Ex-Digulist: Malam dan Satu Cerita Kesedihan

Istri baru saja pulang kerja, menghampiriku menyalami tangan dengan kecupan, “Dek, tolong ambilkan Abang buku merah di atas meja itu.” Lalu ia datang dengannya dan secangkir kopi.
“Sini duduk, Abang hendak bercerita tentang buku ini.” Bukannya duduk malah ia rebahkan kepalanya pada pahaku, Aku mengusap ubun-ubunnya dan membuka lembaran pertama buku.

Buku Cerita dari Digul yang disunting langsung oleh Pramoedya, sastrawan unggul sepanjang masa, kisah-kisah di dalamnya ini adalah kebenaran sejarah yang sangat rentan dilupakan. Cerita sejarah biasanya selalu unggul dengan kisah pahlawan dan perjuangan. Sedang kisah-kisah kesedihan dari korban sejarah dianaktirikan.

Digulist, Digulist adalah sebutan bagi orang-orang yang dibuang, disembunyikan, dilenyapkan tanpa memalui proses hukum yang benar. Iya, ini adalah kisah anak asli bangsa Indonesia. Para tahanan politik yang menjadi lawan kemapanan rezim, sebab beda haluan mereka diasingkan. Sekali lagi, diasingkan tanpa proses kemanusiaan, tanpa ketentuan hukum.
Kamp buangan ini bernama Digul, terletak di Papua Barat sana. Jauh dan sangat jauh dari peradaban Jawa, Jawa sebagai tanah populer di masanya, orang-orang hebat banyak berdiri di sini dan Jawa menjadi istana kejahatan penjajah. Maka tidak heran betul jika mau mempelajari sejarah Bangsa ini mulailah dari tanah Jawa, atau mulai dari runtuhnya Diponegoro perang terbesar yang pernah ada di Indonesia.

Malam semakin mendukung, angin lewat dengan tenang dari celah pintu yang terbuka, sesapan demi sesapan kopi dalam cangkir melengkapi obrolanku dengan istri. Sungguh buku ini begitu enak untuk diceritakan pada siapa pun, tentang mereka yang tak dianggap oleh bangsa sendiri tapi masih mau membela hidupnya dan bangsa. Meski sengsara, ingat itu.

Kamp Digul terletak di antara hutan belukar, juga di tengah orang Kayakaya, kelompok primitif suku Papua yang masih demen makan daging, daging manusia lho. Tatanan sosial saat itu memang belum sesistematis yang ada di Jawa atau Eropa sana. Djared Diamond dalam bukunya The World Until Yesterday, menguatkan cerita ini bahwa memang betul saat itu sebagian kecil orang-orang Papua masih berbeda dengan yang disebut sebagai manusia yang maju, manusia modern. Bahkan katanya, mereka (orang Papua) saat melihat Orang Barat (kulit putih) sangat terkejut dan menganggap itu adalah alien.

Tidak ada yang merasa beruntung jika dibuang oleh bangsa sendiri, hanya sebab berbeda haluan politik anak bangsa sendiri harus dibuang, syukur jika masih selamat, lebih banyak yang binasa. Sopankah kita melupakan itu, dan syukur masih ada buku yang menceritakan ini. Katanya, nyamuk-nyamuk yang ada di Digul sebesar kuda, penyakit malaria tidak pernah absen, sekali kencing berwarna hitam maka kematian pasti akan datang. Semua itu yang dihadapi oleh Digulist, kasihan mereka.
Buku ini begitu menarik, istriku memperbaik posisi rebahannya tanda ia nyaman dengan ceritaku. Aku masuk pada cerita Rustam dan, Ex-Digulist.

Satu Cerita Kesedihan

Ex-Digulist, sebutan bagi mereka mantan tahanan politik yang tidak diadili dengan benar. Kita punya cerita dari Rustam dan, mantan tahanan Digul. Satu cerita ini yang Aku pilih untuk disampaikan, meski masih ada empat cerita lagi. Karena tentang kesedihan, satu ini lebih menyayat hati. Siap-siaplah.

Adikku, Cindai!

Lakumu bak pedang menghunus inti jantung milik Rustam. Cindai adalah mahadewi pujaan hati Rustam, cinta semakin menguat setelah janji sebelas hari lagi, setelah habis bulan katanya mereka akan menikah.

Nahasnya, hari kesepuluh Rustam dibekuk dan dilarikan ke Digul. Rustam adalah “Bapa Kommunit jepfol” istilah itu yang melekat pada dirinya dan sebab itu ia dibekuk paksa dan harus rela.

Molek, Cindaiku!

Surat demi surat mengalir dengan teratur untuk Cindai, di dalam masa tahanan dan sebab cinta Rustam selalu menuliskan surat untuk Cindai, si Mahadewi.

Ada janji yang disampaikan oleh penjaga tahanan bahwa Rustam suatu saat bisa dibebaskan dan dipulangkan setelah menerima siksa tentunya. Kulit sudah menguning, air kencing warnanya berubah-ubah, tulang semakin terlihat daging entah ke mana, jika sudah keluar tinggal nasib di tangan Tuhan, orang Kayakaya selalu lapar, artinya keluar dari Digul tidak menjamin hidup, tapi mati harus dihadapi. Cinta, memang selalu begitu, ia menguatkan siapa pun. Rustam pecinta yang baik.

Selamatlah Rustam. Sampailah ia di tanahnya, Pematang Siantar entah di mana itu. Yang pasti Cindai ada di situ, cintanya yang satu.
Prestise, wibawa, nama baik, jiwamu, statusmu, sifatnya tidak tetap karena nilai itu datang dari manusia, dan bisa hilang sebab manusia sendiri. Kepulangan Rustam tanpa penghormatan, bagaimanapun orang tahanan adalah bagi orang-orang jahat. Rustam kehilangan nama baik.

Astaga, Cindaiku!

Benarlah cinta memang tentang dua pihak, manusia dengan tuhan misalnya atau Rustam dengan Cindai. Itu cinta. Cinta tidak menghilangkan Rustam apa adanya, nama baik hanyalah milik orang atas Rustam, tapi cinta milik Cindai untuk Rustam.

Karena cinta dan janji sebelas hari lagi akhirnya mereka menikah, dengan paksa. Cindai adalah bangsawan yang terpandang keluarga sedang Rustam adalah golongan dari orang banyak, yang biasa saja. Sudah jadi orang biasa lalu bekas buangan maka rusaknya semua itu, keluarga Cindai tidak merestui, tapi cinta merestui semua. Mereka nikah lari.

Orang-orang harus kembali pada keluarga, karna ada cinta bermuara di situ. Rustam dan Cindai mengadakan pesta pernikahan, orang tua Cindai menghendaki dan menghadir dengan rahasia yang direncanakannya.

Petaka, Cindaiku!

Sang Bapak datang pada putrinya, menghendaki perpisahan suami-istri.

“Jangan banyak cakap! Engkau mesti dipisahkan, hakku sebagai orang tuamu mengerti?”

“Haramlah jadinya jika Aku bersintuh pada laki-laki lain, jika tidak pada Rustam seorang.”

“Jika benar perkataanmu, apakah suka Aku membunuh diri?” Sanga ayah mencabut pisau belati, “Pisau ini sekejap ini juga cukup membinasakan Aku!”.

Cindai pulang meninggalkan malu untuk sekelompok keluarga milik Rustam. Sampai ketemu lagi di pengadilan hukum, Cindai!

Petaka yang lebih, Cindai!

Minggu berganti, hari persidangan perceraian tiba. Keluarga Cindai menghadiri, keluarga Rustam geram namun tetap hadir, juga saksi-saksi dan sang hakim duduk tertib.

Orang bangsawan, orang biasa saja, merupakan budaya ciptaan manusia yang sangat tidak penting.

Cindai berubah, wajahnya kosong, tatapannya kosong, hatinya entah. Pengadilan harus segera berlalu, biar apa saja yang terjadi setelahnya tetap saja mati akan datang cepat atau lambat. Setidaknya itulah harapan orang-orang yang putus asa.

Berturut-turut hakim melempar pertanyaan pada Cindai, apakah betul mau bercerai, apakah betul tidak ada paksaan dari luar, apakah betul telah tidak cinta lagi.

“Benar.” Cuma satu kata dari setiap jawaban yang dilontarkan Cindai. Hanya kata “Benar” tidak lebih.

Sangat mencurigakan, bukan?

Mati kau, Rustam.
Matilah kamu, Cindai. []

Iklan

4 pemikiran pada “Ex-Digulist: Malam dan Satu Cerita Kesedihan

  1. Duh … mesranya pengantin baru. he he he
    btw, terimakasih sdh menceritakan para digulist ini mas Alung, sy sendiri belum pernah membaca kisah mereka. Tapi kalau di Papua itu daerah malaria pernah saya dengar langsung dari suamiku (alm) yg pernah tinggal di sana. Katanya tak ada orang yang ke papua tidak kena malaria. Itu dulu, gak tahu kalau sekarang ya?

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s