“Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” Dalam Sebuah Kontemplasi

unnamed (5)

Dendam telah dituntaskan, setidaknya aku menemukan itu dalam klimaks cerita yang ditulis oleh Eka di novelnya ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’.

Banyak hal yang menjadi renunganku selama menyelami isi cerita si Ajo Kiwir dalam novel ini yang lebih banyak berdialog dengan kemaluannya yang memalukan, dengar, kemaluan laki-laki ini berpuluh-puluh tahun tidak bisa berdiri, apakah itu tidak memalukan?

Di balik vulgarnya isi cerita, aku lebih memilih untuk menilainya dalam sendi-sendi kehidupan daripada hanya merenungkan kenapa bisa kemaluan laki-laki tersebut terlelap begitu lama. Karena sastra tidak pernah bicara sendiri, sastra bagiku selalu memberikan banyak cabang falsafah yang masing-masing dapat kita nilai sendiri. Terserahlah…

Berikut dua buah kontemplasi yang aku simpulkan tidak dengan sendiri, tentu bersama dengan kemaluan Ajo Kiwir yang memalukan itu:

Dalam Kehidupan

Dalam kehidupan, apa sebenarnya yang perlu kita jaga kecuali malu itu sendiri. Banyak orang yang jatuh karena malu, namun tidak sedikit orang yang menjatuhkan karena tidak tahu malu. Maka berdamailah dengan ‘malu’-mu itu, jangan sesekali terbelenggu olehnya. Seperti Ajo Kiwir yang rugi karena kemaluannya, namun sesekali ia pernah beruntung karenanya.

“Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua bagi manusia, sering kali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala. Ini yang ku pelajari dari milikku selama bertahun-tahun.” Begitu pikirnya si Ajo Kawir.

Mungkin kalian dan siapa pun yang membaca ini bisa membenarkan perkataan dari Ajo Kawir di atas. Meski kemaluan yang dimaksud olehnya adalah burungmu itu, tapi Aku berbeda maksudku dengan si Ajo Kawir, kemaluan adalah bentuk amoral lainnya yang sering membuatmu takut untuk melakukan sesuatu hal. Terutama dalam maksud Ajo Kawir mengenai kemaluannya lebih banyak bertindak dari kepala.

Persis ketika Ajo Kawir membunuh Si Macan hanya karena kesal burungnya itu tidak mau bangun dari tidurnya yang berkepanjangan sampai pada titik dia berang sama apa pun yang mengganggu hidupnya, jangan sesekali kamu menantang Ajo Kawir ketika kemaluannya sedang menekur lemas, hanya mati yang akan menjemputmu. Terlebih dalam kehidupan juga banyak orang naik pitam hanya karena masalah kecil, memilih cara brutal untuk menyelesaikan permasalahan hidup, anarkis menjadi tombak kepuasan yang harus diasah terus menerus, lupa kita bahwa malu itu harusnya ada. Pada sisi inilah malu itu harus bangun, keras, dan menonjol sehingga kita mengenal siapa diri kita—kemanusiaan.

Pada Cinta

Isssh, mengenai cinta aku tidak memaksa diri mengaku jika telah menyelami maknanya yang teramat dalam itu. Jika pun aku mengatakan cinta itu adalah Tuhan, cinta itu adalah Ibu, cinta itu adalah Ayah, atau cinta itu adalah Aku maka tak heran jika kalian akan mendalang aksi untuk menyerbu opiniku ini. Maka cinta adalah ketidaktahuan (untuk sementara biar aku beranggapan seperti ini).

Eka dalam “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” banyak membuatku merenung, meski sesekali aku tertawa membaca ceritanya, namun unjung-ujungnya dahi akan mengerut lengkung tanda bahwa ada masalah serius yang harus ekstra diperhatikan. Kali ini Iteung (perempuan pesilat kejam yang mau menikah dengan Ajo Kawir meski kemaluannya tidak bisa berdiri itu) banyak menyiratkan makna cinta dalam kisahnya, bahkan ia telah melakukan pengorbanan yang suaminya (si Ajo Kawir) sendiri tidak pernah lakukan, Iteung telah membayar tuntas sebuah dendam, demi cinta katanya, juga demi rindu. Demi rindu dan cinta itu yang akhirnya membuat Iteung kembali masuk penjara.

Meskipun sesekali Ajo Kawir mengatai istrinya “Goblok!” sungguh itu adalah ketidaktahuan, cinta dalam ketidaktahuan.

Maka pantas jika di akhir cerita dialog antara Ajo Kawir dengan karibnya si Tokek menekankan bahwa semakin banyak kamu mengetahui sesuatu akan semakin banyak persoalan yang harus dihadapi. Jangan biarkan cintamu mengetahui banyak hal, cukup kamu mulai dan akhiri dengan ketidaktahuan supaya cintamu tetap hidup hanya dengan ketidaktahuan itu. Banyak (mencari) tahu hanya akan membuat cintamu digerogoti oleh permasalahan yang belum tentu kamu siap untuk menghadapinya, cukuplah seperti Iteung yang cintanya dimulai setelah perkelahian dan meski dari awal Iteung mengetahui kemaluan suaminya tidak akan pernah bisa bangun, sebelum dendam harus dibayar tuntas. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s