

Mari, sebaiknya kita mulai dari mana?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s