Anak Jalanan Itu Menyamar

unnamed (4)

Gundah gelisah tak menentu dengan perut yang kosong, konon hati juga sedang kosong selalu ku hadapi setiap malam di setiap hari, sebagai anak kos memang ini adalah rutinitas yang kadang muncul secara tiba-tiba. Bukan perihal keterbatasan modal, kadang hanya malas keluar menyebrangi jalan hanya untuk mengisi perut manja ini. Tapi semalam karena sudah terlalu lapar, ku paksakan keluar dengan tanpa kepastian untuk mencari sesuatu apa itu untuk dimakan, kali saja selera bisa berubah seketika, kan konyol sekali, isshhh.

Bakso Pak Narto di seberang Jalan Kaliurang itu membuatku ngerem mendadak, perut malam itu meminta diri berjodoh dengan bakso, akan ku turuti maumu wahai perut manja! Seporsi bakso ku bungkus dan yang terpenting malam itu rokok sudah habis. Bahaya pikirku. Rokok sudah menjadi batangan penting dalam hidupku, tanpa rokok susah sekali rasanya berpikir. Sekarang pun ketika aku menulis ini telah menyala batangan rokok semenjak tadi, maka merdekalah pikiran. Meskipun aku perokok, aku tidak mau mendzolimi rokok ini, merokok pada tempatnya itu adalah prinsipku, tidak di samping perempuan dan anak-anak, tidak di tempat umum (sesekali), hanya lebih sering di atas meja kerjaku ini. Terlebih lagi, saat ini dari beberapa tahun ke belakang, perputaran uang untuk rokok lebih besar dibandingkan pengeluaran uang untuk pangan di Indonesia. Ngeri sekali, issshh.

Nah, setelah seporsi bakso ku beli aku melajukan motor ke Indomaret, pasti tahu lah ya, buat beli rokok. Di bagian ini tidak terlalu penting, hanya ketemu sama kasir Indomaret yang lugu dan manis. Ketika keluar dari pintu Indomaret itu, seorang gadis (umurnya mungkin kisaran 20-21 tahun) dengan celana levis dan kaos oblongnya, rambutnya sedikit rapi, namun tidak menutupi jiwanya yang seperti gembel itu. Lalu datang menyapaku, “Mas, permisi sebentar.” Lalu menyodorkan kertas pamflet, kertas berwarna dan masih baru dengan tema “anak-anak” yang menghiasi hampir seluruh bagian pamflet tersebut.

“Iya, Mbak gimana?.” Jawabku

Ketika iya menyodorkan pamflet itu, aku sudah menyadari niat dari perempuan ini padaku. Palingo meh njaluk duit, pikirku. Dan tidak salah, memang niatnya lurus dengan dugaanku. Tapi, tapi, banyak kejanggalan selama ia mempromosikan niat baiknya tersebut. Perempuan itu datang padaku dengan membawa isu-isu yang harusnya kita perhatikan, anak-anak jalanan, bayi terlantar, dan anak-anak penyandang tunawisma sudah mejadi bagian dari beberapa masalah sosial di Indonesia. Semua orang wajib memiliki kepekaan sosial terlebih pada isu-isu anak yang akan menjadi penopang bangsa ini di masa depan.

Perempuan ini dengan suaranya yang cukup jelas masuk ke kupingku, mengatakan bahwa ia datang sebagai relawan dalam acara penyantunan bagi anak-anak jalanan, tapi ketika ia menyebutkan nama lembaga dari mana ia berasal, sepintas volume suaranya dikecilkan, pikirku, dengan ia mengecilkan suaranya seolah-olah ia menutupi kebenaran dari ucapannya. Oke, ini tidak masalah, lanjut ku ikuti dramanya yang menggelisahkan ini.

“Mbak, ini adalah masalah serius, coba Mbak jelasin lebih rinci.” Tegurku pada perempuan itu. Lalu ia menjelaskan inti-inti dari isi pamflet tersebut, yang sebagian besar ia tunjukkan padaku ialah korporasi-korporasi yang menjadi sponsor acara tersebut, padahal ini bukan inti dari permasalahan, lagian jika sudah sebanyak itu korporasi yang mendukung acaranya, lantas mengapa harus mengemis iba pada orang lain, terlebih di pinggir jalan seperti pengemis yang memaksa rezeki.

“Mbak tahu ini kan maslah sosial, sudah dikomunikasikan dengan dinsos?.” Tegurku padanya, tentu ia sudah menyiapkan jawaban dari segala kemungkinan pertanyaan, di sini letak pinternya. Yang menggelikan setelah itu ialah ia mengatakan padaku bahwa selain menjadi EO acara tersebut, ia juga sebagai ‘CSR’ dari dinsos. Sejauh ini perempuan tersebut, terlihat lebih profesional dari pengemis yang lainnya, perempuan ini banyak belajar suatu hal. Salahnya ialah ia tidak belajar dengan tepat, ‘relawan’ adalah istilah yang paling tepat bukan ‘CSR’.

Jumlah nominal yang dituntutnya juga terlalu tinggi, seratus ribu rupiah per-relawan. Perempuan ini juga menunjukkan banyak bukti kertas yang ditanda tangani oleh orang-orang yang berpartisipasi menyumbangkan dana (asli atau buatan susah untuk ditebak, kertas itu terlalu random). Ia juga menunjukkan bahwa orang-orang yang ikut menyumbangkan dari kalangan mahasiswa, bahkan mahasiswa S2 sekalipun. Dalam pernyataan ini, si perempuan seolah-olah ingin menunjukkan bahwa orang pintar juga bisa ditipunya.

“Untuk sementara ini, Mbak, Saya belum bisa bantu dalam nominal. Kalau berkenan Saya minta kontak hp Mbak untuk nanti Saya sampaikan pada teman-teman yang bekerja di PKSA.” Kataku. Lalu perempuan ini pamit mengundurkan diri dari hadapanku, tanpa ucapan apa pun setelah perbincangan.

Aku sadar jika mereka adalah bagian dari masalah sosial, terutama pada anak. Yang mengherankan bagiku adalah kecerdikan dari orang-orang ini yang memanfaatkan isu-isu menjual seperti ini. Apa lagi dengan caranya banyak mempelajari kemungkinan yang akan dihadapi, caranya ini sangatlah menarik, cuman saja tidak ditaruh pada tempatnya.

Anak jalanan ini telah menyamar, tapi jiwanya tidak mampu ia tutupi dengan baik. Dari kebohongan-kebohongannyalah ia mengharapkan rezeki. Tentu dalam sudut pandang tertentu, perempuan ini tidak salah ia adalah korban dari sistem sosial. Cuman untuk dirinya sendiri ia telah banyak melakukan kesalahan, menipu bukanlah pilihan baik untuk bertahan hidup, meskipun kejujuran tidak selalu mendatangkan keuntungan seinstan kebohongan. Hatiku pilu menonton lakon seperti ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s