Tentang Demo Yang Bertalu-talu

Tentang demo yang bertalu-talu

Tentang sebuah aksi demonstrasi, Aku pernah melakoninya dari mulai aku menikmati hingga jenuh dengannya, pernah ku rasai. Pada akhir tahun 2010 dimulai hanya sebagai penonton demonstrasi yang banyak digelar oleh para aktivis di kampus, hingga pada awal tahun 2011 Akulah seorang kader dari salah satu organisasi mahasiswa di kampusku, yang kebetulan selalu akrab dengan aksi-aksi demo. Pada pertengahan tahun tersebut, aksi demo pertama yang ku tangani, menjadi kordinasi lapangan, memandu para aktivis untuk terjun menyuarakan protes. Saat itu ketika kebijakan Presiden SBY mengenai kenaikan harga BBM yang cukup menggelisahkan banyak masyarakat, Aku beserta para kader lainnya, hingga larut malam melakukan diskusi untuk membentuk sebuah tema aksi demo, segala hal dan keperluan kami siapkan semalaman suntuk demi terselenggaranya aksi, entah apa emang niat kami murni memberikan kritik kepada pemangku yang di atas atau hanya sekedar menunjukkan eksistensi kami sebagai kader, sangat sulit ku simpulkan.

PERTIGAAN PERLAWANAN begitu sebutannya, pertigaan jalan yang ada di depan kampus kami, Jalan Solo itu terkenal dengan sebutan Pertigaan Perlawanan karena hampir setiap tahunnya ada aksi demo yang digelar di sana. Seorang kader senior naik ke podium, sebuah drum minyak lusuh dan karatan itu sejak semalam diposisikan tepat di tengah-tengah pertigaan jalan sebagai tempat orator melontarkan bahsa-bahasa kritik yang cukup tajam dan cukup untuk para penonton supaya bisa melihat siapa yang sedang berorasi. Satu, dua, tiga para orator bergantian naik dan bersuara dan beberapa saat acara terlihat berjalan dengan lancar, barisan polisi terlihat sangat rapi di pojokan sebelah utara jalan. Aksi demo pertama yang kuikuti berjalan lancar. Tiba di hari kedua, seperti biasanya drum lusuh itu masih kokoh berdiri di tengah pertigaan, yang berbeda saat itu adalah beberapa ban bekas mulai berjejer di sebelah drum, tentu sudah ku duga ban-ban bekas tersebut tidak lama lagi akan dibakar, hingga sejauh ini Aku masih belum paham mengapa di setiap aksi ban bekas harus dibakar, apakah api yang menyala dan menjulang cukup tinggi itu menyimbolkan sesuatu, entahlah. Ban telah dibakar, mobil barakuda mulai berdatangan, para orator mulai mengubah bahasa kritiknya menjadi bahasa yang sedikit menyerupai sumpah serapah hingga terdengar terlalu tajam dan semau-mau. Selain para pelaku aksi demo dengan pita kuning yang terikat di lengan kiri, kerumunan terlihat mulai menghawatirkan, kendaraan telah dibatasi sejauh kurang lebih 20 meter dari lokasi. Seseorang dengan kayu yang digenggamnya tiba-tiba memukul salah satu lampu rambu lalu lintas, kerumunan pecah seketika saat rombongan polisi mengejar pelaku, tidak ada pita kuning di lengan kiri pelaku, namun menurut temanku itu adalah setingan aksi, pelaku itu sebetulnya adalah bagian dari kami juga, yang artinya kami menginginkan sebuah aksi anarkis terjadi. Keadaan cukup riuh gemuruh. Aku lari meninggalkan aksi dan semua yang ada padanya, sejak saat itu ku pinta diri berhenti, dari semua itu. Aku mengutuk niat baik yang menjelma menjadi kegiatan anarkis, padahal semalaman kami membicarakan tentang perjuangan, sebuah aksi yang berkepentingan dan berpihak pada yang lemah.

Anatara lima atau enam aksi demonstrasi pernah ku ikuti, namun sejak kejadian itu aku menanggalkan semua, semua yang ada dengannya.

Namun kini, sejak akhir tahun kemarin hingga beberapa minggu belakangan ini ku perhatikan kembali sebuah aksi demo yang bertalu-talu bahkan berjilid-jilid rentetan acaranya. Demonstari yang menyimbolkan Islam dengan seragam putihnya, dengan para habaib sebagai komando lapangan beserta para asatidz dan kelompok-kelompok Islam sebagai aktornya, juga dengan niat baik –lagi– yang disuarakannya. Ku pikir bahwa motifnya tidak berbeda jauh dengan pengalamanku sebelumnya, namun yang satu ini terlihat sangat membosankan, terlalu lama waktunya, yang menjadikannya seperti ada sesuatu yang sedang bersembunyi di balik itu semua, sesuatu yang ada itu bisa jadi adalah kebenaran yang disembunyikan sedangkan yang terlihat dan ditunjukkan seolah-olah seperti kamuflase.

Tentang Habib Rizieq dan Ahok, kita umpamakan saja seperti itu. Serangan pertama ialah perlawanan dari Rizieq terhadap Ahok, menuntut orang yang dilabeli sebagai penista agama itu, si Ahok, untuk segera dipenjarakan karena tindakannya yang dipastikan menista agama. Singkatnya, serang telak itu berhasil mememnangkan angan, Ahok dipenjara dua tahun lamanya. Seperti para pemenang pada umumnya, mereka bergembira karena telah berhasil melucuti lawan, pesta semu terjadi di mana-mana terutama di media sosial. Begitu juga halnya dengan yang kalah, kesedihan adalah santapan pasti, tangis ada di mana-mana. Hingga perlawanan balik harus terjadi, lagi dan lagi aksi demonstrasi harus terjadi, kali ini beribu-ribu lilin menyala di sepanjang jalan di berbagai kota kecil dan besar, nampaknya seperti langit malam kini tergelar di atas tanah, nyala lilin itu menyulitkan pandangan kita untuk melihat siapa di balik cahaya, seperti api, demonstrasi menggebu-gebu, membuatku heran lagi dan lagi, apakah demonstrasi itu serupa dengan arena tinju. Untuk saling salah menyalahkan, serang menyerang, menciptakan pemenang dan pecundang. Niat baik lagi-lagi berubah menjadi sesuatu yang sangat buruk, sangat.

Beberapa hal yang sangat ku takuti saat ini, dengan semua kejadian ini, yaitu anak-anak dari bangsa ini, calon penopang negeri, wajah dan watak masa depan bangsa, yang juga pada suatu saat nanti juga bisa berkata NKRI HARGA MATI sama seperti mereka-mereka yang saat ini dibuat tersenga-sengal oleh politik yang buta akan mana kebenaran mana kepalsuan. Demonstrasi yeng bertalu-talu ini adalah alat politik dari mereka yang menghendaki sesuatu yang kita tidak mengerti. Dengan ketidakmengetian kita mereka menciptakan wacana yang sangat buruk, yang dengan itu secara perlahan bisa mengontrol alam bawah sadar kita terlebih jika alat yang digunakannya adalah agama, maka barang siapa pun, apapun, bagaimanapun bentuk dan jenis agama kalian jika dibisik oleh seseorang bahwa seorang diluar sana menghina agama kalian, menginjak-nginjaknya, sudah barang pasti kalian akan terpongah-pongah mencari senjata, mengahbisi siapa yang menginjak keyakinan, karena ketidaktahuan adalah sudut terlemah manusia. Anak-anak itu sudah harus mengkonsumsi kebencian seperti ini, yang sejak ia kecil kini diperkenalkan dengan golongan mana yang harus dicintai dan mana yang harus dibenci, apakah pantas?.

Iklan

5 pemikiran pada “Tentang Demo Yang Bertalu-talu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s