Membaca Buku Adalah Kemewahan

Di suatu pagi pada hari minggu kipas angin dalam kamar kosku terasa lebih dingin dari sebelumnya dan Aku adalah tipe orang yang kalau tidur suka telanjang dada, dengan hanya celana pendek saja yang kukenakan ketika tidur. Dingin yang disebabkan oleh angin yang dibawa oleh kipasku tersebut membuatku terpaksa harus bangun meski mata terasa sangat susah untuk dibuka saat itu. Aku terpaksa bangun dong karena gak kuat menahan dingin tersebut. Selimut tipis andalan ku bentangkan langsung supaya menutupi tubuh yang kedinginan. Tidak lama ketika Aku mencoba untuk tidur kembali, sengaja ku cek henpon lalu teringat olehku ada janji untuk jalan bersama seorang perempuan.

Pagi itu sangat kikuk sekali, bangun dalam keadaan kedinginan dan harus mandi dengan air yang juga dingin. Wajah yang setengah sadar itu ku bilas dengan air, lalu memasak segelas air panas untuk segelas kopi pagi menemaniku ngudut dan biasanya sambil membaca buku. Rutinitas yang tidak mau Aku tinggalkan. Aku biasanya menghabiskan setengah jam untuk membaca buku dengan segelas kopi dan dua batang rokok di pagi hari.

Pagi itu bersama novel “Orang Asing” karya Albert Camus, novelnya sangat menarik tidak begitu bertele-tele akan plot ceritanya, dan ternyata untuk setengah jam membacanya tidak cukup bagiku. Waktu terasa semakin cepat berlalu, sebab janji maka Aku harus segera mandi. Novel tersebut ku bawa ke kamar mandi, kebetulan sedang kebelet maka satu batang rokok lagi tak apalah menemaniku membaca di atas kloset. Setengah jam berlalu dalam kamar mandi.

Masuk ke dalam kamar dan melihat pop up pesan watsap muncul di layar henponku. Katanya, “Kamu sedang apa, mengapa begitu lama membaca pesanku.” Ku katakan padanya bahwa tadi Aku di dalam kamar mandi sambil membaca buku. Dan si Mbak membalas, “Kayak gak ada waktu lain saja untuk baca buku.”. Lalu ku tanya balik padanya, memang ia sedang apa sekarang, dijawab olehnya sedang dandan. Baik, jika ia meluangkan waktu yang tidak sedikit untuk dandan, maka tidak salah juga jika Aku meluangkan beberapa waktu untuk membaca, karena Aku tidak butuh untuk dandan. Impaslah.

Karena membaca buku adalah kemewahan, maka gaya hidup yang mewah jugalah membaca buku. Jika setiap orang membutuhkan gaya tertentu untuk terlihat mewah, mengapa kita tidak menjadikan membaca buku sebagai gaya yang mewah. Aku membeli sebuah hand bag satu bulan yang lalu, untuk mempermudah Aku membawa buku ke mana pun dan tidak perlu lagi tas ransel, satu buku muat dalam hand bag-ku dan di dalamnya semua barang berharga sengaja ku taruh: uang, kartu ATM, bolpoin, notes, juga buku tertentu. Dan percayalah, dengan cara ini bisa memaksaku untuk terus membawa buku, ke mana pun.

Kami tiba di salah satu kedai yang kami pilih sebagai tempat nongkrong. Aku memesan secangkir cokelat panas dan kentang rasa berbekiu. Matahari di pagi itu sudah mulai mengangkat diri melewati jendela secara perlahan cahayanya merayap di sela kakiku dan Aku merasakan kehangatan. Dan mumpung si Mbaknya sedang asyik mengusap layar henponnya, novel tadi pagi ku buka kembali. Setengah jam lagi berlalu. Si Mbaknya kemudian protes, apa Aku tidak lelah membaca buku sedang ia saja meskipun mengusap layar henpon juga sambil membaca status-status yang muncul dari beranda sosial media, dan ia mengaku lelah. Membaca banyak berita gosip kematian Oka mantan si Awkarin di henpon juga, katanya ia lelah. Lalu kenapa Aku membaca buku bisa tidak lelah.

Ku jelaskan padanya, bahwa kebiasaan membaca kita saat ini sudah mulai bergeser dari esensi yang ada sebelumnya, jika dulu sebelum kehadiran internet, orang-orang yang suka membaca hanya disediakan dari media-media buku cetak, koran, majalah, dan seterusnya. Dan itu membuat banyak orang bisa fokus untuk membaca bacaan tertentu sampai habis, dan sungguh maha asyiknya membaca bacaan yang kita pilih dengan sendiri. Namun dengan adanya media internet, media sosial, dan sebangsanya, kita dihadapkan pada menjulangnya berita-berita maupun bacaan-bacaan yang sebetulnya kita tidak butuhkan semua dan ketika membuka layar henpon membuat kita terpaksa untuk membacanya. Lelah bukan, untuk membaca bacaan yang kita tidak pilih ataupun yang kita tidak suka. Dan itu hanya sekian faktor kecil yang membuat kita lelah, belum dihitung dampak radiasi cahaya yang muncul dari layar, belum lagi gangguan-gangguan lain yang muncul berbarengan ketika membaca di layar henpon seperti pop up pesan dari mantan, sudah pasti akan melelahkan. Lalu ku sodorkan buku padanya, cobalah kamu membaca buku, jika buku ini kamu tidak suka maka akan ku belikan buka yang kamu suka. Malah si Mbaknya bilang, tidak, dan meminta Aku menemaninya ke warnet untuk nyomotin film drama korea. Mbak, untung saja kamu cantik 😀

Di dalam bilik nomor tiga belas Aku masih tegar duduk menemani wanita ini, memanjakan keinginannya, melihat dia tersenyum karna drama korea sudah bisa buat Aku lega. Lagi-lagi Aku dapatkan waktu untuk membaca novel, setengah jam juga. Aku tertidur dalam bilik. Dikagetkannya Aku dengan memukul bahuku ketika pulas tertidur, dan dia berkata, “Nyatanya Kamu juga capek membaca buku.” Dan Aku menukas, “Aku tidak capek karena membaca buku, tapi…”. Lalu dia memukul manja.

Iklan

6 pemikiran pada “Membaca Buku Adalah Kemewahan

      1. Hehe.. Jelas dong.. Buku nomor satu..
        Seneng lho pas baca trnyata mas itu suka curi2 wktu buat baca, jarang soalnya cowok gitu.. Kwkkwk. Pertahankan 😊😊😁

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s