Perempuan Dalam Cangkang Eksploitasi

unnamed (3)

Oleh: Alungdoang, Pustakawan di Kelompok Cinta Baca Mataram dan Penulis di Komunitas Akarumput.

***

Hari ini tepat 107 tahun diperingatinya Hari Perempuan Sedunia (International Womens’s Day), setelah berabad-abad lamanya para perempuan di seluruh dunia merangkai cerita yang memilukan hati, tentang peran para mereka sebagai subordinat, dan terbelenggu secara politik, ekonomi, dan budaya. Akhirnya peringatan hanyalah sebuah peringatan jika tidak disandingkan dengan sebuah refleksi. Sampai saat ini tidak sedikit perempuan masih terkungkung di dalam cangkang eksploitasi.
Beberapa hari yang lalu berita memilukan dan memalukan terkait dengan eksploitasi terhadap perempuan terjadi pada para buruh perempuan di PT. Laksmi Grament Sukamaju-Cilodong (Jawa Post 20 Februari 2017), di mana para buruh perempuan tidak hanya tereksploitasi dalam jam kerjanya yang sangat tidak sehat (disebutkan bahwa jam kerjanya mencapai 22 jam per harinya), melainkan juga dengan gaji yang tidak sesuai. Jelas ini merupakan sebuah eksploitasi.
Keberadaan dari buruh perempuan dalam kapitalisme pinggiran memang selalu dihadang oleh sistem sosial yang memalukan; posisi perempuan dalam ‘mode of production’ tidak pernah berada di posisi yang menguntungkan karena mereka (masih) dianggap sebagai anomali bagi ekonomi modern jika dibandingkan dengan posisi laki-laki. Kesetaraan akan tetap menjadi hoax bagi para perempuan selama pandangan semacam itu tidak berusaha diubah oleh negara dan perusahaan dalam bentuk kebijakan dan sistem yang memihak kaum Perempuan.
Studi feminisme dalam pembangunan perempuan muncul dari kesadaran para penganut liberal sejak lama, karena keberadaan perempuan sebagai anomali yang tidak hanya berada dalam kancah hubungan ekonomi, tapi juga sosial-budaya. Dalam ruang lingkup yang lebih kecil misalnya, hubungan suami dan istri yang tidak jauh berbeda seperti hubungan kaum borjuis dan kaum proletar, perbedaan kelas seolah-olah membentuk perbedaan peran, ada yang superior dan ada yang inferior.
Saya banyak membaca dan memelajari, baik dari cerita fiksi maupun dari genre lainnya, tentang perempuan yang idealis. Sejauh ini saya tidak lepas dari kekaguman pada Nyai Ontosoroh, perempuan dengan nama asli Sanikem. Dari seorang Sanikem, perempuan yang tereksploitasi, menjadi Nyai Ontosoroh, perempuan yang merdeka. Sebuah kutipan berharga dari sang Nyai, “Aku harus buktikan pada mereka, apa pun yang telah diperbuat atas diriku, Aku harus bisa lebih berharga dari mereka, meskipun hanya sebagai Nyai. Sekarang Sanikem telah mati, yang ada hanya Nyai Ontosoroh.”
Perempuan harus menyelamatkan dirinya sendiri, jika sistem tidak berpihak, dan negara tidak ‘hadir’ untuk melindungi mereka. Memang seyogiyanya perempuan memperjuangkan dirinya, dengan cara membunuh stigma yang terlanjur melekat dan mengusahakan kesan yang lebih baik agar tidak dipandang sebelah mata. Bunuhlah sendiri stigma itu, merdekalah untuk menjadi perempuan yang lebih terhormat.
Akhirnya, kepada seluruh perempuan, selamat Hari Perempuan Internasional, hari ini semua orang akan mengingatnya. Merdekalah… merdeka sepenuhnya. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s