DIAM

images

Neraka paling panas disediakan bagi mereka yang tetap netral sementara krisis moral sedang terjadi (Dan Brown, dalam novel Inferno).

 

Diam, siapa yang telah mengajarkan kita untuk diam. Adakah diam itu baik. Kecuali bagi mereka yang tereksploitasi tanpa senjata, diam adalah perlawanan semu yang tak berbanding antara yang melawan dan terlawan. Itulah mengapa mulut diciptakan lebih dekat dengan otak, hanya sejengkal supaya kamu tidak hanya diam di saat berpikir atau memperoleh ide baik –untuk tidak diam.

Saya sering menemukan dua tipe orang ini, yang diam dan yang tak mau diam. Beberapa tahun lalu di kota Gudeg, sempat viral orang ini yang bernama Elanto Wijoyono dalam aksinya menghadang para borjuis yang mengendarai motor gede (moge), karena baginya para borjuis ini telah melanggar hak-hak pengendara lain. Yang sebenarnya aksi ini bukan semata-mata untuk menegur hak yang telah dicuri oleh pengendara moge, tapi ini adalah bentuk sindiran kepada orang-orang yang hanya diam saat ditindas. Berbicara memang membutuhkan keberanian dan nyali yang kuat, tapi diam tidak akan menyelesaikan masalah. Berbicaralah … lawanlah.

Pengalaman Saya juga menyaksikan orang-orang yang diam ini terjadi saat beberapa bulan yang lalu ketika melakukan penelitian di desa Sidorukun, Gresik. Sebuah desa industri, bukan masyarakatnya yang berindustri, tapi lingkungannya yang dikepung oleh industri, tak khayal desa ini benar-benar dikepung oleh lebih dari sepuluh perusahaan, meskipun dengan adanya regulasi mengenai PROPER hal tersebut tidak melepaskan nasib masyarakat yang tetap tereksploitasi, beberapa kebijakan terlihat menguntungkan secara fisik, tapi secara kemanusiaan itu belum. Menurut pernyataan masyarakat setempat sudah lebih dari sepuluh tahun mereka mengalami pencemaran udara akibat limbah yang dihasilkan oleh industri, ajaibnya hanya dengan selembaran kertas hasil lab masyarakat dibuat bungkam, karena pencemaran itu –katanya— tidak mengganggu kesehatan. Kalian tahu apa yang Saya rasakan, itu sangat mengganggu keberadaan Saya yang hanya beberapa minggu, dan masyarakat hanya bisa DIAM berpuluh tahun lebihnya hanya karena selembar kertas hasil lab. Karena diam selalu menyakitkan.

Ingatlah bahwa kita merdeka dari penjajahan bukan karena diam, itu karena ada orang yang mau menggerakan roda perjuangan, orang-orang yang sadar bahwa krisis ini harus segera ditutup.

Pengalaman lainnya, bahkan ini sebenarnya sedang terjadi saat ini. Pemuda-pemuda di kampung Saya saat ini mulutnya hampir terbuka, dan mau berbicara melawan sistem yang katanya sedang membatasi kebebasan berekspresi. Bagi Saya ini adalah perlawanan sebanding antara pemuda revolusioner melawan status quo yang dijaga erat oleh orang yang dituakan, hanya saja senjata masih disimpan rapi, senjata itu adalah BERBICARA. Berbicaralah, jangan takut dengan kebenaran, sampai saat ini manusia belum menemukan kebenaran absolut diluar kepemilikan Tuhan, karena segala sesuatu yang kita dengar itu hanyalah opini, bukan fakta dan Segala sesuatu yang kita lihat hanyalah perspektif, bukan kebenaran begitulah yang dikatakan Marcus Aurelius.

Dan hal yang paling dekat dengan kata diam ini adalah kepemilikan dari masyarakat kelas bawah, tak berdayanya kelompok ini yang menjadikannya sebagai orang yang bungkam, maka para terpelajar harusnya bisa menjadi pemandu dari orang-orang yang disakiti karena diamnya. Tapi sayangnya, saat ini di dalam kelas pendidikan tidak banyak sekolah mengajarkan kita untuk dekat dengan masyarakat, sekolah-sekolah saat ini lebih banyak membentuk mind set kita kepada perusahaan, menjinjing ijazah ke perusahaan telah menjadikan kita orang yang keren, untuk kembali ke masyarakat bukanlah tujuan dari ijazah. Saya lebih memilih berpegang teguh pada prinsip Pramoedya “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. Yaitu adil untuk diri sendiri dan adil untuk masyarakat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s