SENJA (1)

senjaaa

Untuk Rindu, tidak ada istilah

untuk kehidupan baru yang ada hanya

cerita lama yang tak usai.

Hidup baru hanya bagi bayi yang keluar dari rahim sang ibu

sedangkan kini hidupmu adalah bagian dari cerita lama yang terangkai sengaja.

 

Delapan tahun setelah kepergian Senja dari dunia yang mulai sempit oleh kehidupan-kehidupan baru, menjadikan dunia ini teramat sepi bagi Aditya. Senja merupakan kekasih yang pernah sempurna bagi Aditya, namun kematian Senja delapan tahun yang lalu membuat dirinya menjadi orang asing di bumi ini.

Hari ini adalah hari ulang tahun Senja yang ke-27, Aditya mengunjungi makam yang hampir setiap tahun ia kunjungi di setiap ulang tahun Senja dengan membawa rangkai bunga mawar putih sesuai dengan kesukaan Senja. Mawar putih tersebut adalah simbol bagi kebahagiaan Senja, di setiap minggu ketika Senja masih hidup dengan setia Aditya memberikannya hanya untuk membuat sang kekasih tersenyum.

Aditya berjongkok tepat di samping batu nisan, sambil menekur bibir Aditya melontarkan doa-doa untuk kekasihnya yang telah lama mati itu. Mawar putih itu pun ditancapkan oleh Aditya tepat di depan batu nisan yang bernama Senja.

“Untuk kisahku yang telah mati, tenanglah hidupmu.” Pesan Aditya lembut kepada jiwa yang terkubur dalam tersebut.

Aditya kembali bangkit dan berdiri sambil sebentar memperhatikan kuburan kekasihnya.

“Tidak bisakah kamu kembali hidup, Senja?.” Protes Aditya.

Lalu ia segera meninggalkan makam tersebut, hari sudah pagi sinar matahari mulai terasa hangat di tubuh manusia-manusia yang mempunyai kesibukan di pagi hari, Aditya pun begitu. Mengingat Aditya adalah seorang dokter, baru satu bulan tempat praktiknya buka pasien-pasien yang datang tidak terlalu ramai. Sesekali ada yang ramai berdatangan, kadang juga tidak ada yang datang sama sekali.

Pagi ini Aditya sibuk merapikan meja kerjanya, sebuah foto yang kelihatan usang masih berada di pojokkan meja itu, foto itu adalah foto Senja, diambil saat mereka merayakan ulang tahun senja tepat di tahun Senja mati. Aditya tidak mau kehilangan kisah terakhir yang ada di foto tersebut.

Perawat di tempat praktiknya datang menghampiri, “Dok, ada pasien yang sedang menunggu.” Tegur sang perawat yang membuat lamunan Aditya sirna.

“Silahkan disuruh masuk saja.” Balas Aditya.

“Oh, selamat pagi Kek.” Sapa Aditya kepada pasiennya yang ternyata seorang kakek-kakek, “silahkan duduk, ada yang bisa Saya bantu Kek?”

“Pagi juga dokterrr …. dokter?”

“Aditya, Kek.” Jawab Aditya

“Sang matahari.” Kata si Kakek sambil tertawa, “Nama yang tepat untuk pekerjaan yang tepat juga Nak, semua orang membutuhkan matahari.” Aditya berasal dari bahasa sansekerta yang berarti Dewa Matahari.

“Baik Kek, apa keluhan dari Kakek?.” Potong Aditya.

Tawa itu jadi meledak keluar dari mulut si Kakek sambil mengelus pahanya si Kakek terbahak-bahak, “Kakek tertawa begini karena kasihan melihatmu Nak, Kakek tidak melihat cincin di jarimu, belum kah kamu memperisteri seseorang?.”

Pasien yang aneh, pikir Aditya dan beberapa saat obrolan tidak menarik menjadi sarapan basi, Aditya memberikan obat penurun panas karena ternyata si Kakek hanya sedang kena demam biasa, otaknya yang harus diobati, si Kakek otaknya sakit pikir Aditya.

“Dokter kelihatan begitu murung pagi ini.” Tegur Rudi seorang perawat yang bekerja pada Aditya.

“Tidak masalah Rud, Aku hanya sedikit membagi pikiranku pagi ini.”

“Tentang Senja kah itu, Dok…” Jawab sopan Rudi.

“Apa yang kamu ketahui tentang kehilangan, Rud?.” Aditya coba memprotes.

“Mati Dok, hanya mati yang membuat sesuatu hilang.”

“Benar Rud, Aku pun merasa kehilangan”

“Dokter masih hidup, belum lagi kehilangan apa pun, tidakkah Dokter memahami kematian itu?. Senja Dok, Senjalah yang kehilangan sesuatu bukan Dokter.”

“Ah, Kau ini bicara seperti filsuf saja … gelarmu itu perawat Ku rasa tidak pantas kau bicara kehidupan.” Mereka saling menertawakan dan suasana mulai terasa asyik.

Hari sudah malam, Aditya pun pulang ke apartemen yang dekat dengan tempat praktiknya, tentu pulangnya bersama Rudi, perawat yang dipekerjakan oleh Aditya sekaligus sahabat baiknya. Sesampai di apartemen, mereka duduk di balkon dengan sebotol bir dan rokok.

Aditya memulai obrolan, “Rud, Aku merasa harus segera memulai hidup baru. Tidakkah kau dengar kakek tadi bicara, hidupku ternyata jadi bahan tertawaan.”

“sebagai lelaki, Aku sangat mengagumimu Dok, Kau telah hidup sendiri selama delapan tahun ini, bahkan lihat isi dari kamarmu, tidak ada satu pun yang baru, semua benda itu adalah tentang Senja” Saut Rudi sambil memantik api untuk sebatang rokonya.

“Bagaimana bisa kamu memutus cinta dengan sengaja, Rud. Senja pergi bukan karena cinta tapi kehendak Tuhannya, dan bukan lagi kehendakku, bagaimana bisa aku pura-pura tidak cinta.” Kata Aditya sambil menuangkan isi bir ke dalam gelas.

“Sekarang hidupmu adalah pilihanmu Dok, terserah padamu bagaimana mengatur cintamu. Coba kau perhatikan Aku, sudah empat kali ganti pacar, cinta hanyalah cerita yang dengan sengaja kamu tulis bagi hidupmu.” Kata rudi sambil tertawa.

“Dasar Goblok kau Rud … hahaha.”

Dinginnya malam sudah menegur mereka berdua untuk mengambil waktu untuk beristirahat. Rudi lalu pulang ke rumahnya karena besok hari ia harus lebih dahulu datang ke tempat kerja. Menjadi perawat adalah kacung bagi sang dokter, tidak masalah bagi Rudi jika itu untuk teman baik hidupnya, Aditya.

Matahari kembali muncul di setiap pagi, Aditya yang masih setengah sadar dari tidurnya hanya melotot memperhatikan benda-benda yang ada di ruangan, foto-foto ia bersama Senja terjemur rapi di atas seutas tali hitam yang melengkung terpaku di tembok. Seseorang menggedor pintu kamarnya saat itu, “Ruuuuuud, sepagi ini mengapa harus datang ke sini.” Teriak Aditya sambil membuka pintu.

Bukan Rudi yang muncul dari pintu, seorang perempuan rambutnya sebahu, cantik, dan kecil sedang membawa secangkir kopi.

“Maaf, Anda siapa ya?.” Tegur Aditya heran. Tidak pernah sekalipun ada gadis yang mendatangi Aditya seperti ini. Dalam hati, Aditya berpikir bahwa ini ulah Rudi karena semalam ia berpikir untuk memulai hidup baru. Sialan, pikir Aditya, tidak secepat ini juga ia harus mendatangkan wanita, meski cantik sekalipun.

“maaas, mas, Kamu tidak berubah sedikit pun ternyata, dasar penidur. Ini kopi buatmu.” Kata perempuan asing itu membuat rudi semakin penasaran.

“Maaf, Mbak. Anda tidak sepantasnya mengatai Saya seperti itu.” Berontak Aditya pada perempuan itu, “Anda di suruh ke sini oleh Rudi bukan?.”

“Di mana Rudi sekarang Mas? Masih bersama Rudi ternyata, Aku pikir ia meninggalkan kota ini.” Saut perempuan asing itu. Aditya semakin bingung, “Anda siapa ya?.” Tanya tegas Aditya.

“Aku adalah Senja Mas, Senjamu.”

***BERSAMBUNG***

Iklan

3 pemikiran pada “SENJA (1)

  1. 1. Dokternya kok gk jaga kesehatan malah ngerokok dan minum bir 😜😜

    2. Kalau senja masih hidup, yg d dalam kubur siapa?

    3.kapan sambungannya akan d publikasikan?

    So far gaya dan alur penulisan udh Bagus.. 👍👍👍

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s