Gudeg dan Mesin Tik

Aku sebetulnya menjauhi makanan jenis manis, seperti gudeg. Namun semalam Mbaknya tiba-tiba dilanda lapar di jam agak larut dan memaksaku menemaninya makan. Jalan Kaliurang ke Jalan Kusumanegara itu tidak dekat, sekitar 8 kilo. Namun atas nama cinta (tsaaaaah) ku libas saja malam dan anginnya yang rentan.

Mbaknya lebih awal nawar untuk makan di Gudek Pawon, gudeg yang lebih berkelas namun nameless. Gudeg Pawon buka mulai pukul 22.00 tapi di jam 23.44 gudegnya suda habis. Cukup membuktikannya berkelas.

Pokoknya harus makan gudeg malam ini, pinta Mbaknya. Tenang saja selama masih di Jogja kalau hanya untuk mencari gudeg tidak sesulit mencari keadilan di mata hukum yang ngaret. Tidak sesulit mempertemukan Ahok dan Rizieq. Gudeg sangat mudah dijumpai, hanya modal jaket dan keberanian, coba saja telusuri setiap jalan di Jogja tidak perlu berkilo-kilo mengendarai motor, di bibir jalan Jogja akan banyak kita jumpai—gudeg jalanan.

Gudeg jalanan ini ku pikir-pikir cukup bisa merepresentasikan kelas sosial masyarakat jogja yang egaliter. Masyarakat-masyarakat yang terpinggirkan oleh pembangunan. Oleh akumulasi modal. Begitu pun gudeg-gudeg jalanan ini yang di pagi sampai sore hari terpinggirkan oleh warung Nasi Padang Sederhana, KFC, Mekdi, dan jenis ritel lainnya.

Pembangunan di Jogja sebetulnya untuk siapa? Jika sampai masyarakat ‘tetap’ bisa tertakluk, tertinggal, terbelakang, dan tercydhuk maka tidak lain ialah untuk kapital. Pembangunan untuk kapital. Gudeg jalanan pun untuk siapa? Mulai buka di jam yang sangat larut jika bukan untuk mereka-mereka yang terlupakan. Masyarakat Jogja memang egaliter, satu yang tertinggal semua ikut tertinggal kecuali pembangunannya.

Pembangunan di Jogja pikirku, tidak begitu signifikan merubah perilaku masyarakat Jogja justru nemaksa masyarakat dengan kelas sosial rendah mengejar ketertinggalan. Gudeg jalanan yang memulai aktivitasnya di tengah malam juga bak perlawanan kelas, namun oleh kekuatan kapital yang tak sebanding, oleh sistem gudeg jalanan yang tak terorganisir, perlawanan tetaplah perlawanan, akan tiada arti jika pertanyaan “pembangunan untuk siapa” masih belum bisa diluruskan.

Namun lucunya, kalian bisa bayangkan, Aku memesan nasi gudeg tapi gak pake gudeg. Karna gak suka dengan yang manis-manis, kecuali untuk Mbaknya yang manis.

******

Kesenangan lainnya yang ku dapatkan beberapa hari yang lalu, ketika menyusuri keramaian orang di Pasar Kangen Jogja, adalah menemukan penjual mesin tik yang sudah bertahun-tahun Aku cari. Harganya yang sangat murah membuatku tak lama berpikir untuk membopongnya pulang. Senang betul rasanya malam itu. Aku kegirangan tanpa ampun.

Mesin tik ini kini menjadi teman baru untuk menulis. Di malam pertama kami (Aku dengan si Mesin Tik) bercengkrama, kami berhasil menciptakan 5 halaman tulisan yang cukup panjang tentang sebuah kenangan. Sampai ujung jariku terasa begitu sakit, oleh sebab belum terbiasa saja sih, tapi sepertinya perlahan ujung jariku akan menjadi lebih kuat. Karna tidak hanya hati namun jari pun harus kuat untuk menulis.

Aku merasakan sensasi yang berbeda. Zaman yang berbeda. Kesenangan yang juga beda. Sedari awal Aku sudah berniat akan mengarsipkan tulisan-tulisan pribadi yang bersifat rahasia dari mesin tik ini, yang tidak akan ku sebar luaskan, cukup untuk diri sendiri dan keturunanku, kelak.

Karena menulis bagiku adalah pembelajaran hidup yang dilakukan dengan suka cita. Bisa untuk khalayak juga untuk simpanan pribadi.

Iklan

13 pemikiran pada “Gudeg dan Mesin Tik

    1. Mbak Ikha, pernah coba mesen gudeg tapi gak pake gudeg blom? Enak ternyata πŸ˜…

      Iya, mau kembali merasakan gmna menulis pake mesin tik πŸ˜… nikmat yang sedikit menyiksa πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

      Suka

      1. Belum bang. Dan mungkin tidak akan, soalnya saya suka gudeg juga. πŸ˜€

        Nikmat yg sedikit menyiksa… ah semangat Bang Alung. Nanti lama2 mahir πŸ˜€

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s