Kembali Menulis, Dengan Cara Apa dan Bagaimana

Siang ini Aku membuka situs blog punyaku sendiri, ternyata sudah dua bulan lamanya Aku tidak menulis di blog. Dan ini kampret banget. Waktu yang terlalu lama untuk libur menulis, yang biasanya Aku menulis di setiap akhir pekan. Beberapa hal yang menjadi penghambatku menulis di blog: sibuk mengerjakan tesis, meluangkan waktu bertemu dengan teman-teman yang mana sebentar lagi kami akan betul-betul berpisah untuk waktu yang sangat panjang, membantu orang tua mengatur keuangan toko, dan hal-hal lainnya yang tidak begitu penting. Meski di sela-sela waktu sibuk Aku selalu berpikir, ayolah menulis blog lagi.

Sebetulnya Aku tidak hanya menulis di blog saja, beberapa cerpen lanjutan dari Senja juga sudah lama ku tulis dan masih enggan ku publish, novelku juga yang sudah setahun Aku tulis itu masih bersemayam dan belum tuntas karena masih banyak hal yang harus ku pelajari dalam menulis sebuah novel, juga ada catatan-catatan harian pribadi.

Siang ini, terpikir olehku untuk menulis kembali dengan cara apa dan bagaimana konsep serta konten yang hendak Aku tulis. Mumpung ada banyak waktu luang. Jadi ada beberapa hal yang mau aku pelajari dan membiasakan diri untuk menulis secara konsisten.

Apa yang Ku Tulis?

Kata “apa” bisa menjelma menjadi banyak hal dan bersifat umum. Tapi Aku akan sedikit menyederhanakannya menjadi “apa yang ku tulis adalah keresahan-keresahan yang muncul dari dalam diri”, meski terdengar seperti meniru banyak penulis blog lainnya, namun Aku percaya bahwa setiap orang mempunyai kadar keresahan yang berbeda juga sudut pandang yang lain dan kadang tidak sama, jadi memang tidak salah untuk menjadi peniru asal tidak menjiplak. permasalahan selanjutnya ialah bagaimana Aku melatih keresahan-keresahan tersebut supaya bisa menjadi manfaat bagi banyak orang, dan supaya keresahan tersebut tidak lenyap maka sepantasnya Aku harus menuangkannya menjadi sebuah tulisan. Penting maupun tidaknya menjadi urusan belakang, karena katanya menulis adalah sebuah keberanian. Laki-laki tak boleh menjadi penakut, juga perempuan harus bisa berani. Apa yang ku tulis, akan menjadi sebuah pelajaran bagi diri sendiri juga syukur-syukur jika bisa bermanfaat bagi orang lain.

Apa yang ku tulis, di blogku ini ada beragam kategori yang sudah lama ku buat, ada kategori cerpen yang biasanya ku tulis jika Aku tengah patah hati pun ketika sedang bersedih, percayalah untuk menulis di tengah sedang bersedih itu nikmatnya luar biasa. ada kategori “isu sosial” yang pada bagian ini Aku menulisnya dengan cukup serius dibarengi dengan teori-teori sosial yang masih relevan, ada juga kategori “review buku” yang kadang jika iseng membaca buku menarik selalu ku coba untuk membagi pikiranku sendiri dengan isi buku tersebut, dan selanjutnya “suara kegelisahan” yang di bagian ini biasanya Aku menulisnya dengan suka-suka, keluar begitu saja dari pikiran.

Apa yang ku tulis, merupakan sebuah cara bagiku untuk tetap belajar dan menyimpan ide-ide baik yang tidak boleh terlewatkan begitu saja. Apa yang ku tulis, semoga bisa menjadi sebuah cara untukku melatih keberanian berpendapat.

Bagaimana Aku Menulis?

Nah, di bagian pertanyaan ini yang akan menjadi musuh besar bagiku, bagaimana Aku menulis, apakah bisa menjaga niat belajar untuk terus menulis, dan apakah Aku bisa menulis secara konsisten. Maka dari ini Aku menancapkan niat untuk menulis secara konsisten, setiap hari Aku akan menulis setidaknya satu tulisan penting. Aku akan mencobanya dalam satu minggu ini. Mencoba melawan zona nyaman untuk tidak hanya diam saja.

Mungkin waktu istirahatku sudah cukup.

Beberapa hari yang lalu selepas acara wisudaku yang untuk kedua kalinya dalam waktu 7 tahun lebih belajar di Kota Jogja ini, untuk pertama kalinya Aku mendapatkan sebuah kado yang begitu sangat istimewa isinya. Dua buah buku itu dibalut kertas kado yang nyentrik warnanya diberikan padaku oleh seorang teman, Annisa Alamri namanya. Buku pertama yang berjudul “Sadar Penuh Hadir Utuh” ditulis oleh Adji Silarus, di dalam surat yang ditulis oleh Annisa katanya alasan Aku diberikan buku ini supaya Aku bisa sedikit mengerti mengenai “luka”, god damn it, isi suratnya begitu nyeletuk rasa dipikirnya Aku hanya laki-laki yang terbiasa dengan cucuran luka sana-sini-luar-dalam. Tapi buku yang diberikannya ini cukup bisa menyadarkan kalian akan pentingnya untuk terluka sejenak sambil merangkul diam. Karena teman dari “luka” adalah sebuah “jeda”, jeda untuk bersedih sementara, jeda untuk berpikir lebih dingin, jeda untuk melupakan yang telah berlalu. anyway, terimakasih bukunya.

Buku kedua, adalah Belajar Mudah Bahasa Jerman Untuk Pemula, sekali lagi temanku satu ini sudah cukup jauh mengenalku, Ia tahu Aku berniat hendak melanjutkan sekolah doktor di sebuah negara nun jauh sana, Germany. Suatu saat jika Aku berhasil melanjutkan studi ke jerman, buku ini akan membuatku banyak berhutang padanya. And by the way, katanya buku ini ia beli dengan tabungannya sendiri saat masih SMA karena dulu ia bercita-cita untuk melanjutkan kuliah di Jerman namun gagal karena kini Ia mau menjadi mentri pariwisata, katanya kemarin.

Cukup sampai di sini dulu, Aku hendak mau mencari kegelisahan dulu, di luar sana. Selamat siang, selamat menulis untuk hidup.

 

Iklan

11 pemikiran pada “Kembali Menulis, Dengan Cara Apa dan Bagaimana

  1. Ayo semangat menulis lagi. Mulai dari hal-hal sederhana dulu biar pikiran menjadi terbiasa dulu. Klo sudah lancar dan terbiasa, bolehlah bereksperimen dengan tulisan-tulisannya 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s