Pohon dan Imajinasi

Sore itu kawanan semut hitam baris-berbaris memanjat. Rupanya ia mau mengubur salah satu pohonku. Selamatkan aku, mungkin pekik pohon itu ketika Aku yang baru saja mau keluar rumah namun langsung mengurungkan niat, untuk segera ambil sikap.

Ia adalah pohon manggisku yang paling rewel dibandingkan pohon lainnya. Tumbuh-kembangnya yang lambat, juga produksi sampahnya yang paling besar diantara kawanannya. Cukup rewel bagiku.

Perawakannya kecil, lebih kecil dari lenganku. Dulu ia tak sehijau ini, hampir layu dan mati. Bahkan Aku sempat acuh, hampir menyerah untuk membantunya tumbuh.

Dua tahun silam, Aku beli pohon ini di dagang jalanan. Dua buah pohon manggis, besar dan bobotnya sama. Tapi yang satu ini lebih lambat, hingga pasangannya jauh melampui kesuburannya. Padahal Aku, di masa perawatan pohon-pohon itu tak pernah pilih kasih.

Semenjak ia betul-betul terlihat sekarat, Aku mulai berupaya untuk merawatnya dengan serius. Ranting-rantingnya yang mulai rapuh ku tebang sampai setinggi pinggang. Entah mengapa Aku berpikir, jangan-jangan nutrisi dari akarnya terhambat oleh ranting yang mati.

Hampir saban hari, setiap waktu subuh dan menjelang magrib ku siramin ia.

Dua bulan berjalan, daun-daun baru mulai tumbuh diujung, segar dan membahagiakan.
Terhadap pohon pun kita tak boleh berburuk sangka, ini yang ku pelajari. Orang-orang terhadap yang lainnya jika berburuk sangka, maka diperolehnya adalah hasil pikirannya. Buruk pikirannya, buruk yang didapatnya.

Percayalah, Aku bersama pohon-pohonku sering berbicara. Bicara yang tidak sama dengan berbicara ke manusia, lebih mirip dengan dari hati ke hati. Ini dia imajinasi yang Aku bangun sendiri dengan alam. Tadabbur dengan pohon (alam) itu sangat penting. Ada tauhid di situ, ada ahlaqul karimah, ada ibadah, dan masih banyak lagi ayat-ayat Allah.

Bisakah manusia adil di dunia ini tanpa melibatkan alam. Inilah sebabnya mengapa alam selalu dilabel dengan hal negatif—bencana. Disebut oleh banyak orang sebagai bencana alam, jangan-jangan sebetulnya itu adalah bencana mamusia.

Sebab alam jika kita posisikan di dalam perenungan sanubari, betapa ia mungkin saja satu-satunya ciptaan yang paling sedikit menuntut. Lebih sering diam, tapi banyak memberi. Hanya saja kita jarang ada waktu duduk bersama dengan alam dan berkomunikasi. Dari hati ke hati.

Sore tadi ia menyapa, ia berterima kasih padaku. Ia menjanjikan Aku buahnya, sebagai balas kasih. Sejenak Aku terdiam, lalu perlahan simpul senyum yang kecil tampil di wajahku. Seandainya banyak manusia yang berpikir bahwa betapa adilnya alam ini terhadap diri manusia. Lalu mengapa kita sukar untuk adil terhadapnya. []

Iklan

Satu pemikiran pada “Pohon dan Imajinasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s