Caraku Menulis

Bulan yang sangat baik, April. Belum selesai satu pekerjaan datang lagi pekerjaan lainnya, anyway Balitbang dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memintaku bekerja sama untuk menulis beberapa soal-soal skolastik. Ah asyiknya, bagiku menulis apa pun itu merupakan sebuah seni terutama dalam menulis soal-soal, seni dalam tulisan sangat dibutuhkan dan menulis soal tidak semudah mencari jawaban di dalamnya. Pengalaman ini akan sangat menarik, pikirku.

Tentu pekerjaan ini akan menjadi berat karena akan ikut membaur dengan proyek social maping di beberapa kecamatan di Jawa Barat, namun baiknya adalah dua pekerjaan ini tidak lepas dari ‘menulis’, yang satu menulis soal-soal yang satunya lagi menulis laporan profil sosial masyarakat dan keduanya merupakan bentuk dari bantuan, membantu pemerintah, membantu perusahaan, membantu masyarakat maka menulis sebenarnya adalah cara kita membantu orang lain.

Aku kalau sudah memikirkan tentang menulis satu hal yang sangat ku rindukan yaitu kehangatan diskusi yang berlangsung di perpustakaan KCB, di sini di kamar kosku hanya ada buku-buku yang bisa diajak kompromi untuk membahas masalah literasi, tapi di jauh sana di perpustakaan KCB itu ada banyak manusia yang mapan untuk diajak berdialek tentang dunia menulis, sial Aku kangen kalian. Aku masih belum siap untuk pulang, banyak hal yang belum ku pelajari di sini, bekal ilmu rasanya tetap saja kurang untuk dibawa pulang meskipun Aku sudah ada segudang ide untuk dikerjakan di kampung halaman namun masih saja terasa kurang lengkap.

Mengenai kepenulisan Aku belum lagi punya reputasi yang baik, belum pernah mencoba untuk menerbitkan buku sendiri, terlalu sering tulisanku banyak ditolak oleh media masa tapi tidak dengan diam begitu saja sudah tujuh bulan Aku mencoba menulis sebuah novel dan kini sudah masuk bab empat dan sedang dalam proses pengembangan. Dulu ketika di pondok aku punya buku khusus menulis cerpen dan kampretnya buku itu dibuang entah ke mana sama Ibu mungkin pernah disimpan lalu dibuang karena dikira tidak penting. Oh iya, di pondok Aku juga sering menulis surat –cinta– kalau Aku tidak salah ada sekitar tiga puluhan surat pernah ku tulis dan pasti surat-surat itu sudah sirna karena kini si penerima surat telah bersuami. Ya benar menulis memang merupakan kebaikan untuk manusia lain, menulis juga cara lain untuk mencintai orang, ada puluhan file di folder “korespondensi” komputerku semua itu adalah surat-surat cinta dan hingga saat ini Aku masih menjaga tradisi menulis surat cinta untuk perempuan meskipun kini lagi-lagi si penerima surat tidak bisa bertahan malah memilih diri disebut sebagai mantan, miris.

Beberapa hal yang menjadi alasanku menjaga tradisi menulis surat cinta untuk perempuan, seperti yang ku katakan sebelumnya bahwa menulis adalah seni, maka menulis surat cinta pada perempuan adalah seniku dalam mencintai. Banyak hal yang tidak mampu disampaikan dengan baik oleh mesin pesan pada smart phone dan terlalu banyak cinta dan emosi yang mampu disampaikan oleh tulisan dalam surat, percayalah. Dan mereka-mereka yang memilih disebut sebagai mantan tidak pernah mengerti seni cinta dalam tulisan pada surat.

By the way, Aku kangen kalian nih teman-teman Komunitas Baca Mataram :’).

Iklan

2 pemikiran pada “Caraku Menulis

  1. Oh bang Alung ini asli Mataram yang kini merantau di Yogya,kah ? Sepertinya beberapa kali saya pernah lihat namanya di tag2an fb KCB, iya apa enggak ya. Lupa 😀

    Wah itu surat cintanya dibuku yang kebuang sama Ibunya, eman sekali Mas. Kali saja bisa diterbitkan jd buku : kumpulan surat cinta bang Alung
    😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s