Mantan dan Jokes Jomblo

Truth or Dare, sebuah permainan “sepanjang masa” sedang berlangsung waktu itu, di malam Minggu. Aku dan sebelas teman-teman sedaerah pergi ke puncak bukit di salah satu kota Jogja, Bukit Bintang. Dengan backgroud lampu-lampu pijar perumahan, pertokoan, penerangan jalan, terlihat begitu elok dari kejauhan di atas bukit itu, mereka menyebutnya seperti bintang dan Aku menyebutnya ladang uang. Keindahan seperti itu mahal harganya, momen yang tepat untuk berkapitalisasi.

Permainan ini begitu menarik, pikirku. Setiap orang mempunyai kesempatan gratis untuk mencurahkan isi hati, membeberkan masalah, serta mencari rahasia setiap orang dengan paksaan absolut, kecuali jika ia berbohong. Sebuah mancis pemantik rokok yang diujung atasnya terdapat besi tempat batu api dijadikan sebagai jarum tunjuk, ke arah siapa pun jarum tunjuk itu mengarah setelah diputar, dialah yang berhak untuk ditanyai. Dialah pemain yang harus memilih jujur jika diberikan pertanyaan. Memilih jujur atau memilih tantangan, di bagian ini kami menghapus opsi tantangan, hanya kejujuran yang dimintai.

Teman kami, seorang laki-laki, mendapat urutan pertama untuk diajukan pertanyaan. Sungguh jenaka, setelah jarum tunjuk tersebut berhenti berputar dan mengarah tepat ke tubuh dia, semua tertawa seolah-olah ada yang menjawil perut kami. Semua kami penasaran, pertanyaan macam apa yang akan kami tujukan. Seorang perempuan, di sebelah pojok melontarkan pertanyaan, “Berapa jumlah mantanmu?.”

Sambil menghitung dengan jari telunjuknya, “Ada sebelas perempuan.” Sahutnya sambil nyengir. Hampir setiap laki-laki yang mendapat giliran untuk ditanya, mendapatkan pertanyaan serupa, berapa jumlah mantan, dan rata-rata menjawab lebih dari tujuh perempuan. Terkecuali Aku sendiri, ketika mendapatkan bagian pertanyaan itu, pertanyaan lain malah menghampiri diriku. Siapa dia yang kalian sebut mantan. Apakah teman SD yang dulu Aku suka dan Aku juga mengetahui ia menyukaiku tapi kami tidak berpacaran dan kini ia menikah dengan orang lain, apakah ia seorang mantan. Atau perempuan Jawa yang sejak empat tahun yang lalu Aku cintai dan kami berpacaran tapi kami memilih untuk berpisah tahun lalu karena perbedaan budaya, apakah ia juga seorang mantan. Lalu apakah ini adalah catatan besar bagi kita, bahwa perempuan-perempuan yang seperti itu sudah layak disebut mantan. Sebelum tahun 2013 Aku sering menulis dan membuat catatan dengan beragam merek bolpoin: Pilot, Snowman, Faber Castel, namun pada akhir tahun 2013 Aku menemukan kenyamanan dalam menulis dan membuat catatan menggunakan sebuah bolpoin yang mereknya: Sarasa. Lalu apakah Pilot, Snowman, dan Faber Castel itu adalah mantan bolpoinku sebelum aku nyaman menggunakan Sarasa. Jika itu adalah sebutan yang tepat bagi istilah mantan, maka kita sudah lama mengobjektifikasi perempuan. Setelah menggunakan Sarasa, sekali pun Aku tidak pernah menyentuh merek bolpoin yang lain kecuali dalam keadaan mendesak. Maka jika mantan yang kita sebut seperti itu, maka pantaslah silaturahmi menjadi hilang.

Ketika Aku mendapat pertnayaan itu, berapa jumlah mantanmu, Aku jawab tidak ada. Tapi jika yang kalian maksud ialah perempuan yang pernah ku ajak menjalin kasih namun akhirnya kandas karena beberapa faktor dan lain hal, maka aku jawab: banyaklah. Bukan masalah serius sih, hanya masalah sudut pandang. Namun bagaimana pun hal tersebut –sudut pandang– banyak memberikan pengaruh bagaimana kita melihat dan memperlakukan dunia. Manusia adalah manusia. barang adalah barang. Seperti yang dikutip oleh Immanuel Kant, jangan melihat realitas yang ada di dunia sebagai sebuah objektifitas … manusia sudah ada maksim-maksimnya sendiri.

Di bagian pertanyaan lain, kembali giliranku yang ditanyai, dengan berupa pertanyaan: berarti sekarang kamu sendiri ya, jomblo ya. Maka dengan lantang dan penuh keyakinan Aku jawab: IYA. Tak lama kemudian mereka terbahak-bahak, malam itu memang sangat jenaka. Lelucon atau jokes jomblo memang sangat laris dan mampu mengundang tawa sejak 2009 hingga sekarang. Sejak Raditya Dika sering melontarkan humor-humor twitnya yang berkenaan dengan status kejombloan orang, jomblo menjadi komoditi humor yang akan tetap laris, entah sampai kapan akan berakhir. Keherananku bangkit kembali, di bagian sebelah mana yang lucu dari jomblo. Apakah karena orang-orang yang sudah berpasangan merasa superior atas mereka yang hidupnya sendirian. Atau apakah orang-orang yang hidupnya sendiri tidak bisa diterima sebagai sebuah kebenaran atas realitas dunia, sehingga itu menjadi lucu. Apakah sebuah prinsip yang berbeda dengan orang lain terlihat begitu diskriminatif. Ini bukan perihal pembelaan karena Aku sendiri adalah seorang jomblo, hanya heran tentang sistem bagaimana kita menebar kasih sayang terhadap sesama: manusia.

Satu lagi yang paling menyakitkan ketika menjadi seorang jomblo. Ketika pertanyaan “kapan menikah” menyerang bertubi-tubi dari beberapa pihak. Payahnya lagi, Aku tak mampu menjawab pertanyaan sediskriminatif seperti itu. Terlihat seperti, jomblo adalah kaum proletar dan yang berpasangan adalah mereka yang borjuis.

Iklan

14 pemikiran pada “Mantan dan Jokes Jomblo

      1. Seseorang bertanya pada temanku, “Kenapa mantanmu banyak sekali.” Dengan santainya temanku itu beranggapan bahwa menjadikan banyak perempuan sbg mantannya bak kompetisi, mencari dan mencari siapa yang lebih tepat. I can’t deal with this way, justifying a girl sprti benda-benda yang enteng untuk dieliminasi.

        Disukai oleh 1 orang

      2. Sebagai kubu perempuan saya juga ga setuju dengan pemikiran ini.

        Kalau saja si mantan-mantanya temannya Mas Alung tahu pemikiran kayak gini, akankah mereka masih mau pacaran ya?

        Disukai oleh 1 orang

    1. Keherananku juga di bagian itu Bang, kok skrg banyak hotel tumbuh di sana, dulu pas terakhir ke sana, 2012, belum lagi ada hotel. Kemarin aku liat 3-4 hotel, bagus sekali, dan tidak lama lagi (sepertinya) pedagang jagung bakar manis akan digantikan oleh pedagang sweet corn, if you know what i mean. 😅

      Disukai oleh 1 orang

  1. Haha jomblo memang sudah jadi komoditi humor. Tapi berhubung saya kurang suka budaya kolektif, saya mlipir saja. Cari yang elit-elit diluar konteks jomblo atau bukan jomblo khi khi 😁 *sok borjuis

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s