Membalas Surat Kartini

Kartini adalah penulis yang banyak memberikan pencerahan terhadap situasi di era kolonialisme bangsa ini, sehingga apa yang terjadi saat ini tidak sedikit adalah pencerahan dari tulisan-tulisan Kartini di masa Hidia-Belanda.

Pencerahan itu berupa kritik yang tajam mengenai praktik tanampaksa, yang didalangi oleh para penjajah dan campur tangan pribumi feodal, rakyat kita sendiri.

Tanampaksa merupakan praktik penghapusan nilai kemanusiaan, dengan membagi manusia menjadi manusia yang bekerja dan tidak bekerja. Yang dipaksa bekerja adalah rakyat nir-kekuatan dan status sosial, sedangkan yang tidak bekerja adalah para feodal, kelompok ningrat, dan pemegang kuasa—para penjajah.

Cuma di sini, yang bekerja lebih rendah statusnya dibandingkan dengan yang tidak bekerja. Polarisasi ini sangat jelas tujuannya, hendak mengubur nilai demokrasi sejak awal. Kartini mengenal demokrasi dari Barat dan menyadari bahwa demokrasi di Hindia-Belanda sedang sakit.

Dengan mengkritik demokrasi di Hindia-Belanda yang pesakitan inilah Kartini melahirkan embrio kesadaran bagi rakyat pada mulanya, meski belum menjadi kesadaran kolektif. Tapi kritik-kritik tersebut tidak sedikit banyak memberikan pengaruh bagi pribumi. Atau paling tidak bagi dirinya sendiri.

Menulis korespondensi adalah cara Kartini menyampaikan protes terhadap mekanisme penjajahan yang mengeksploitasi pribumi Nusantara. Bobot-bobot surat Kartini hampir seluruhnya adalah gambaran dehumanisasi yang terjadi pada masa Tanampaksa, yakni suatu tindakkan yang melemahkan bangsa pada saat itu. Sistem tanampaksa yang dimotori oleh penjajah yang berkolaborasi dengan kaum feodal pribumi, juga para ningrat. Alatnya adalah prestise.

Tidak sedikit surat-surat yang ditulis oleh Kartini sebetulnya masih relevan untuk kita tanggapi di masa belakangan ini. Hanya saja bentuk penjajahannya tidak sama, kalau di masa dulu disebut dengan tanampaksa, sebetulnya sekarang bisa diganti dengan istilah tanam modal paksa. Perlu diketahui, sebetulnya cikal bakal kapitalisme mulai menjadi wabah saat berkembangnya praktik tanampaksa di Hindia-Belanda.

Kaum ningrat, kaum feodal, para borjuis menjadi alat penjajah dalam membekuk rakyat yang dari golongan kebanyakan orang. Itu dulu, dan sekarang juga masih sama, hanya saja caranya sedikit laten karna tidak banyak orang mau memahaminya.

Dengan itu, Aku memilih sedikit kutipan dari surat Kartini untuk ditanggapi. Dan di bawah ini adalah surat Kartini yang ku balas dengan sederhana saja, tanggapan tersebut juga akan mengakhiri tulisan ini.

Surat Kartini, 12 Januari 1900, kepada Estelle Zeehandelaar (surat ini kutemukan dalam buku ‘Panggil Aku Kartini Saja’, karangan Pramoedya):

Makan hati benar kebanyakan orang Eropa di sini melihat bagaimana orang-orang Jawa, “bawahannya” itu, lambat laun menjadi terpelajar, dan saban kali kalau ada saja si kulit cokelat muncul, yang dapat membuktikan mempunyai otak yang sama baiknya di dalam kepalanya, dan hati yang sama baiknya di dalam dadanya, daripada orang kulit putih.

Silakan, silakan saja, kalian tiada mampu menahan kemajuan zaman … Banyak, banyak di antara mereka yang dapat kami namai sahabat baik kami, tapi juga banyak, sangat banyak, yang menentang sikap kami, tanpa sesuatu alasan, hanya karena kami telah berani-berani mendekati tingkat keterpelajaran mereka. Dengan cara-cara yang menusuk mereka paksa kami rasai permusuhannya. “Aku orang Eropa, kalian Jawa”, atau dengan lain perkataan, “Aku penguasa, kalian yang dikuasai”…

Sangat betul, Nyai. Konteksnya pun sama, bahkan lebih luas lagi. Pendidikan anak bangsa saat ini masih sama jalurnya dengan pendidikan orang-orang Eropa, orang Barat juga Nyai. Kami menyebutnya pendidikan model global, Nyai. Semua cara pendidikan sama rata di dunia.

Tujuannya? Ya untuk kepentingan global, Nyai.
Pendidikan global demi zaman yang kami semua tidak mampu menahannya. Kami bahkan banyak lupa arti terdidik setelah mengecapnya, kami pulang setelah menjadi terdidik kepada kepentingan global.

Apa itu kepentingan global, Nyai? Itu adalah penyeragaman manusia-manusia, kita hendak disatukan menjadi model terdidik yang tunggal satu sama tujuan. Bukankah kalau kami telah diseragamkan, disatukan modelnya, itu artinya tidak ada jalan keluar bagi kami, Nyai. Kami hanya akan berputar di dalam kepentingan global.
Global itu yang berkuasa, Nyai. Dia yang berkuasa, kami yang dikuasai. Dan yang menguasai global hanya satu Nyai, modal. Tidak ada yang bisa berjalan dengan tegap belakangan ini Nyai tanpa modal. Kemanusiaan hanya menjadi alasan kecil untuk kami bertindak.

Ini salah satu contoh bagaimana global bekerja ditengah manusia-manusia, Nyai. Ada penggusuran paksa warga Temon, Kulon Progo, Yogyakarta. Digusur demi kepentingan pembangunan bandara, nama bandara itu NYIA mungkin akronim dari Ngayogyokarto International Airport, mungkin Nyai Saya malas mencari artinya, karena tidak penting.

Mereka yang melakukan praktik pembangunan itu jugalah orang-orang terdidik, Nyai. Terdidik, sekolahnya tinggi, pakai jas, pakai dasi, rapi dan tampak berwibawa. Sedang rakyat yang digusur adalah orang-orang yang tidak mengerti bagaimana pendidikan global berjalan atau mereka mengerti namun tak ada kuasa bagi mereka untuk melawan. Ini kan pelanggaran HAM, Nyai.

Memang betul Nyai, kami tak kuasa menahan perubahan zaman, tak kuasa lagi membela-bela manusia, membela orang-orang pandir. Tapi Nyai, pertanyaanku adalah siapa sebenarnya orang pandir itu, ia yang terdidik atau dari orang jelata. Karena sikapnya tak jauh beda, sama-sama dungu. Lalu buat apa menjadi terdidik, jika tetap dungu, Nyai.

Inilah pekerjaan sistem global, Nyai. Orang-orang terdidik dibuatnya menjadi penjahat bertopeng, topengnya kekuasaan, yang menggerakkannya adalah modal.

Sebabnya, mungkin Nyai mau tahu. Pada salah satu rezim di eranya kami dilarang membaca buku-buku tentang memperjuangkan masyarakat akar rumput, para buruh, perjuangan petani, buku itu warnanya merah, dan Saya takut menyebut judulnya karna di masa kami saat ini, itu disebut sebagai hantu yang mengganggu ketertiban banyak orang, padahal Sebetulnya buku itu mengganggu kepentingan kaum global, dan lebih memihak kaum bawah.

Salam dari era globalisasi, yang diagungkan oleh orang terdidik, Nyai. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s