4 Jam.


Di malam itu saat bulan berbentuk sempurna hingga sangat jelas kilasan cahayanya menembusi tirai dari jendela kamarku yang sangat tipis, ketika itu juga Aku sedang membaca novel Rebecca Skloot “Kehidupan Abadi Henreitta Lacks” lalu cahaya bulan itu dengan sengaja mengalihkan perhatianku dan beberapa saat aku tenggelam dalam lamunan. Kamarku berada paling depan dan sangat dekat dengan pintu rumah, lalu kamar ibu dan bapak berada di atas bersebelahan dengan kamar adikku di lantai dua rumah kami. Seseorang terdengar olehku membuka pintu rumah, engsel pintu rumah sudah sangat berkarat sehingga ketika pintu itu dibuka akan menghasilkan bunyi yang keras, daun pintu rumah sepertinya dibuka secara perlahan dan itu menghasilkan bunyi “Kreeeek.” Dengan irama yang panjang karena daun pintu itu dibukanya dengan sangat pelan.

Oh Tuhan tampaknya Aku telah lupa untuk mengunci pintu rumah, sepintas lamunanku terhenti berharap bukan nasib buruk yang datang. Novel ku tutup rapat dan menaruhnya di atas meja dekat tempat tidurku di sebelah novel itu ada jam tangan pemberian mendiang kakekku lalu ku tengok dan ternyata sudah masuk pukul 00.01 lalu perlahan aku bangkit dari tempat tidur lalu berjalan perlahan menghampiri pintu kamarku, sekujur tubuhku pun mulai bergetar dan kini tanganku sejengkal lagi sampai pada ganggang pintu kamar, tapi ganggang pintu itu sudah bergerak mendahului tanganku artinya ada seseorang sedang mencoba membuka pintu kamarku. Pintu kamarku terbuka dan tampak  wajah siluet seseorang karena di lorong depan kamarku lampu sudah lama dipadamkan maka tidak jelas siapa orang itu, belum sempat aku memprotes bicara pisau berukuran 10cm mirip seperti pisau dapur telah menancap di perutku menembusi lambungku. Seketika badanku kolaps dan pandanganku mulai kabur, hitam putih dan hanya darah berwarna merah yang sangat kontras melumuri jemariku.

Badanku yang terlentang di atas lantai sembari setengah sadar karena mulai kehabisan darah, lalu memori lama dalam otak mulai merangkai bayangan, bayangan mendiang kakekku. Tepat sehari sebelum meninggalnya Kakek, beliau memberikan jam tangan yang sangat aneh bentuknya itu dan berpesan “Cuuu, tolong jam ini Kamu simpan sebaik mungkin karena suatu saat ia akan menyelamatkan hidupmu.” Aku cekikikan mendengar pesan Kakek, karena beliau memang sering mendongengkan cerita lucu padaku.

Aku mencoba sebisa mungkin untuk bangkit, dunia serasa berputar dan masih terlihat hitam putih. Aku paksakan diri untuk bisa merangkak dan meraih jam tangan tersebut, pikiran konyol apa ini bagaimana mungkin bisa jam tangan ini menyelamatkan ruh yang akan segera meninggalkan tubuh ini. Jam tangan itu kini tergenggam olehku dengan tubuh kembali terkapar lemas, orang asing itu sepertinya kabur dan tidak ada siapa-siapa di lorong depan kamarku, dan aku sangat yakini itu. Hai Kakek, apa yang harus Aku lakukan dengan jam tangan bodohmu ini. Aku meronta kesal, lalu ku coba untuk memutar kembali jarum jam itu, ke empat jam sebelumnya.

“Jangan bengong saja.” Tegur Ibuku “Habiskan makanmu.” Tiba-tiba Aku berada di waktu lain tapi dengan kejadian yang sama sebelum empat jam setelah ini, yaitu makan malam bersama keluarga. Mataku liar memperhatikan sajian di atas meja makan, melotot tajam memperhatikan Ibu, Bapak, dan Adik bungsuku. Aku masih tidak percaya semua ini, tapi Kakekku telah benar kalau jam tangan itu akan menyelamatkanku, lalu Aku berlari meninggalkan meja makan menuju kamar dan mencari jam tangan itu, jam itu masih berada di tempat semula tepat di sebelah novel ku. Segera kutalikan pada pergelangan tangan kiriku tak mau melepasnya lagi, lalu kembali ke meja makan. “Kamu kenapa, Nak?.” Sahut Bapak dan aku kembali duduk di mejaku dengan masih dihantui  dengan keajaiban macam apa ini, ini bukan teleportasi ini tentang pengembalian.

Ini adalah pengembalian, dan yang kembali hanyalah Aku bukan orang lain beserta kejadian-kejadiannya. Maka aku bertanya kepada Ibu “Buu, jika aku mati malam ini sanggupkah Ibu?.” Ibu menjawab dengan wajah sinis, tidak dengan Bapak “Siapa engkau bisa menebak ajal, anakku.” Aku tidak mungkin menceritakan kejadian empat jam setelah ini kepada mereka, sudah pasti tidak akan dicerna oleh akal sehat mereka berbeda dengan Aku yang sangat meyakini bahwa semua itu pasti akan berulang, tinggal menunggu empat jam setelah ini.

Aku mulai memutar memori otakku, untuk mengingat-ingat siapa orang yang sudah menikam aku nanti malam, tapi kejadian yang mengagetkan itu tidak sempat memberikan gambaran pada sosok orang asing itu. Bahkan jika Aku mengetahuinya, dengan sangat yakin setelah ini Aku akan menghampirinya dan membunuhnya, entah dia tetangga atau kawan lamaku Aku tak peduli sama sekali. Tapi selain memikirkan balas dendam itu, alangkah lebih baiknya untuk berterima kasih kepada Kakek, ia telah benar telah menyelamatkan nyawaku yang sebelumnya Ku kira hanya dongeng konyol.

Makan malam pun telah habis, keluarga semua meninggalkan meja makan hanya Aku yang masih terpaku diam di meja makan, masih dengan tidak kepercayaan itu. Aku pun kembali ke kamar, bulan itu ku tengok dan masih berbentuk sempurna, Aku telah siap untuk melawan takdir setelah ini. Supaya orang asing itu tidak dengan gampangnya memasuki rumah kami, maka pintu ini harusnya ku kunci. Aku pun mendekati pintu rumah kami, kini kunci telah bergantung di tanganku dan siap untuk mengunci pintu. Tapi seketika kepercayaanku redup, Aku penasaran dengan semuanya apakah kejadian itu akan terulang? Dan akhirnya untuk membuktikan semua itu angan untuk mengunci pintu ku batalkan, toh nanti kalau terjadi lagi aku tinggal putar kembali jarum jam pemberian Kakek ini, sangat sederhana bukan. Dan akhirnya aku kembali terbaring di atas kasur membaca novel Rebecca Skloot, tapi karena aku pernah membaca bagian ini sebelumnya maka Aku melanjutkannya dengan bagian lainnya.

Entah mengapa waktu menjadi serasa lambat, suara detak jarum jam sangat menyengat di dalam kuping mengalahkan suara jangkrik di halaman depan rumah, keringat di sekujur tubuh mengalir dengan deras dan membasahi dada beserta punggungku. Aku menjadi takut dan berkeringat. Masih pukul 22.00 hati pun menjadi gelisah dan Aku kembali berdiri sambil berjalan-jalan di sekitar ruangan kamar, beberapa kali aku menengok jam itu dan semakin terasa lambat waktu ini untuk berlalu. Tuhan beginikah rasanya menjadi diri-Mu yang mengetahui segalanya, tapi aku dengan segala ketidak mampuan ini membuat diri menjadi tersakiti. Dengan segala keresahan ini membuatku untuk kembali berbaring lalu bangun menginjak-injak lantai kembali.

Dan kini jam itu telah menunjukkan pukul 00.00 penantianku akan segera dimulai, satu menit lagi engsel pintu depan rumah akan berbunyi, dan “Kreeeek” suara engsel pintu itu berbunyi kembali iramanya persis seperti kejadian sebelumnya. Aku mulai kaku gugup disertai ketakutan yang dahsyat, mana mungkin Aku mau mati untuk kedua kalinya. Sebelum orang asing itu membuka pintu kamarku Aku berlari meraih ganggang pintu dan menguncinya, dua kali. Lalu aku loncat ketakutan ke atas kasur, suara kaki orang asing itu terdengar jelas hendak mendekati kamarku dan benar saja ganggang pintu kamarku dicoba dibuka olehnya, tapi karena aku telah menguncinya dia tak mungkin bisa membuka pintu itu, jika pun dia harus mendobraknya sudah pasti akan terdengar oleh Bapakku dari kamarnya.

Aku selamat. Di waktu yang ini seharusnya aku sudah terbaring lemas di atas lantai dengan sekujur darah membasahi bagian perutku. Mungkinkah orang asing itu sudah kabur, pikirku. Kalau Aku membuka pintu sekarang, mungkin saja dia sedang menunggu di depan pintu untuk membunuhku, maka tidak ku lakukan itu. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara dari kamar atas, suara tubuh yang menjerit seperti kambing yang disembelih. Oh, tidak. Suara itu semakin banyak, ada tiga suara jeritan, sudah pasti itu adalah suara Bapak, Ibu, dan Adik bungsuku, mereka telah dibunuh. Aku berusaha untuk tetap tenang dan ku raih jam tangan itu, akan ku putar kembali jarum jam ini dan semuanya akan kembali seperti semula. TIDAK! Kini jarum jam itu tak bisa diputar, berat untuk percaya hal ini, lalu ada suara orang berlari kencang di lorong depan kamarku, suara langkah kaki itu perlahan menjauh dan hilang, pembunuh itu sudah kabur.

Beberapa kali aku mencela jam tangan ini, bodoh kenapa kamu tidak berfungsi, tolong kembalikan waktu buatku, sialan. Ini lebih menyakitkan, hidup begini tidak bisa terbayangkan. Aku pun mengamuk menumpahkan amarah pada semua benda di dalam kamarku, jam itu pun aku injak-injak. Gelisah seperti ini, dan aku tidak percaya lagi pada kesempatan kedua. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s