Masjid Sebagai Kekuatan Perubahan Sosial

img_3923

beberapa bulan yang lalu di kota Yogyakarta pada hari jum’at dan orang-orang mulai berdatangan ke masjid untuk melaksanakan ibadah shalat jum’at. Aku duduk bersila di emperan masjid Uswatun Khasanah, karena bagian dalam masjid sudah dipenuhi oleh jama’ah, ketika itu takmir masjid sedang membacakan kondisi finansial masjid, ternyata jumlah keuangan masjid tersebut tidak lebih sedikit dari tabungan masyarakat proletar, bahkan sangat melampaui jumlah keuangan masyarakat ekonomi kelas bawah tersebut. Begitulah kodratnya sebuah masjid yang mempunyai kekuatan besar dalam finansial, dan ini terjadi di semua masjid besar baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Sepintas Aku berpikir, bukankah “modal” merupakan senjata yang paling ampuh untuk membuat sebuah gebrakan. Atau perubahan. Masjid bisa disebut sebagai rumah singgah yang terus diperkaya oleh umat Muslim, bahkan tidak ada masjid yang tidak mendapatkan pemasukan dalam seminggu, semua masjid secara spontan terus menerus diperkaya. Hal ini dipicu oleh kepentingan umat Muslim untuk turut berperan dalam mencari pahala sedekah jariyah, yang akan menjadi penyelamat jiwa-jiwa mereka di dimensi dunia yang lain atau akhirat.

Pada aspek ini sebenarnya terdapat dua jenis modal: modal ekonomi dan modal sosial. Kelompok masyarakat yang mempunyai daya ekonomi tinggi secara ikhlas mampu memberikan sumbangan berupa uang kepada masjid lebih besar jumlahnya daripada kelompok masyarakat daya ekonomi rendah, tapi setidak-tidaknya kelompok masyarakat daya ekonomi rendah ini dalam sebulan pasti mampu menyumbangkan paling tidak “seribu rupiah”. Lalu modal sosialnya terletak pada masjid, maka benar jika kita menyebutkan bahwa manifestasi dari modal sosial adalah daya produktif. Masjid yang dibangun atas dasar kepentingan bersama umat Muslim ini dibangun di atas fondasi modal sosial yang tinggi, sehingga mau tidak mau masjid harus tetap dilestarikan karena ada kekuatan sosial keagamaan yang besar di dalamnya. Maka dari itu tidak mengherankan jika di jalan kita menemukan masjid yang begitu wah, tapi ingat, ketika ada masjid yang sangat wah ini, di balik itu ada ikatan sosial keagamaan masyarakat yang tinggi.

Mungkin akan jadi sedikit nakal jika Aku menyebutkan bahwa masjid sebenarnya mirip seperti bank konvensional atau banknya umat Muslim. Mirip tapi kan tidak sama. Kemiripannya ada pada deposito, secara perlahan masjid mampu mengumpulkan banyak uang dan uang-uang itu tidak jarang jadi usang. Uang-uang itu lebih banyak bekerja pada masjid meskipun uang itu datang dari masyarakat. Ini mungkin merupakan status quo yang sudah lama berlangsung hingga saat ini. Bahkan akan jadi lebih nakal lagi jika Aku beranggapan bahwa kita telah mengkapitalisasikan masjid. Ya, bagaimana tidak, bahkan tidak jarang kan kita melihat masjid lebih kaya dari beberapa penduduk masyarakat. Dan yang membentuknya seperti itu ialah kita sebagai manusia yang mampu menggerakkan masjid, mengubah apapun sesuai kehendak kita, menciptakan apapun yang muncul dari isi pikiran kita, yang kadang baik kadang pula buruk.

Jadi sebenarnya Aku banyak berpikir tentang suatu perubahan, perubahan yang dimulai dari memanfaatkan sumber daya masjid untuk kepentingan masyarakat, bukan hanya kepentingan karpet-karpet, sajadah-sajadah, dekorasi modern, keramik-keramik, dan batu-bata. Tapi kepentingan membangun masyarakat. Kekuatan besar itu bisa menimbulkan ledakan kesejahteraan. Mungkin jika hanya ada satu buah masjid, masih belum mampu untuk menopang perubahan sekala besar. Tapi coba kita ambil sekala daerah, contohnya jumlah masjid yang ada di kota atau kabupaten, jika kekuatan dari modal ini kita satukan untuk kepentingan kesejahteraan sosial akan terasa lebih ringan, seperti pepatah yang mengatakan berat sama dipikul ringan sama dijinjing.

Kita mungkin juga sudah jenuh mendengar tentang ketimpangan sosial, sibuk mencari solusi, dan biasanya selalu terhambat oleh modal, kita juga mungkin telah lupa akan potensi yang ada dari masjid yang fungsinya hanya kita lihat secara vertikal sebagai habluminallah, padahal masih ada hubungan horizontal yang telah sengaja kita palingkan yaitu habluminannas. Bagaimana mungkin kita sibuk dengan memegahkan masjid tapi lupa akan pembangunan sosial, bagaimana mungkin kita bisa memberikan sumbangan ke masjid yang kian hari semakin surplus dan acuh terhadap kelompok miskin, dan kok bisa ibadah kita tenang dengan kemegahan masjid, sedangkan desa kita lelah dengan kemiskinan.

Miskin bukan hanya sebatas keterbatasan ekonomi, ada kemiskinan yang lebih parah, yaitu miskin sosial budaya dan miskin struktural. Kadang di balik suara kita yang vokal melontarkan bagaimana lepas dari kemiskinan, dibalik itu kita sebenarnya tidak melakukan apa-apa untuk terlepas dari jerit kemiskinan. Hanya saja kurang jeli dan kurang akal, sehingga budaya ini tetap membuat kita miskin. Atau sebuah status quo yang masih tetap kita pegang teguh, sebuah struktur yang memperlambat gerak kita, contohnya ada pada masjid yang tidak mau kita manfaatkan kekuatannya. Kekuatan ekonomi yang ada pada masjid bisa kita rekonstruksi secara gamblang kalau mau, bikin saja kegiatan-kegiatan pendidikan masyarakat dari modal yang ada pada masjid, dan kita tidak hanya berpacu pada ranah keagamaan. Karena Aku yakin, bahwa, agama tidak akan pernah membiarkan kita bodoh, persis seperti misi revolusioner agama Islam, yaitu untuk membuang jauh kebodohan beragama kaum terdahulu yang masih menyembah berhala.

Di sinilah bagiku letak dari modal masjid untuk melakukan perubahan sosial, yang mungkin jarang orang pikirkan atau sadari. Atau mungkin pernah ada, cuman sampai saat ini Aku belum melihat atau mendengar ada masjid yang kekuatan modalnya tidak hanya digunakan untuk mempermegah bangunan masjid tapi turut andil memperindah tatanan sosial masyarakat. Ingat, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Iklan

9 pemikiran pada “Masjid Sebagai Kekuatan Perubahan Sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s