Jenaka Dari Raja Salman

unnamed-1

Setiap kali membuka beranda Facebook beberapa topik yang semakin hari menjadi sangat membosankan dan semakin basi: datangnya Raja Salman, masih hangat juga si penista agama ini, atau yang baru-baru ini berita pengurus NU yang membubarkan ceramah yang nantinya juga akan jadi basi, sesekali muncul DIY cara membuat kotak pen dengan sampah plastik dan lucunya ini malah lebih menarik bagiku daripada mengkambing hitamkan agama untuk dipermasalahkan.

Raja Salman sudah pulang belum ya … aku masih enggan nonton media yang isinya itu-itu melulu, jadi sarapan tiap paginya bagi masyarakat yang seolah-olah memaksa kita untuk mengkonsumsi satu jenis berita bak anak panti asuhan yang sedang dikasih makan gratis, lauknya hanya itu saja. Membosankan.

Ahlan wa sahlan biqudumikum yaa maliqul Haramain, aku belum sempat mengucapkan selamat datang bagi Beliau ketika semua orang mengucapkannya di dalam beranda medsos masing-masing, jadi sudah tuntas salamku untuk baginda Raja. Sebagai pegiat medsos harus ada selera yang sama kan … hehe

Kedatangan Raja Salman bak angin sejuk yang meluncur lembut dari Timur Tengah bagi orang-orang dengan sudut pandangnya masing-masing. Bagi perempuan-perempuan manja penikmat laki-laki ganteng, berterima kasihlah pada sang Raja yang telah membawa pangeran-pangeran ganteng berberewok tipis kesukaan kalian, para k-popers pun akhirnya tersaingi, apa kalian tidak mau move-on  dari memuja laki-laki Asia Timur ke Timur Tengah itu.

Kedatangan Raja Salman pun turun mengundang jenaka, bahkan sangat lucu, ketika situasi mulai disangkut pautin, Ahok yang tertangkap kamera sedang bersalaman dengan sang Raja menimbulkan sinisme yang berlebihan, dan yang paling menggelikan ketika banyak orang beranggapan bahwa kedatangan Raja Salman sebagai bentuk dukungan moral untuk negeri ini yang sedang dilanda perseteruan antara agama Islam dengan beberapa kepentingan golongan. Sangat tidak make sense … terlalu jenaka.

Yang paling pasti dari kedatangan Raja Salman adalah politik ekspansi pasar, politik ekonomi, praktik kapitalisme, pokoknya yang berbau uang dan materi, selebihnya percayalah tidak ada maksud lain. Lalu kenapa Indonesia menjadi labuhannya saat ini, untuk investasi ke Barat sudah tidak memungkinkan terutama sejak ekonomi USA tidak membaik akibat krisis mortgage tahun 2007, apalagi sekarang presidennya Trump dengan kebijakannya yang “self defence” pokonya how to make America great again, sebagai seorang Bapak, Amerika telah menghianati anak-anaknya dan itu semua disebabkan oleh politik kapitalisme, uang hanya akan berteman dengan uang. Kedatangannya untuk memikirkan nasib umat Islam, coba berpikir kembali. Terlalu jenaka.

Uang hanya berteman dengan uang, tidak dengan kemanusiaan apalagi agama. Selama masalah kemanusiaan tidak melahirkan uang, jangan harap uang akan meliriknya. Sudah begitu alurnya, jangan diprotes. Untuk meninggalkan sistem kapitalisme? Bersiaplah kembali ke zaman purba begitu kata Mbah Pram, tapi berteman dengan kapitalisme maka siap-siap terjelit dengan hutang-piutang, membingungkan bukan? Seperti tidak ada solusi bagi indahnya kemanusiaan. Ya karena memang begitu jalannya kapitalisme.

Raja Salman tidak salah, sudah tepat apa yang dilakukannya, tentu untuk menjaga kekuatan dinasti Saudi. Semua orang yang tergolong borjuis juga sepemikiran dengan itu. Kita sebagai bangsa yang lemah hanya bisa menjadi jongos, sudah lama juga bukan menjadi jongos di Arab, masa iya sekarang juga menjadi jongos di negeri sendiri. Berbahagialah para kaum bermodal, yang proletar silahkan masuk goa tanpa perlawanan kalian tidak berarti.

Untuk solidaritas umat Islam? Aku bertanya kembali, terlalu bodoh jika hanya karena Ahok sang Raja mendatangi Indonesia, tentunya Palestina lebih membutuhkan nilai solidaritas itu daripada bangsa kita, bukankah Habib Rizieq sudah cukup buat melawan Ahok. Coba berpikir kembali.

Buat apa juga Raja Salman memikirkan umat Islam di Indonesia, instansi pendidikan Islam kita jumlahnya lebih besar dari yang ada di negeri sang Raja, sarjana-sarjana agama terbaik juga bertaburan di negeri ini, partai-partai Islam sudah cukup besar dan banyak rupanya, ormas-ormas, aliran-aliran, duh bejibun dan menumpuk jika disatukan. Bukankah itu menunjukkan potensi yang besar bagi keislaman bangsa ini.

Kornea mataku sudah mau lepas sepertinya, tentu tidak sehat melirik persepsi sempit yang kalian sajikan dengan mengkaitkan kedatangan baginda Raja atas dasar polemik yang berkepanjangan berjilid-jilid tersebut. Semua ini hanya masalah politik ekonomi, bengisnya kapitalisme yang mengkotak-kotakkan manusia, ingat pesan Rousseau “orang-orang kaya biasanya sahabat para tiran, karena mereka mampu membeli kebebasan, sedangkan kaum proletar tak segan-segan menjual kebebasan mereka”. Indonesia dengan jumlah penduduknya yang sangat besar bisa menjadi investasi yang menjanjikan bagi pelaku kapitalis, ingat itu. Mungkin itu yang menjadi sekian dari beberapa alasan kedatangan Raja, tapi bagiku tidak untuk kepentingan umat Islam.

Satu hal yang menjadi kanker berbahaya di dunia medsos, kurang jelinya jempol kita memilah berita mana yang hendak mau dishare atau tulis, satu ketukan jempol bisa membahayakan ribuan teman Anda di facebook khususnya. Jangan mau dimanfaatin oleh buzzer-buzzer yang juga mempunyai kepentingan kapitalis, bijaklah atau setidaknya berhati-hati. Mari berpikir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s