Mencari-cari

Selama kurang lebih dua minggu ke belakang ini Aku sedang mencoba mencari sesuatu yang mneyegarkan alam pikirku, sudah seumur hidup rasanya aku menggenggam kebenaran yang sudah ku peroleh sejak kecil, mulai dari lingkungan sosial, pendidikan, serta dari pengalaman empiris. Kesemuanya terasa begitu membosankan, maka sejak saat itu Aku sedang mencoba melepaskan semuanya, lebih sedikit berinteraksi dengan orang-orang, mengesampingkan kewajiban pendidikan, dan lebih banyak membaca.

Kita yang sekarang ini adalah hasil dari konstruksi sejarah-sejarah, rejim ilmu pengetahuan, rejim wacana-wacana ideologis yang dibentuk melalui ‘negara’, maka tidak ada sebenarnya orang yang hidup dengan caranya sendiri dan kita semua adalah bagian dari produk kekuasaan yang besar di luar hidup kita ini. Maka dari sudut pandang ini aku mencoba ‘menyepi’ dan ‘menepi’ dari sistem-sistem yang sudah lama terbentuk. Dan apa yang ku peroleh dari itu, TIDAK ADA, ketika Aku membuka pintu kamar yang terlihat kembali adalah orang-orang dengan kesibukannya, dengan kebutuhannya, dengan uang-uang yang mereka cari.

Tapi sungguh tidak sia-sia akan usahaku tersebut, setidaknya Aku bisa mengasah sudut pandang, sedikit kesadaran bahwa saat ini kita sedang diperalat oleh rejim-rejim tersebut. Namun Aku tidak membicarakan kebenaran dan kesalahan dari itu, karena itu semua kembali pada sudut pandang masing-masing. Dan setidaknya Aku mengetahui posisiku dalam hidup, ke arah mana nantinya untuk memasuki dunia yang begitu abstrak ini. Pada siapa harus memihak, karena tidak sedikit orang yang mengetahui bahwa dirinya terjerat dan terkungkung oleh sistem yang tidak bagi semua orang bisa hidup sejahtera dengannya.

Misalnya saja pada para petani Kendeng, mereka sebenarnya (dalam sudut pandang tertentu) bagian korban struktur. Perusahaan-perusahaan besar memang prinsipnya adalah untuk akumulasi kapital, maka cara-caranya pun harus sesuai dengan kaidah tersebut. Tahun lalu Aku pernah mengabdi untuk masyarakat Desa Sidorukun di Gresik dalam beberapa minggu bekerja sama dengan Pertamina Hulu Eenergi West Madura Offshore untuk mengkaji kepuasan masyarakat terkait dengan program CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) yang digagas oleh Perusahaan tersebut. Dengan lembaran angket yang sebelumnya sudah diatur oleh perusahaan, Aku mneyampaikan beberapa pertanyaan pada masyarakat setempat mengenai respons mereka terhadap program CSR tersebut, namun karena kenakalanku Aku sedikit mnegabaikan susbtansi dari angket tersebut untuk mencari objektivitas yang lebih dalam ketimbang mencari kepuasan masyarakat mengenai sesuatu yang sifatnya material (seperti isi dari pertanyaan di angket). Aku lebih menggali bagaimana ‘kemanusiannya’ apa sumbangsih yang nyata yang diperoleh dari perusahaan, ternyata menurut kesimpulanku sendiri, tidak ada perubahan yang lebih baik bagi masyarakat selain dari material yang sifatnya kelihatan itu, tapi kemanusiaannya masih bersembunyi entah di mana. Belum lagi minggu depan Aku punya tugas dari salah satu perusahaan migas di Jawa Barat, yaitu melakukan social maping atau membikin profil sosial pada masyarakat di Karawang dan Indramayu. Aku begitu semangat untuk tetap belajar mengenai kemasyarakatan. Di lain hari biar nanti ku tuliskan pengalaman itu di sini.

Dan untuk inilah aku ‘menyepi’ dan ‘menepi’ dari pengetahuan dan empirisme yang sudah lama aku idealkan, untuk menajamkan sudut pandang, untuk mengasah kepekaan dalam memihak, untuk mereka masyarakat yang harus didukung.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s